Terakhir Kontak dengan Orang Tuanya, Syafrida Menangis Ingin Pulang dan Tak Punya Uang

Nurdin didampingi Ketua YARA Safaruddin, saat membuat laporan ke Polda Aceh, Senin (13/1/2020) @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Nurdin (70), ayah kandung Syafridawati (27), TKW asal Gampong Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara yang diduga hilang di Malaysia sangat mengharapkan anaknya bisa kembali pulang ke Aceh.

Saat membuat laporan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polda Aceh siang tadi, Senin (13/1/2020), Nurdin menceritakan awal mula calo yang membujuk keluarga korban agar mengizinkan Syafrida menjadi TKW ke Malaysia. Berdasarkan komunikasi terakhir yang dilakukan Nurdin, putrinya itu menceritakan keinginannya untuk pulang ke Aceh sambil menangis tetapi tidak punya uang.

Baca: Syafridawati TKW Asal Aceh Utara Tak Ada Kabar Sudah Lima Tahun, Sang Ayah Melapor ke Polda

“Awal anak saya berangkat, ada infonya, kemudian yang kedua ada lagi, disampaikan tidak bisa pulang karena tidak ada uang, yang terakhir kali di tahun 2017, di sampaikan lagi, ingin pulang, namun tidak ada uang, lalu menangis lagi, dan sampai sekarang tidak pernah pulang,” kata Nurdin dengan terbata-bata sambil mengusap air matanya kepada wartawan di Kantor SPKT Polda Aceh.

Menurut Nurdin, awalnya salah seorang perempuan bernama Mutia yang diduga calo mendatangi rumahnya dan meminta izin hingga beberapa kali. Terakhir ia datang bersama suaminya. Meski awalnya sempat menolak, belakangan Nurdin mengizinkan karena terbujuk kata manis Mutia.

“Saat pertama kali diminta memang tidak mau saya berikan, di lain waktu mereka datang makin terus membujuk saya untuk mengizinkan, tetap tidak membolehkan anak saya pergi. Akhirnya Mutia bersama dengan suaminya datang lagi untuk minta anak saya lagi, tetap saya tidak berikan izin, lalu mereka menjanjikan gaji tiga juta per bulan, pekerjaannya sebagai pembantu, kemudian akan dikirim saya uang perbulan 500 ribu,” ungkap Nurdin.

Menurut Nurdin, Mutia dengan suaminya berjanji akan bertanggung jawab, bahkan memulangkan Syafridawati jika tidak sanggup bekerja lagi. Namun yang terjadi malah tidak ada kabar lagi sama sekali hingga saat ini.

Bahkan menurut pihak Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang mendampingi Nurdin, dari pengakuan Mutia kala diperiksa oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, juga tidak diketahui lagi keberadaan Syafridawati.

Syafridawati @ist

“Mereka janjikan akan bertanggung jawab, dengan gaji tiga juta rupiah, kalau sakit akan dibawa ke rumah sakit, jika tidak sanggup kerja akan diantar kembali ke kampung, untuk saya akan dikirim uang perbulan 500 ribu. Namun sejak pertama hingga sekarang tidak pernah dikirim uang, bahkan dengan anak saya tidak pernah komunikasi lagi. Kalau saya hubungi sekarang tidak masuk lagi, kalau saya hubungi Mutia ditolak panggilannya, tidak mau diangkat,” cerita Nurdin.

Nurdin mengaku mencoba berbagai upaya yang yang mampu dilakukannya, termasuk mencoba melacak kontak baru Mutia ke keluarganya di kampung, malah mendapatkan jawaban yang tidak lazim.

“Kalau saya tanya nomor kontak yang baru ke keluarganya, dibilang tidak ada, karena kalau saya pikir tidak mungkin tidak ada nomor handphone sama adiknya kandungnya,” sebut Nurdin.

Nurdin mengenang anak bungsunya itu sosok yang penurut, dan pendiam, apa pun yang dikatakan orang ia akan diam saja, dan ke mana pun dibawa akan menurut saja.

“Dia memang anak baik, saya sangat sayang sama dia, dia penurut, dan akan ikuti apa pun yang disuruh orang, dalam bekerja disuruh ke mana pun akan ia lakukan,” cerita Nurdin.[]

KOMENTAR FACEBOOK