Bule Australia Masih Takut ke Aceh

Seorang bocah perempuan di Australia, menonton dengan khidmat penampilan kebudayaan yang dimainkan oleh Zulfadhli Kawom (kedua, di baris belakang) berkolaborasi dengan Bink Vho Band Lhokseumawe. Foto: ist

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe- Aktivis kebudayaan Aceh, yang juga penggemar berat rapai pasee. Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Malikussaleh, Zulfadhli Kawon, bersama Bink Vho Band Lhokseumawe, diundang ke acara Indonesia Festival di Elizabeth Quay, Espalanade, City of Pert, Australia. Festival itu diikuti seluruh Provinsi di Indonesia.

Di sana, ia menemukan fakta lain. Masih banyak orang yang beranggapan bila Aceh belum aman.

Zulfadhli, kepada aceHTrend, Sabtu (4/1/2020) mengatakan di festival tersebut pihaknya menampilkan kesenian ratoh jaroe, rapai grimpheng, debus dan lagu etnik.

Lelaki yang pernah berkhidmat di LSM Jingki Institut dan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Pasee, mengatakan selama tampil di negeri kangguru, penampilan tim dari Pasee menarik perhatian warga kulit putih di sana.

“Kami sudah tampil beberapa kali. Alhamdulillah mampu menarik perhatian warga Australia,” ujar Zulfadhli yang juga pendiri Sanggar Meurah Silu, Unimal.

Zulfadli Kawom menyebutkan Bink Vho Band Kota Lhokseumawe dengan beranggota 9 orang itu tampil di Australia, atas undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Pert, Australia. Mereka berada di Australia sejak November 2019 hingga akhir Januari 2020.

Pun sudah mewakili Indonesia, tapi perhatian pemerintah sepertinya tidak ada sama sekali kepada Zulfadhli dan kawan-kawan. selama di Australia semua biaya hidup dan transport, bersumber dari poket pribadi.

Untung saja, selama di Australia, Bink Vho dan Zulfadhli dibantu oleh Sanggar Indonesia Community di Australia. Sanggar tersebut juga sering mengajak Zulfadhli dkk manggung bersama.

Bule Australia Takut ke Aceh

Ada catatan miris yang didapat Zulfadhli selama manggung di Australia. Bahwa dari serangkaian diskusi dan bicara ringan, ternyata warga Australia tidak berani ke Aceh. Kala menyebut pariwisata Indonesia, semuanya menjawab nyaman ke Bali.

“Padahal jarak Aceh dan Australia tidaklah begitu jauh. Hanya enam jam perjalanan udara. Ketika saya sebut Sabang sebagai entitas pariwisata Aceh, mereka mengaku belum berani ke sana. Mereka takut. Bule-bule itu lebih memilih ke Bali,” ujar Zulfadhli.

Ini menjadi tantangan besar Pemerintah Aceh. Masih banyak di luar sana yang menganggap Aceh masih mengalami konflik bersenjata. []

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK