Kobaran Api Panggang Australia, 10 Ribu Manusia Terperangkap

Seorang petugas pemadam kebakaran Australia, sedang berjibaku memadamkan api yang membakar hutan di sana. [Rick Rycroft/AP Photo]

ACEHTREND.COM, Canberra- Sudah sejak satu minggu ini negara bagian Victoria dan News South Wales, Australia dilalap sijago merah. 10 ribu jiwa terperangkap di kawasan wisata Mallacoota, yang berjarak 550 kilometer dari Melbourne. Pemerintah terus melakukan evakuasi via laut. Sekitar 500 juta binatang dipastikan terpanggang.

Dikutip dari beberapa sumber, Kamis (9/1/2020) sebagai benua terkering di dunia, Australia memang rentan terhadap kebarakaran hutan. Sejak beberapa bulan lalu, peramal cuaca dari Biro Meteorologi sudah memperingatkan bahwa musim panas kali ini akan lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya dengan kemungkinan kebakaran akan meningkat.

Kesulitan yang dialami oleh petugas adalah mengantisipasi daerah mana yang akan terkena kebakaran. Alam memainkan peran utama, seperti suhu udara, kekuatan angin, arah angin, dan curah hujan.

Pihak berwenang di negara bagian dilaporkan sudah meminta kepada pemerintah Federal di bawah pimpinan PM Scott Morrison untuk membeli peralatan tambahan untuk memerangi api, seperti pesawat Hercules yang bisa membawa air lebih banyak.

Namun di tingkat Federal, usulan tersebut belum diterima.

Dari sisi kebijakan, pemerintah Federal juga dituduh belum menerima pendapat bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Australia disebabkan karena perubahan iklim yang melanda dunia saat ini.

Sejak September 2019, musibah kebarakan yang melanda negeri kangguru telah merenggut 29 jiwa serta membumihanguskan 2000 rumah warga.

Dalam Pernyataan Iklim tahunannya, yang dirilis pada hari Kamis, Biro Meteorologi Australia mengatakan 2019 adalah tahun terpanas dan terpanas di Australia dengan rekor suhu rata-rata nasional 1,52 derajat Celcius (34,7 Fahrenheit) di atas rata-rata. Sementara curah hujan 277,6 milimeter (10,9 inci), 40 persen di bawah rata-rata.

“Indeks Bahaya Kebakaran Hutan tahunan yang terakumulasi secara nasional – indikasi parahnya cuaca kebakaran – adalah rekor tertinggi,” kata pernyataan itu.

Kepala pemantauan iklim biro, Karl Braganza, mengatakan sementara curah hujan yang berpotensi turun, itu tidak akan cukup untuk memadamkan api.

“Sayangnya, kami tidak melihat hujan yang meluas dan di atas rata-rata pada tahap ini,” katanya. “Itulah yang sebenarnya kita butuhkan untuk memadamkan api dengan cukup cepat.

Pemerintah New South Wales menanggapi krisis pada hari Kamis dengan mengumumkan tambahan 1 miliar dolar Australia ($ 690 juta) yang akan dihabiskan selama dua tahun ke depan untuk manajemen dan pemulihan kebakaran.

Ahli ekologi di University of Sydney pada hari Rabu menggandakan estimasi jumlah hewan yang tewas atau terluka dalam kebakaran menjadi satu miliar.

Editor: Muhajir

Sumber: ABC, Aljazeera, Tempo

KOMENTAR FACEBOOK