Menaklukkan Aceh Dengan Candu Sabu-sabu

Ilustrasi

Oleh Tibrani

Bu leukat atau sering juga ditulis buleukat merupakan makanan khas Aceh yang terbuat dari ketan yang sudah dikukus. Makanan ini memiliki fungsi tersendiri dalam budaya masyarakat Tanah Rencong. Setiap upacara adat yang diselenggarakan di Aceh sajian menu buleukat selalu ada. Cita rasa buleukat memiliki keunikan serta daya candu yang tinggi, semakin dimakan semakin ketagihan untuk disantap, bahkan sekali tidak dimakan tidak enak badan.

Nilai-nilai falsafah buleukat ternyata dimanifestasikan dalam berbagai ragam peristiwa konflik di Aceh, dimulai dari Perang Cumbok yang berlokasi di Pidie, antara Kelompok Ulee Balang (Bangsawan) melawan Kelompok Persatuan Ulama Aceh (PUSA) –ulama modernis pro Indonesia, yang dipimpin oleh Tgk Daud Beureueh. Efek dari perang menyebabkan banyak kalangan bangsawan melarikan diri keluar Aceh, serta meninggalkan luka yang mendalam bagi rakyat Aceh. Perang Cumbok sendiri dimenangi oleh PUSA setelah pimpinan Ulee Balang Teuku Daud Cumbok ditangkap, kemudian dihukum mati.

Setelah Perang Cumbok selesai situasi Aceh relatif damai selama tujuh tahun, namun genderang perang kembali ditabuh karena sikap Pemerintah Pusat yang meleburkan Provinsi Aceh ke wilayah Sumatera Utara, Ketika itu Tgk Daud Beureueh yang notabene sebagai pimpinan perang revolusi sosial melawan Ulee Balang sekaligus pendukung setia kemerdekaan Republik Indonesia, justru melakukan pemberontakan DII/TII melawan Pemerintah Indonesia. Perang berlangsung selama sembilan tahun, malapetaka berdarah berakhir setelah Aceh mendapatkan status Provinsi kembali disertai dengan berbagai keistimewaan.

Kecamuk perang kembali menghantam Serambi Mekkah, setelah Tgk Hasan Tiro memproklamirkan pendirian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976. Genderang perlawanan GAM terhadap Pemerintah Pusat terjadi di masa kepimpinan rezim Soeharto yang terkenal diktator. Perlawanan frontal menuntut kemerdekaan Aceh berlangsung selama tiga puluh tahun, diakhiri dengan sebuah nota kesepahaman bersama (Memorandum of Understanding) atau lebih dikenal dengan MoU Helsinki.

Gurihnya buleukat ternyata diimplementasikan wadahnya dalam semangat untuk berperang, baik itu dengan sesama orang Aceh, atau dengan Pemerintah Pusat. Masyarakat Aceh kalau sudah berperang memang seperti bulukat semakin diperangi semakin keras perlawanan, sehingga penulis tidak salah menyebutnya dengan istilah Ureung Aceh memang “Pungo Meuprang” (gila Berperang).

Transformasi Meuprang ke Sabee

Fenomena pungo sabee (sabu-sabu) merupakan masalah baru dalam kultur sosial masyarakat Aceh. Jika sebelum masyarakat Aceh pungo meuprang, maka dalam satu dekade terakhir telah bertransformasi menjadi pungo sabee.
Hal ini sesuai dengan fakta data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pengguna penggunana narkoba mencapai angka 73.000 jiwa, sebagian besar korban barang haram tersebut merupakan kaum muda di Aceh. Angka pengguna narkoba di Aceh menempati posisi pada urutan ke -12 secara nasional sebagai provinsi terbanyak penyalahgunaan narkotika. (Muhajir, Aceh Trend 02/12/2019).

Sabee di Aceh telah menjadi anonimitas “mazhab” baru tanpa guru, satu risalah tanpa imam. Namun, kita menyaksikan begitu banyak orang menjadi korban keganasan sabee.

Para aktor melakoni bisnis sabu, bukanlah bangsa lain yang datang dari pulau seberang, akan tetapi berasal dari sesama orang Aceh, mereka tidak sadar akan perbuatannya dapat mengakibatkan kerusakan sel saraf akal sehat generasi muda.

Malapetaka yang ditimbulkan sangatlah dasyat lebih dasyat daripada artileri bedil Kalashnikof, timah panas tanpa mesiu, sabee dapat menelan korban siapa saja tanpa terkecuali.

Dapat dibayangkan bagaimana wajah generasi Aceh ke depan jika terus-menerus dilamun “pungo sabee”. Tentu saja pola perusakan generasi sabee di Aceh dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Namun ironi, para pelaku penyuplai sabee dilakukan oleh orang Aceh itu sendiri.

Oleh karena itu perlu perlu ada kesadaran semua pihak mengenai bahaya sabu-sabu, semua stakeholder pemangku kepentingan harus dilibatkan untuk pencegahan dan pemberantasan barang haram jadah tersebut.

Gerakan merusak generasi Aceh menurut hemat penulis telah dirancang dalam bentuk wadah serangan proxi war. Strategi ini pernah dilakukan oleh Inggris saat berperang dengan Tiongkok. Taktik perang candu mampu melumpuhkan Tiongkok, ditandai dengan diserahkannya Pulau Hongkong Kepada Pemerintah Kolonial Inggris.
Berkaca dengan strategi Inggris merebut Pulau Hongkong dari China, bisa tidak menutup kemungkinan taktik yang sama sedang dijalankan di Aceh, penulis berani menyimpulkan, karena letak geo politik Aceh yang menjadi jalur lintas Selat Malaka dan dan Gerbang lintasan Utama Samudera Hindia. Sehingga secara geografis Aceh dilirik oleh dunia. Belum lagi kekayaan bumi Aceh yang mengandung banyak energi mineral, seperti, gas, minyak, emas, tembaga dan lain sebagainya.

Imprealisme modern nampaknya sedang di jalankan oleh para suksesor asing pemangku kepentingan di Aceh, metode pengiriman bubuk mesiu sabee menjadi solusi alternatif untuk melemahkan generasi Aceh, di saat anak-anak muda Aceh dihantam mabok sabee, pada saat itulah Aceh akan ditaklukan, hasil alam dirampok, ureung kabeuh pungo (orang Aceh sudah pada gila). Semoga hal tidak terjadi. Wassalam.

Kabid Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK