Balada Petani Lambaro Neujid, Kering Melanda, Meraung Dalam Derita

Abdul Mutalib (80) warga Lambaro Neujid, Mukim Lampageu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. [Taufan Mustafa/aceHTrend]

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Abdul Majid (80) warga Gampong Lambaro Neujid, Mukim Lampageu, Peukan Bada, Aceh Besar, berkali-kali mengelap keringat di dahinya yang hitam. Lelaki sepuh tersebut menghela nafas panjang. Tahun ini, musim kering terlalu cepat datang. Sepanjang Januari 2020, belum sekalipun hujan menjamah lahan pertanian milik warga di sana.

“Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya, pada Januari hujan masih turun, walau agak jarang. Tapi kali ini hujan tidak turun sama sekali. Bukan hanya lahan pertanian yang kerontang. Sumur warga pun kering,” ujar Abdul Majid, Selasa (14/1/2020).

Dua tahun terakhir cuaca sudah tidak bisa diprediksi. Hal tersebut mempengaruhi pola tanam. Sejauh ini anomali cuaca membuat petani seringkali merugi. Gagal panen sudah menjadi hantu yang seringkali hinggap di tiap lelap yang gelisah.


“Dalam dua tahun terakhir sawah tidak lagi kami tanami. Kering tanpa ampun,” katanya.

Lambaro Neujid, menurut lelaki gaek tersebut, tidak memiliki sumber mata air yang besar. Warga secara total bergantung pada hujan untuk urusan pertanian. Air yang ada di kampung itu, termasuk yang ada di sumur warga hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga.

Di tengah kekeringan, warga tetap berharap terjadinya keajaiban. [Taufan Mustafa/aceHTrend]

Ia memberikan contoh, sebuah mata air di puncak bukit. Di dalam petak kebun warga. Tapi volumenya tidak mencukupi. Bahkan untuk kebutuhan minum hewan tidak memadai.

Darman (52) Bendahara kelompok sawah Blang Kala, yang dekat dengan Waduk Lambadeuk, mengatakan, sudah lama mereka mengabaikan petak sawah yang kini sudah menjadi belukar. Tanah sawahnya sudah sangat padat.

krisis air menjadi persoalan dan inti perkara di sana.

Darman mengatakan pernah datang ke sana penyuluh pertanian. Kepada warga mereka menyarankan agar menanam jagung. Tapi warga tidak tertarik. Persoalan air adalah inti dari penolakan itu, selain juga serangan hama babi dan monyet.

Bentang sawah tadah hujan yang telah sekian lama tidak digarap di Gampong Lambaro Neujid. Kini telah menjadi belukar tepi pantai yang tidak menjanjikan. [Taufan Mustafa/aceHTrend]

Di sana terdapat waduk Lambadeuk. Tapi air waduk diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga. Air memang tidak banyak. Bahkan, sudah dua minggu air dari waduk tidak lagi mengalir ke rumah warga.

“Warga mengeluh ke PDAM Tirta Montala. Tapi tidak ada solusi. Air waduk defisit hebat. Tidak bisa lagi dialirkan,” ujarnya.

Gampong Lambaro Neujid, berada di daerah paling ujung Pulau Sumatera. Di kelilingi oleh bukit batu cadas atau kars.

Sekilas pandang, kawasan itu sangat menjanjikan. Gunung kars dengan pepohonan menjulang nan hijau. Di dekat laut, layaknya kawasan wisata yang ada di Thailand. Siapa sangka, di sana persoalan krisis air merupakan problem setiap tahun yang harus dihadapi oleh warga.

Tiap kali kemarau tiba, warga selalu berharap agar cepat berlalu. Karena andalan satu-satunya di sana, hanya hujan. Seakan-akan Lambaro Neujid sebuah komunitas tanpa pemerintah di atasnya.

Beberapa warga mengaku, entah mengapa mereka yang berada di ujung, tidak mendapatkan perhatian. Padahal mereka sangat setia kepada pemerintahnya. Terhimpit, tersudut di ujung Banda (Aceh) menjadi komunitas yang terlupakan dan harus meraung sendiri. Oh Aceh Besar. []

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK