Kejatuhan Tokoh Penting Dunia Islam (Bagian-1): Saddam Hussein

Oleh Muslim Budiman Madat

Dulu Timur Tengah memiliki Saddam Husein. Ia berkuasa di Irak sejak 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003 melalui sebuah kudeta. Saddam memiliki tiga gagasan besar yang ingin diwujudkannya: Pan Arabisme Sekuler, Modernisasi Ekonomi dan Sosialisme Arab. Saddam adalah seseorang yang dibanggakan tapi di sisi lain juga tidak disukai di Jazirah Arab. Caranya memerintah diktator. Kerap menghabisi siapapun yang tidak menyetujui langkahnya. Bahkan jika itu kerabatnya sendiri. Di sisi lain, Ia adalah pria penuh berkharisma dan santun. Saddam pintar mengambil hati rakyatnya termasuk pada massa embargo. Sedapat mungkin Ia akan mencukupi kebutuhan rakyatnya. Ia juga terkenal karena dukungan dan bantuannya yang besar kepada Palestina, yang otomatis menujukkan kebencian yang mendalam kepada Israel. Sesuatu yang menjadi keinginan terdalam bagi Bangsa Arab lainnya.

Dia adalah pemimpin penuh kontroversi.
Pan Arabisme atau persatuan bangsa-bangsa Arab sejatinya bukanlah ide Saddam. Gagasan ini muncul di Mesir yang saat itu dipimpin Gamal Abdul Nasser. Awalnya bertujuan membangunkan semangat nasionalisme di kalangan Arab sebagai ideologi pembebasan negara-negara Arab atas kekuasaan Ottoman empire yang membelenggunya. Para tokoh Mesir modern terutama Nasser, umumnya terinspirasi oleh kebesaran yang telah dicapai para pendahulunya. Sejak bangsa Mesir Kuno seperti Kaisar Pharao (Ramsec Akbar) hingga pemerintahan Islam, terutama dinasti Fatimiyah yang sempat menggemparkan dunia. (Nuruddin: 2015).

Dunia Arab mendapati masalah besar yakni, penguasaan politik dan ekonomi oleh Barat serta pendudukan Palestina oleh Israel. Fakta ini kemudian, menyeret negara-negara Arab berperang dengan Israel untuk jangka waktu yang panjang. Pada akhir-akhir masa perang, Mesir ada di barisan terdepan saat itu. Sayangnya pada periode tersebut Gamal tidak terlalu mendapat dukungan, karena dianggap ‘kurang Islami’ dan berniat menjadi Pemimpin Arab. Sebuah keinginan yang tidak disetujui Arab Saudi. Perang Enam Hari Antara Mesir, Suriah dan Yordania melawan Israel yang mendapat dukungan Barat berakhir dengan kekalahan di pihak Mesir dkk, memaksa mereka untuk menyetujui resolusi PBB.

Dalam mewujudkan gagasan Pan Arabisme Saddam memilih cara frontal, terlalu ambisius, tidak jeli dalam mengambil keputusan serta memilih strategi. Di samping pula Arab tidak terlalu bersimpati karena Saddam karena berambisi menjadi pemimpin Arab Raya dengan menggunakan gagasan Pan Arabisme. Meskipun sebenarnya sebagian Negara-negara penting di jazirah secara politik telah dikendalikan oleh Barat dan Isreal. Sehingga dukungan penuh sesama Arab tidak diperolehnya secara memadai. Bahkan Ia kerab memberi masalah serius kepada Negara-Negara Arab lainnya. Hubungannya dengan dunia Arab sendiri sering panas-dingin.

Terhadap Mesir Ia pernah memutuskan hubungan diplomatik, karena ketidaksetujuannya dengan perundingan damai antara Mesir dan Israel, yang difasilitasi oleh Presiden AS – Jimmy Carter, dikenal dengan “Perjanjian Camp David” pada September 1978. Saddam menganggap keputusan Anwar Sadat- Presiden Mesir saat itu, telah melukai hati orang-orang Palestina dan merendahkan martabat orang-orang Arab. Lebih dari itu, perjanjian tersebut justru memberi jalan bagi Israel untuk ‘menarik nafas’ setelah Perang di Semanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Sementara Anwar menganggap Israel tidak akan mampu dikalahkan dengan kekuatan militer Arab waktu itu, dan memang, pengalaman 60 tahun perang berperang, Koalisi Arab tidak pernah memenangkannya secara nyata. Sesuatu yang orang sekeras kepala Saddam tidak akan dapat menerimanya.

