Pemerintah Australia Alokasikan Rp473 miliar untuk Program Darurat Pemulihan Satwa Liar

Hewan asli Australia, kanguru

Pemerintah Australia mengalokasikan 50 juta dolar atau sekitar Rp 473 miliar untuk program darurat pemulihan satwa liar. 

Australia menyebut krisis kebakaran yang melanda negara itu sebagai “bencana ekologis” yang mengancam beberapa spesies termasuk koala dan walabi.

Kebakaran besar telah menghancurkan lebih dari 11,2 juta hektare lahan, atau hampir setengah luas negara Inggris, dan menghancurkan atau merusak habitat beberapa hewan asli Australia.

Diperkirakan satu miliar hewan, termasuk ternak dan hewan peliharaan, mati dalam kebakaran atau berisiko setelahnya karena kekurangan makanan dan tempat berlindung.

“Ini adalah bencana ekologis, bencana yang masih berlangsung,” kata Bendahara Frydenberg kepada wartawan, Senin (13/1), ketika dia mengunjungi Rumah Sakit Koala Port Macquarie, tempat di mana 45 koala dirawat karena luka bakar. “Kita tahu bahwa flora dan fauna asli kita telah rusak parah,” kata dia menambahkan.

Gambar kanguru yang terbakar, koala dan posum, bersama dengan rekaman orang yang mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan hewan asli telah menyebar di seluruh dunia. 

Para perajin rajut di seluruh dunia telah menggalang dukungan untuk membuat ribuan kantong pelindung dan selimut untuk satwa liar yang terluka.

Worldwide Fund for Nature (WWF) Australia telah memberi masukan kepada pemerintah mengenai 13 hewan yang habitatnya hancur atau rusak parah, termasuk di antaranya tiga spesies terancam punah yaitu katak corrobore selatan, burung pemakan madu, dan burung beo tanah barat.

“Luasan area penting secara global seperti Gondwana Rainforest dan Blue Mountains World Heritage Areas bersama dengan Pegunungan Alpen Australia dan Stirling Ranges Australia Barat telah terdampak luka bakar yang dahsyat,” kata WWF dalam sebuah pernyataan melalui email.

Hewan-hewan lain yang berisiko termasuk populasi koala di tenggara, dunnart Pulau Kanguru, kakatua hitam mengkilap, potoroo kaki panjang, burung beo tanah barat, kadal air Blue Mountains, bristlebird timur, dan walabi batu berekor sikat.

Dalam sebuah misi yang dijuluki Operation Rock Wallaby, staf taman nasional menggunakan helikopter untuk mengangkut ribuan kilo wortel dan ubi jalar ke walabi batu berekor di daerah terpencil di negara bagian New South Wales.

“Penyediaan makanan tambahan adalah salah satu strategi utama yang kami gunakan untuk mempromosikan kelangsungan hidup dan pemulihan spesies yang terancam punah seperti walabi batu berekor sikat,” kata Menteri Lingkungan Negara Bagian New South Wales, Matt Kean.

“Para walabi biasanya selamat dari api itu sendiri, tetapi kemudian dibiarkan telantar dengan makanan alami terbatas ketika api mengeluarkan vegetasi di sekitar habitat berbatu mereka,” kata dia. 

Frydenberg mengatakan koala “ikonik” itu akan menjadi fokus pendanaan nasional pemerintah. Menurut dia, keseluruhan kerusakan belum akan diketahui sampai api benar-benar padam, yang diperkirakan para ahli bisa berlangsung hingga beberapa bulan lagi.

Komisaris untuk Spesies Terancam Sally Box mengatakan sekitar 30 persen dari habitat koala yaitu hutan eukaliptus, yang mereka gunakan untuk makanan dan tempat tinggal, di negara bagian New South Wales, mungkin telah hilang. Bulu koala yang tebal dan kecenderungan untuk naik ke tempat lebih tinggi ketika terancam adalah kerugian parah dalam kebakaran yang bergerak cepat.

Menteri Federal untuk Urusan Lingkungan, Sussan Ley, mengatakan kajian akan diajukan tentang apakah populasi koala tertentu harus terdaftar sebagai “terancam” daripada “rentan”.

“Segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan dan memulihkan habitat koala akan dilakukan, termasuk pendekatan inovatif untuk melihat apakah anda benar-benar dapat menempatkan koala di daerah yang bukan tempat asalnya,” kata Ley.[] Sumber : Republika

Editor : Ihan Nurdin