Medan [Magnet] Aceh

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Khulafaur Rasyidin Kelima Umar bin Abdul Aziz, dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin muslim [terakhir] yang paling jujur dalam memerintah. Ia bukan saja memiliki kedermawanan yang luar biasa, tapi juga qanaah serta penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Berasal dari keluarga kaya raya dan sempat hidup dalam gelimang harta yang melimpah, Umar bin Abdul Aziz, merupakan pemimpin yang menempuh jalan sunyi. Pengalaman buruknya ketika memercayakan informasi disampaikan oleh hijir, adalah penyebabnya.

Sebelum memutuskan turun sendiri ke tengah-tengah rakyat, dengan cara menyamar, Umar mengandalkan hijir-hijirnya sebagai penyampai informasi. Hingga akhirnya ia menemukan bahwa apa yang disampaikan oleh hijir, 180 derajat berbeda dengan kenyataan.

Umar pun menyadari, bahwa banyak orang di lingkar kekuasaan yang ia miliki, tidaklah memiliki semangat yang sama dengan dirinya. Mereka punya tujuan masing-masing. Oleh tujuannya itu, bukan hanya memanfaatkan situasi, tapi juga menipu khalifah.

“Sebaik-baiknya pemimpin, ialah ia yang tidak mengandalkan pembisik [penasihat] sebagai sumber informasi. Karena para pembisik kerap kali berupa rubah yang bersembunyi di balik bulu ayam. terlihat melayani, tapi sesungguhnya menjerumuskan,” kata seorang penceramah. Pesan yang sama kerap kali saya dengar di berbagai majelis ilmu. Juga di buku-buku yang membahas tentang teladan kepemimpinan.

***

Dua hari lalu Aceh menjadi heboh. Penyebabnya karena medan magnet di Bukit Radar, Gampong Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Informasi tersebut memengaruhi Bupati Aceh Besar Mawardi Ali hingga ia turut percaya. Ia pun bergegas ke sana dan menyaksikan sendiri. Sialnya, di antara semua rombongan, tidak seorang pun yang memiliki pengetahuan tentang pseudo elevasi. Ilusi optik yang timbul karena tertipunya pandangan mata akibat dipengaruhi oleh visualisasi yang terbatas.

Orang Aceh sempat beberapa saat bangga. Bahwa telah ditemukannya jabal magnet yang serupa dengan di Madinah. Harapan pun muncul, bahwa kawasan itu akan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Aceh Besar. Bila jabal magnet benar-benar berhasil dihidupkan, Aceh Besar dan Banda Aceh akan meraup untung.

Tapi harapan itu hanya pseudo semata. Sehari setelahnya, Senin (6/1/2020) akademisi Unsyiah dan tim Dinas ESDM, turun ke lokasi melakukan penelitian. hasilnya: Tidak ada medan magnet di sana. Harapan menjadikan kawasan itu sebagai jabal magnet pun pupus.

Beberapa ilmuwan di Aceh menyayangkan Mawardi yang begitu tergesa-gesa. Mereka tidak menyalahkan sang bupati. wajar bila dia memiliki pengetahuan yang terbatas dalam segala hal. Juga harapannya dia agar Aceh Besar semakin meuceuhu ban sigom donya. Masalahnya adalah, orang-orang di lingkar bupati, apakah tidak ada yang mampu merasionalisasikan sesuatu, minimal agar sang bupati tidak tergesa-gesa?

“Dalam banyak hal, orang-orang yang mengejar viral, akan dipermalukan oleh waktu,” demikian kata orang-orang bestari.

***

Orang Aceh adalah individu yang satir. Banyak hal yang awalnya serius dibikin menjadi lucu dan kemudian ditertawakan secara bersama-sama. Dalam segala segi kehidupan, orang Aceh suka melucu. Maka tidak heran bila melihat pejabat-pejabat di Aceh kerap kali menyampaikan pernyataan lucu di media massa. Sama seperti rakyatnya yang tidak pernah serius dan sering melucu bila sudah tak sampai harapannya, demikian juga dengan pemimpin-pemimpin di Aceh.

Banyak orang bilang–yang bilang juga orang Aceh–bahwa pejabat di Serambi Mekkah, jangan didengar apa yang disampaikan. karena apa pun yang disampaikan tidak pernah dilakukan. Tapi lihatlah apa yang dilakukan karena yang dilakukan tidak pernah disampaikan.

Maka ketika ada pejabat yang mengatakan, akan memperjuangkan perpanjangan dana otonomi khusus (otsus) untuk Aceh, sesungguhnya itu tidak akan dilakukan. Karena mereka tahu, bahwa perpanjangan dana otsus merupakan omong kosong. Tak mungkin dan tidak pernah akan terjadi. Kecuali Indonesia menemukan tiga gunung emas sebesar Uhud yang ditambang dan dikelola sendiri oleh BUMN yang sehat.

Kondisi keuangan Republik Indonesia yang sedang dalam tidak mencukupi untuk memanjakan Aceh, merupakan fakta yang tidak pernah disampaikan kepada rakyat.

Di samping itu, selain wacana perpanjangan dana otsus, adakah persoalan lain yang lebih mendesak? Ada, yaitu pembangunan jalan ekonomi rakyat yang tersambung dengan masyarakat nusantara dan internasional. Apakah itu sudah dilakukan? Untuk menjawabnya, kita perlu membuat kajian lebih dalam.

Hanya saja, Medan (Sumatera Utara) sampai sekarang masih menjadi magnet bagi Aceh. Setiap musim liburan, pejabat di Aceh, dengan membawa serta keluarganya berlibur ke Medan. Menikmati segala fasilitas duniawi seperti hotel, bioskop, tempat hiburan malam, kolam renang, dan sebagainya. Di Aceh, rakyat dibelenggu dengan berbagai aturan. Tidak boleh ini tidak boleh itu. Rakyat pun terhipnotis dengan larangan-larangan yang dibalut dalam nuansa religi.

Selebihnya, Aceh tidak punya apa-apa. Kita daerah yang didengungkan kaya, tapi sesungguhnya seumpama balon yang diisi karbit. Terlihat indah, tapi tak berisi.

Buktinya, ketika Medan “berhenti beraktivitas untuk Aceh” karena tahun baru Masehi 2020, Aceh segera terlihat tidak mandiri. Bahkan nenas mengkal saja tidak kita punya. Konon lagi bicara hal-hal lain.[]

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK