Jatah Pupuk Subsidi Dipotong, Bupati Abdya Kembangkan Pupuk Organik Cair

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Akmal Ibrahim, mengembangkan pupuk organik cair yang diberi nama Ayahwa. Pupuk yang diklaim alami tersebut untuk menjawab persoalan bahwa tahun 2020 Pemerintah Pusat memangkas subsidi pupuk sebesar 11 triliun Rupiah.

Akmal mengaku, pupuk organik cair tersebut ia racik menggunakan bahan daun-daunan dan aneka ragam hayati lainnya.

“Kalau kuota pupuk bersubsidi pemerintah itu dipotong, maka harga pupuk akan mahal dan langka. Oleh karena itu saya mencoba membuat pupuk organik cair ini,” ungkap Akmal, Senin (13/1/2020).

Ia mengatakan, pupuk organik cair yang ia racik saat ini dapat meningkatkan produktivitas jagung, padi, kacang tanah dan cabai. Pupuk cair tersebut bisa mengalahkan pupuk kimia lainnya, karena pupuk organik tersebut murni dari aneka hayati.

Pupuk organik cair tersebut katanya, ia racik sejak delapan bulan lalu berbahan daun-daunan alami. Ide itu muncul dari hasil dirinya membaca ratusan hasil penelitian, riset dan literasi para ahli.

“Jurnal-jurnal ilmiah saya coba padu-padukan hingga menjadi satu produk. Bisa sebagai pupuk, bisa juga sebagai fungisida. Jadi, pupuk ini ada replenishment (penambahan) untuk menolak penyakit termasuk keong mas,” sebutnya.

Menurut Akmal, hama keong mas dan walang sangit tidak mati jika terkena pupuk hayati tersebut. Akan tetapi hama-hama itu akan pindah ke tempat lain dengan sendirinya karena tidak tahan terhadap pupuk itu.

“Pupuk organik cair yang saya produksi ini rata-rata mengandung mikroba, lalu saya sisihkan zat perangsang tanaman, anti jamur dan bakterisida. Jadi, belum ada pupuk yang mengkombinasikan seperti pupuk Ayahwa ini,” ujarnya.

Selain menghemat uang petani dan solusi dari kebijakan Pemerintah Pusat, tambahnya, penggunaan pupuk organik yang diracik oleh Akmal Ibrahim tersebut juga kesempatan bagi petani untuk kembali ke alam yang tanamannya tanpa mengandung racun di dalamnya.

“Pupuk hayati itu membenah tanah sangat kuat. Tanah-tanah yang telah rusak akibat zat kimia bisa kembali lagi seperti tanah-tanah zaman dahulu. Tidak ada lagi mengandung kimia, sehingga apa yang kita makan sehat, dan hasil produksi tanaman juga banyak,” pungkasnya.