Saddam Husein [VOA]

Gagasan Revolusi Khomeini di Iran membuat Saddam was-was. Ia tidak ingin hal serupa mempengaruhi keadaan dalam negeri Irak yang dipimpinnya secara otoriter. Gaya kepemimpinan yang sama diterapkan oleh Shah Reza Pahlevi. Raja Iran sebelum revolusi yang didukungan Barat sampai dijatuhkan Kelompok Revolusi yang dipimpin Khoemeni pada tahun 1979. Apalagi Irak juga memiliki banyak pengikut Syiah. Dengan dalih masalah perbatasan, Saddam menyerang Iran pada tahun 1980, hingga kemudian dikenal dengan Parang Irak – Iran. Perang yang dianggap percampuran antara perang tradisional dan modern berakhir pada tahun 1988 dengan sebuah perjanjian gencatan senjata.

Dengan fakta perang ini, Iran sudah pasti bukan sahabat Saddam untuk kepentingan apapun.

Berperang dengan Iran selama 8 tahun membuat kerugian besar baik di pihak Iran dan pihak Irak sendiri. Saddam bukannya belajar dari pengalaman ini malah membuat kecerobohan baru pada saat keadaannya sedang lemah. Ia malah menginvasi ke Kuwait di tahun 1990. Yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari Irak dengan status Provinsi. Ia beralasan fakta sejarah menyatakan Kuwait adalah bagian dari Irak. Ia juga menuduh Kuwait telah mencuri minyak Irak dengan Teknik pengeboran miring. Lebih lanjut, Irak menolak membayar utang kepada Kuwait yang konon mencapai 15 miliar Dollar. Hutang yang diperoleh Saddam ketika berperang melawan Iran. Kuwait tentu tidak kuasa menghadapi Irak. Hanya saja Kuwait beruntung mendapat dukungan Israel, Barat, dan sebagian negara Arab terutama Arab Saudi dan PBB. PBB memberlakukan embargo kepada Irak.

Kuwait yang meminta bantuan Ameriksa Serikat kemudian menyerang Irak bersama pasukan sekutu dengan dukungan Arab Saudi dan Mesir. Perang ini dicatat sejarah sebagai Perang Teluk II
Pada tahun yang sama Saddam berusaha menarik perhatian negara-negara Arab, kali ini Ia menggunakan cara tak biasa. Saddam berpikir, jika berperang dengan Israel akan memancing emosi dan membangkitkan solidaritas Arab. Armada Perang Irak menyerang Israel (Tel Aviv dan Haifa) dengan puluhan rudal Scud pada Pada 18 Januari 1991 menjelang subuh. Keesokan harinya Saddam terus melakukan serangan untuk memprovokasi Israel. Namun masih saja Israel tidak membalas. Pada saat yang sama negara-negara Arab lain tidak ada yang mendukung langkah Saddam.

Israel memang berang dan bersiap membalas serangan ini dan menjanjikan balasan yang keras. Namun George Bush meminta mereka agar menahan diri. Dan, memang Israel tidak melakukan serangan balasan meski dalam keadaan siaga penuh. Bush Senior, Presiden AS saat itu menyarankan agar tentara Sekutu yang menyelesaikan pekerjaan ini.

Atas perintah Bush meminta Komandan pasukan sekutu untuk menghancur pusat-pusat persenjataan Irak. Selanjutnya Sekutu melakukan serangan darat pada 24 Februari 1991. Hanya butuh 4 (empat) hari bagi mereka untuk membuat Irak bertekuk lutut. Tanggal 28 Februari 1991, Irak takluk, Untuk kemudian harus menyetujui perjanjian gencatan senjata.

