Tiga Penulis Gelorakan Semangat Berliterasi di Dayah Baitul Arqam

CEO aceHTrend Muhajir Juli saat memberikan materi kepada santri @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Jantho – Tiga penulis muda Aceh menggelorakan semangat berliterasi kepada santri Dayah Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar. Ketiganya yaitu CEO media online aceHTrend Muhajir Juli; penulis dan praktisi humas Hayatullah Pase; dan dosen sekaligus bloger Fardelyn Hacky Irawani. Kegiatan bertema “Aku Menulis Aku Berdaya” itu diikuti 50-an peserta dari tingkat tsanawiyah dan aliyah yang berlangsung di musala dayah tersebut, Rabu (15/1/2020).

Muhajir Juli yang tampil sebagai pembicara pertama menjelaskan mengenai jenis-jenis tulisan jurnalistik di antaranya berita dan feature. Melalui feature menurutnya banyak hal berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan (human interest) yang bisa dituliskan secara lebih detail dan luas sehingga lebih menggugah hati pembaca.

Lewat tulisan kata dia, seseorang tidak hanya mampu memberdayakan dirinya saja, tetapi juga bisa membantu orang lain.

“Misalnya feature yang saya tulis tentang salah seorang tukang becak di Bireuen, saya mendeskripsikan kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan. Hasil dari tulisan itu menggugah hati banyak orang yang membacanya sehingga kami bisa menggalang dana dan sekarang rumah tukang becak itu sedang dibangun yang baru,” ujar penulis buku Surat dari Penjara itu.

Sementara itu, Fardelyn Hacky Irawani yang tampil di sesi kedua memaparkan bahwa dewasa ini profesi penulis semakin dibutuhkan. Di kota-kota besar, banyak perusahaan dan instansi tak ragu membayar jasa penulis dengan mahal untuk mengampanyekan produk-produk atau usaha mereka dengan konten-konten kreatif.

“Asyiknya lagi menjadi penulis itu juga bisa dilakukan secara sampingan berbarengan dengan pekerjaan utama kita. Jadi waktu kita bisa lebih produktif,” ujar dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala yang mulai menggeluti aktivitas menulis sejak tahun 2000-an itu.

Eky juga menjelaskan, di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai dosen juga masih melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan hobinya seperti menulis di blog, membuat resensi untuk dikirim ke media massa, dan menerima jasa editing dari koleganya di kampus.

“Kemudian untuk menjadi penulis itu tidak melihat latar belakang pendidikan kita, apa pun jurusan yang kita pilih tidak menutup kemungkinan kita untuk bisa menjadi penulis. Sebaliknya, walaupun kita sekolah atau kuliah di jurusan yang notabenenya berkaitan dengan literasi, belum tentu juga bisa menjadi penulis andal asal mau berlatih,” ujarnya.

Senada dengan itu, Hayatullah Pase yang tampil di sesi terakhir menjabarkan beberapa profesi yang mungkin dilakoni dengan memiliki keahlian menulis seperti bloger, tenaga kehumasan, penulis naskah, copy writer, editor, hingga penerjemah.

“Perlu diketahui juga, dengan menulis kita juga bisa melakukan kerja-kerja advokasi dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Efeknya juga sangat besar karena karya dalam bentuk tulisan bisa menembus ruang dan waktu,” ujar penulis buku Praktis Menulis Siaran Pers itu.

Selain memperoleh benefit secara finansial, mantan jurnalis Antara ini juga menjelaskan beberapa manfaat lain yang bisa diperoleh bila serius melakoni kegiatan menulis. Misalnya bisa mendapatkan jalan-jalan tanpa perlu merogoh kocek pribadi, memungkinkan untuk dikenal secara luas oleh masyarakat melalui karya-karyanya, hingga sebagai self healing atau proses menyembuhkan diri sendiri dari tekanan atau luka batin.

Seminar kepenulisan ini merupakan kegiatan perdana dari program yang digagas oleh jurnalis aceHTrend, Ihan Nurdin, sebagai salah satu penerima program fellowship Citradaya Nita 2019 Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Dari seminar ini dijaring 15 peserta yang akan dilakukan program pendampingan hingga mereka mahir menulis selama beberapa bulan ke depan.

Wakil Mudir Dayah Baitul Arqam, T Azhar Ibrahim, menyambut baik program ini. Program ini kata dia sejalan dengan salah satu misi dayah di mana para santrinya diharapkan memiliki kemampuan menulis.

Dengan adanya pendampingan yang lebih intens nantinya, pria yang akrab disapa Abi Azhar itu berharap para santri bisa kembali menghidupkan mading sekolah dan melahirkan komunitas jurnalis santri. Selain itu dengan mahirnya para santri dalam menulis diharapkan bisa mewarnai dunia literasi khususnya di Aceh.[]

KOMENTAR FACEBOOK