Aceh Termiskin di Sumatera, Malawi Termiskin di Dunia

Tiga perempuan Malawi sedang menuju sebuah mata air. Bandingkan dengan Aceh yang mayoritas warga [di kota] yang tidak perlu lagi mengangkut air untuk kebutuhan rumah tangga. [BBC]

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Propinsi Aceh kembali ditasbihkan sebagai propinsi termiskin di Sumatera. Di tingkat Nasional, Aceh berada di posisi enam. Dengan kondisi demikian, Aceh tidaklah terlalu buruk, bila ditilik dari sisi peringkat.

Pun demikian, banyak pihak yang menyayangkan kondisi ekonomi Aceh yang masih saja letoy. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,2 juta jiwa, Serambi Mekkah masih dianggap kalah dengan daerah lain di Sumatera dalam hal pengentasan kemiskinan. Padahal banyak dana yang dikucurkan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk Aceh selama ini.

Akan tetapi, prestasi Aceh yang mampu menjadi juara grup termiskin di wilayah barat, tidaklah terlalu buruk. Bahkan di level dunia, Aceh tidak disebut sebagai daerah termiskin. Hal ini tentu karena Indonesia tidak masuk dalam kategori negara tertinggal.

Sesuai dengan data yang dilansir World Bank, yang kemudian diterbitkan oleh portal ObsessionNews.Com, negara paling miskin di dunia adalah Malawi. Negara ini memiliki penduduk berjumlah 16 juta jiwa dan menjadi salah satu negara terkecil di Benua Afrika. Malawi bahkan sangat terbelakang di berbagai sektor. Negara ini bahkan masih mengandalkan cara bertani yang primitif. Tentu saja sangat rentan pada cuaca.

Belum lagi buruknya fasilitas pendidikan dan kesehatan membuat negara ini kian jatuh pada rantai kemiskinan. Tercatat PDB per kapita negara ini hanya sebesar $ 226,50.

Di urutan kedua, ada negara Burundi. Negara ini terkungkung dalam perang sipil yang kerap terjadi akibat perselisihan politik yang tak kunjung selesai.

Diperkirakan lebih dari 300 ribu sipil menjadi korban dan 67% penduduknya hidup dalam kemiskinan. PDB per kapita yang bisa didapatkan pun hanya sebesar $ 267,10.

Di posisi ketiga Republik Afrika Tengah. Merupakan negara yang memiliki sejarah kelam nan panjang. Kondisi politik yang tak stabil kerap memicu terjadinya perang sipil. Sentimentil agama juga menjadi poros keterpurukan negara ini. Hal inilah yang membuat negara ini kian terpuruk dalam kemiskinan.

Angkutan umum di Republik Afrika Tengah. bayangkan di Aceh, angkutan massal berupa bus-bus elit yang ber ac dengan harga tiket kompetitif. [foto:BBC]

Kendati diperkirakan 45% pendapatan negara ini berasal dari ekspor berlian, namun buruknya tata kelola pemerintahan membuat perekonomian negara ini tak juga stabil. Akibatnya Republik Afrika Tengah hanya mampu menghasilkan PDB per kapita sebesar $ 333,20.

Selanjutnya Nigeria. Walau kerap tampil di pentas Piala Dunia (World Cup) bukan jaminan negara ini kaya raya. Nigeria menjadi salah satu negara termiskin dan juga paling terbelakang dalam beberapa hal di dunia. Nigeria mengandalkan perekonomiannya pada ekstraksi sumber daya alam dan pertanian skala kecil.

Sayangnya, kedua hal itu sangat rentan pada iklim dan cuaca yang tak menentu di sana. Nigeria tercatat memiliki PDB per kapita sebesar $ 415,40. Negara ini seperti sulit berkembang dari tahun ke tahun.

Di posisi kelima adalah negara Liberia. Sejak tahun 1999 sampai 2003 Liberia selalu didera oleh perang sipil tak berkesudahan serta konflik sosial. Kondisi inilah yang menjadi penyebab utama perekonomian Liberia sangatlah buruk. Apalagi Liberia hanya mengandalkan industri pertanian untuk mendorong ekonominya.

Pemandangan umum kota-kota di Liberia. Di Aceh kondisi serupa hanya bisa dilihat di kampung-kampung pedalaman, itupun ketika konflik bersenjata masih berlangsung. [Foto: BBC]

Di tahun 2010, negara ini pernah tercatat memiliki 80% penduduknya yang memiliki pendapatan kurang dari $ 1.25 per harinya. Dan PDB per kapita Liberia sampai saat ini tercatat hanya sebesar $ 454,30.

Nah, bila merujuk pada data-data yang disajikan, Aceh masih sangat beruntung, kan? Kita hanya terlihat miskin bila dibandingkan dengan daerah-daerah yang lebih kaya. Kita terlihat lemah hanya ketika dibandingkan dengan propinsi-propinsi yang pemimpinnya lebih visioner. Kita terlihat tidak mandiri, hanya ketika dibandingkan dengan propinsi yang lebih siap menyejahterakan rakyatnya.

Ke depan, agar lebih “adil” dan tidak saling menyalahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) ketika membuat peringkat, lebih baik mengeluarkan Aceh dari daftar lokal. Aceh perlu ditempatkan di daftar “internasional” bersama 10 negara Afrika yang sejak dulu hingga kini tidak mampu bangkit dari keterpurukan. Karena dengan perbandingan “internasional” tersebut, akan terlihat bahwa Aceh lebih hebat dalam segala hal.

KOMENTAR FACEBOOK