Sepuluh tahun berlaku hingga tahun 2001. Amerika dikejutkan dengan serangan ke Gedung World Trade Center pada tanggal 11 September. Dunia terkejut. Amerika berang bukan kepalang. Irak menjadi tertuduh menjadi dalang dengan men-support kelompok teroris atas serangan itu. Saddam yang tentu menolak dan mempersilahkan penyelidikan internasional atas tuduhan tersebut.
Sejak itu berbagai argumentasi dibangun Barat untuk menempatkan Saddam sebagai orang yang layak ditumbangkan. Beberapa di antaranya, Irak memiliki hubungan dengan Kelompok Teroris yang terbukti membahayakan dunia. Tuduhan ini tidak terbukti, bahkan CIA sendiri menyatakan tidak ada hubungan antara Saddam dengan kelompok teroris tersebut. Termasuk yang meledakkan WTC dengan menabrakkan pesawat yang mereka bajak.

Tuduhan lain yang mengemuka saat itu, adalah Irak sedang mengembangkan senjata pemusnah massal yang mengancam keamanan dunia. Skenario ini relatif mendapatkan tempat meski tidak diterima. Mengingat fakta-fakta yang dilakukan Saddam sebelumnya.

Tahun 2002 Benyamin Netanyahu berbicara di depan Kongres Amerika, Netanyahu, menyakinkan mereka bahwa “Jika Anda menyingkirkan Saddam, rezim Saddam, saya jamin Anda akan memiliki gema positif yang sangat besar di Kawasan.” Diksi dari pihak Israel tentu akan sangat berpengaruh bagi Amerika. Karena memang Amerika juga sangat berambisi untuk melanggengkan hegemoni di Jazirah Arab yang kaya itu. Di sisi lain, ketika pihak Israel telah mengutarakan maksudnya, bukan perkara mudah bagi Amerika untuk menolak ajakan itu. Kelompok Lobby Israel di Amerika sangat berpengaruh. Beberapa sumber menyebutkan kelompok inilah yang sejatinya yang mengendalikan Amerika. Sebut saja misalnya, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). AIPAC dan sejumlah grup lobi Israel lainnya mampu memengaruhi kebijakan publik Amerika Serikat dengan berbagai cara. Sehingga, siapapun presiden Amerika tidak bisa lepas dan bahkan berharap dukungan mereka lobby Israel. Lebih dari itu Bush sendiri adalah seorang pengusaha minyak yang tentu saja sangat berkepentingan mengendalikan Timur Tengah.

Akhirnya Kongress Amerika yang sejak tragedi 2001 belum memberikan persetujuan untuk menyerang Irak akhirnya memberi jalan kepada Bush untuk mengambil tindakan. Kongres memutuskan ini setelah pemungutan melakukan pemungutan suara, yang secara mayoritas menyetujui serangan ke Irak.

Bush Junior, Presiden Amerika saat itu tidak serta merta akan melakukannya sendiri. Amerika mengusahakan resolusi PBB atas Irak. Sebab, tanpa persetujuan PBB serangan akan mengisolasi Amerika dari pergaulan masyarakat dunia.
Namun, penyelidikan atas dugaan pengembangan senjata pemusnah massal seperti dituduhkan tidak ditemukan tim Inspeksi PBB. Juga tidak ada bukti yang cukup bahwa Irak akan menyerang Amerika. Sehingga tidak ada alasan yang cukup bagi PBB untuk menyepakati ajakan Amerika.

Bukannya peduli, lewat pasukan koalisi dengan Inggris, Amerika melakukan serangan ke Irak pada Maret 2003 dengan nama “Operasi Pembebasan Irak”, tujuannya adalah melucuti senjata pemusnah massal – sebuah tuduhan yang tidak pernah terbukti, dan membebaskan Irak dari kediktatoran Saddam.
Saddam akhirnya ditangkap pada Desember 2003 di Tikrit Irak. Ia kemudian harus menghadapi pengadilan dengan tuduhan kejahatan atas kemanusian, dan dijatuhi hukuman mati. Pria penuh kontroversi itu akhirnya harus menghadapi hukuman mati pada Desember 2006. Yang mencintai Palestina itu telah pergi, sebagaimana Israel menginginkannya, dengan meninggalkan “masalah baru” tentu saja.

Penulis adalah peminat kajian sosial dan politik.

Sumber foto: The New York Time, VOA

KOMENTAR FACEBOOK