Lidah

Muhajir Juli.

Oleh Muhajir Juli

Dalam sehari, berapa kali kita berbohong? Ataukah sejak bangun pagi hingga kembali ke paraduan, kita terus -menerus berbohong? Tidak ada manusia yang tidak berbohong. Hanya saja, kadar saja yang berbeda-beda. Itu sangat tergantung pada misi dan kadar kepentingan. Minimal, kita berbohong untuk membuat hati orang lain senang. Kebohongan yang demikian, merupakan bohong hasanah, sifatnya menghibur.

Dua hari lalu saya dan keluarga berkunjung ke sebuah objek wisata pantai. Suasana pantainya asyik. Secara umum pedagang dan warga di sana juga asyik. Sudah biasa bila harga kudapan di tempat wisata sedikit lebih mahal.

Tapi ada yang mengganjal. Ketika saya memesan ikan panggang. Saat tiba pada sebuah gubuk milik seorang pedagang yang sudah berusia tua, ia memperlihatkan dua ekor rambeu yang sepertinya sudah berhari-hari di dalam freezer. Sudah membeku. Teksturnya sudah sangat keras. Harga per kilo 180.000 Rupiah. Katanya, ikan panggang di tempatnya sangat laris. Juga, ikan yang ditunjukkan kepada kami, diakuinya adalah ikan segar yang dibeli 7 jam sebelumnya.

Dengan senyum teramat manis, saya menggeleng. Dia tetap ngotot bahwa ikan rambeu itu masih segar dan itu sisa ikan yang sejak pagi sangat ramai dipesan oleh pengunjung objek wisata. Dengan muka masam, ia seakan-akan mengintimdasi saya agar segera sepakat dengan keterangannya.

“Saya menetap di tepi laut. Saya juga sering membeli ikan seperti ini. Ikan ini tidak lagi segar,” kata saya sembari balik badan. Perempuan itu masih tetap memaksa. Tapi saya tidak ambil peduli. Dia tidak jujur dalam dua hal, pertama harga per kilo yang fantastis. 180.000 Rupiah. Kedua, ikan itu tidak lagi segar. Ikan yang mungkin telah berhari-hari tidak laku. Siapa yang mau membeli ikan dengan harga seperti itu dengan kondisi demikian? Mungkin sekelas gubernur pun akan menggeleng. Bila pun ada yang berkenan membeli, bisa jadi hanya bule yang gagal membandingkan harga kurs Rupiah dan Dollar.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, kami memesan mie instan yang dicampur telur ceplok. Kami memesan mie di kedai lain.

***
Di atas mimbar mesjid, di atas mimbar gereja, di atas mimbar-mimbar lainnya, banyak orang menyampaikan sesuatu yang keliru. Mereka leluasa mengatakan apapun sesuka hati, karena ada garansi. Siapa yang akan berani menurunkan penceramah di atas mimbar? Bila nekat, akan ada massa yang akan membuat si tukang protes pulang ke rumah dalam kondisi babak belur. Bahkan bisa jadi akan pulang sebagai jenazah.

Pilpres 2019 merupakan contoh paling nyata. Bandit-bandit berjubah agama, leluasa menyebar kebohongan dan kebencian. Mulut-mulut kotor yang gemar mengutip ayat suci, dipercaya melebihi keyakinan audiens kepada nabi sekalipun.

Lidah manusia kerapkali selalu melakukan paradoks dalam kehidupan. Manusia yang kerap keli membawa-bawa nama Tuhan di dalam berbagai aktivitasnya, sering melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran nabi.

Contohnya sudah terlalu banyak. Tahun lalu, di Lhokseumawe seorang penceramah kondang, ditangkap karena dilaporkan merudal dubur santri lelaki. Padahal di dalam ceramahnya ia kerapkali mengangkat tema tentang LGBT. Dua tahun sebelumnya, seorang pengasuh pondok pengajian di Aceh Utara, ditangkap karena mengonsumsi ganja dan meniduri santriwati, berkali-kali. Dua kasus itu di antara banyak kasus lain, yang menunjukkan, banyak orang, sekalipun memakai jubah taqwa dan mulutnya selalu membaca ayat-ayat Tuhan, kerapkali merupakan setan yang dianggap suci oleh audiensnya.

Ini belum lagi dengan perilaku politikus yang di depan forum selalu bicara antikorupsi, perlindungan perempuan dan anak serta pro lingkungan hidup. Di sisi gelapnya yang belum saya tulis, mereka memiliki perilaku buruk. Korup, menikah di mana saja dan kemudian menelantarkan anak dan istri, serta memiliki kebun yang luas di daerah lindung.

Seorang teman pernah berkata. Orang-orang yang tidak mendapatkan nur Muhammad, tidak mengenal hakikat Allah sebagai Tuhan, bilapun memiliki ilmu, bisa diumpamakan seperti setan yang cerdas tapi menolak perintah sujud kepada Adam. Hati orang-orang yang alim, tapi tidak memiliki nilai taqwa, adalah hati yang sangat dicintai oleh iblis. Melalui lidah-lidah merekalah, talbis iblis diselenggarakan.

Sedangkan politikus busuk, sejak era sebelum Muawiyah, sudah menjadi karibnya iblis. Hanya saja mereka pintar menipu mata rakyat yang fanatik pada simbul. []

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK