Edaran

Oleh Bung Alkaf

Setiap shalat Jumat, selalu ada pengumuman untuk mengedarkan kotak amal. Lalu jamaah menyorong kotak itu dari satu orang ke orang lain. Kotak amal diedarkan. Berapa nominal yang dimasukkan ke dalam kotak itu, hanya takmir mesjid yang tahu, setelah terlebih dahulu menghitungnya. Jumlah nominal itu diumumkan Jumat depannya. Selalu saja demikian.

Kotak amal yang diedarkan adalah ajakan untuk memberi sumbangan. Semampunya. Kalaupun tidak ada yang memberi, MC yang sebelumnya memberi pengumuman tidak akan marah-marah di microphone mesjid. Takmir pun tidak akan memaksa, apalagi mengancam, lebih-lebih menghukum. Namanya saja edaran. Dapat syukur, tidak dapat juga, tidak mengapa.


Belakangan, kita sering silap menempatkan sesuatu pada posisi seharusnya. Hal yang semestinya harus dikerjakan, kalau tidak dilakukan akan kena pasal, malah kita coba akali. Misalnya, cara kita berkendara sepeda motor. Sudah jelas, diberi tahu, bahwa harus lengkap surat kendaraannya. Tapi masih juga bandel. Dan selalu mencari dalih acapkali terkena razia oleh kepolisian.

Namun pada perkara yang bersifat “edaran,” kita malah sering ngamukan. Bahkan sampai memasang kuda-kuda segala. Seakan-akan siap berperang. Hal yang sebenarnya berasal dari sumber yang biasa-biasa saja. Celakanya, sesuatu hal yang tidak akan kena pasal apabila ditinggalkan, malah diperlakukan layaknya Kanon penting dalam sejarah umat manusia. Akhirnya, cara kita menjadi manusia tidak santai. Selalu saja dibawa tegang dan angker. Padahal hidup tidak melulu harus demikian.

Edaran harus diperlakukan seperti tamsilan kotak amal yang diminta diedarkan oleh MC shalat Jumat. Diminta dengan lembut, penuh penyoman, suara direndahkan, kotak amalnya pun bersih. Juga tidak terlihat takmir datang dengan mata mendelik. Mengawasi siapa saja yang memberi sumbangan dan yang tidak. Semuanya dibuat adem dan tenteram.

Apabila tamsilan itu dipraktikkan, dengan begitu, ruang harmoni, dialektik akan terwujud, apapun isi dari edarannya. Entah itu edaran makan sehat, edaran olahraga, edaran imuniasi, edaran untuk datang ke acara kampung atau edaran kenduri.

Lalu yang lebih penting, pihak yang mengeluarkan edaran harus juga bertanggung jawab. Kalau-kalau edarannya itu dimaknai lain dengan yang dimaksud oleh penulis edaran. Jangan sudah membuat edaran lalu abai akan akibatnya. Atau, jangan pula, pembuat edaran memberi tafsir, lebih tepatnya, problem hermenetik, “setiap teks yang sudah disampaikan oleh author, maka teks itu bebas ditafsir oleh pembaca. Pemilik teks telah mati!”

Pemilik teks, yaitu pemilik edaran yang sudah diedarkan itu, harus memberi penjelasan panjang lebar. Ini penting, agar pembaca teks tidak kelimpungan untuk memaknai kata demi kata. Pemilik teks harus memberi tahu aturan main, terutama mengenai apa sifat dan kedudukan edaran itu. Bila tidak, akan menjadi satu teks edaran yang diberi berbagai makna. Ujungnya, bisa runyam!