Langkah Kemenag Mencegah Radikalisme

Oleh Mukhsinuddin, S.Ag,M.M

Setiap awal Januari Kementerian Agama Republik Indonesia memperingati Hari Amal Bhakti (HAB), yaitu sebagai hari lahirnya Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam Keberadaan dibentuknya Kementerian Agama RI adalah momentum bersejarah yang menunjukan tentang NKRI sebagai negara religilius yang nasionalis. Kementerian Agama RI menjadi simbol moderasi dan garda terdepan dalam penjagaan harmoni antara agama dan negara, antara keislaman dan keindonesiaan.

Namun saat ini, Kementerian Agama RI menghadapi tantangan dinamika sosial, budaya, dan keagamaan yang tidak ringan. Salah satunya adalah adanya muncul konservatisme keberagamaan. Dengan adanya Kelompok-kelompok secara sistematis berusaha untuk membenturkan Islam dan keindonesiaan.

Konsep dalam “moderasi beragama” yang dipraktikkan oleh Bangsa Indonesia dengan segudang kekhasannya dapat dijadikan media soft diplomacy di tataran dunia. Jika kita lihat banyak negara dengan mayoritas berpenduduk muslim menghadapi kendala serius dalam mengelola keragaman warganya. Mereka rata-rata tidak bisa terbina ukhwah dan persatuan dalam mendialogkan antara urusan negara dengan agama. Sementara Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim dengan jumlah terbesar di dunia telah berhasil tegak berdiri melalui bangunan nation-state yang dipayungi Pancasila dan UUD tahun 1945. Konsep Moderasi beragama yang dimotori oleh Kementerian Agama RI telah mendapat respon yang positif dari banyak kalangan. Mereka melihat bahwa konsep moderasi beragama dibutuhkan oleh bangsa ini dan bahkan oleh bangsa-bangsa di dunia.

Kontra radikalisme atau deradikalisasi merupakan salah satu tujuan dilaksanakan moderasi beragama yang lebih bersifat pencegahan dari pada penindakan. Moderasi beragama bagi yang sudah terpapar juga sebagai upaya penyembuhan dari virus radikalisme yang sudah tertanam dalam fikiran korban yang terpapar. Perlu banyak pihak yang harus aktif berpartisipasi dalam program ini terutama karena menjadi alasan utama pada Kementerian Agama RI. Sebagai wujud tegaknya kehidupan antar umat beragama di Indonesia.

Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai representasi Pemerintah harus melakukan kajian dan pendekatan persuasif serta secara dialogis dalam menangkal paham Konservatisme keberagamaan yang bisa memecah belah integrasi bangsa. Kementerian Agama terus melakukan langkah-langkah edukatif bagaimana secara efektif mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan secara baik dan penuh bijaksana. Bila hal itu tidak terintegrasinya keislaman dan keindonesiaan akan berakibat pada masyarakat kita akan terbelah serta berakibat pada seseorang dan kelompok tertentu menistakan demokrasi keindonesiaan.

Kementerian Agama mempunyai peran strategis karena di antara peran dan fungsinya adalah pendidikan dan bimbingan masyarakat. Kementerian Agama ini mengelola pendidikan keagamaan sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Dan juga Kementerian Agama hadir di tengah masyarakat melalui lewat penyuluh-penyuluh agama di seluruh Nusantara ini.

Menteri Agama RI dalam sebuah paparannya menyebut bahwa Kementerian Agama RI (Kemenag) punya cara pandang sendiri dalam mencegah radikalisme. Kemenag telah memiliki kurikulum yang terprogram dengan baik untuk dilaksanakan. Lalu adanya penyuluhan-penyuluhan dari jajaran Kementerian Agama RI di seluruh Indonesia. Serta kemudian memberikan peringatan-peringatan secara preventif. Kemudian menurut Menteri Agama langkah ini adalah bentuk sosialisasi dari Kementerian Agama pada pihak-pihak yang diduga terpapar paham yang menyimpang. Tugas dan fungsi Kementerian Agama RI adalah Kementerian yang memberikan kehidupan beragama secara aman dan tentram.

Menteri Agama RI juga menjelaskan pihaknya juga bekerja sama dengan penegak hukum jika radikalisme telah memuat unsur kebencian. Para pelaku yang penyebar radikalisme ditangani oleh aparat hukum. Akan tetapi Kemenag selalu mendorong toleransi antar umat beragama pada seluruh jajaran Kementerian Agama RI untuk dilakukan dengan cara mengutamakan dialog dan musyawarah jika terjadi penolakan itu di masyarakat yang terkait dengan agama.

Tepat sekali pada Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI tahun 2020 ini dengan tema “Umat Rukun Indonesia Maju”. Kerukunan dan kedamaian secara metaforis bisa bermakna mendamaikan spirit keislaman dan keindonesiaan sebagaimana disinggung di atas. Pendidikan keagamaan (formal dan nonformal) yang dikelola oleh Kementerian Republik Indonesia diharapkan bisa melahirkan kesadaran individu yang otonom, yang bisa mendialogkan dan menerjemahkan normativitas agama dalam realitas empirik. Dalam konteks demokrasi keindonesiaan misalnya, bagaimana memberikan tafsir kontekstual terhadap konsep kedaulatan (Al-hakimiyah), bagaimana membangun kompetibilitas antara pesan normatif tentang keadilan, syura, ukhuwwah, ahlal-hall waal-‘aqd dengan isu demokrasi keindonesiaan.

Pesan Hari Amal Bakti (HAB) tahun 2020 adalah Kementerian Agama RI bagaimana mengajak penggalangan persatuan dan kesatuan serta kerukunan umat menuju Indonesia maju, maka yang diinginkan oleh masyarakat bagi negeri ini adalah keadilan sebagai nilai universal agama, bukan formalisasi negara dan agama yang mengancam kesatuan keindonesiaan.

Dengan momentum HAB Kementerian Agama RI yang ke-74 ini, kita berharap Kementerian Agama semakin meneguhkan eksistensinya sebagai perekat keislaman dan keindonesiaan sembari terus melakukan revitalisasi peran dan fungsinya untuk Indonesia yang lebih baik sebagai rumah kita bersama.

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dan Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama RI pada STAIN Meulaboh, Aceh.
muhmuhsin@gmail.com