Embung Lambadeuk, Dibangun Tanpa Sumber Mata Air

Embung Lambadeuk, Aceh Besar. (Ist)

ACEHTREND.COM, Jantho- Keberadaan Embung Lambadeuk, di Mukim Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, sempat diharapkan menjadi sumber pengharapan baru bagi masyarakat di kawasan tersebut. Ternyata, embung tersebut dibangun sebagai fasilitas penampung air [hujan]. Tidak ada mata air yang “menghidupkan” embung tersebut sepanjang waktu.

Persoalan akan menjadi sesuatu yang minim manfaat untuk masyarakat tempatan, sudah terlihat sejak awal embung itu siap. Warga yang menetap di sana, mengaku tidak mendapatkan air yang cukup dari embung tersebut. Padahal hanya untuk kebutuhan rumah tangga. Mereka tetap harus mengandalkan air sumur, yang bila musim kemarau menyusut bahkan kering kerontang.

Baca: Berharap Embung Lambadeuk Segera Mengaliri Rumah warga

Kini kejadian serupa kembali terulang. Air di embung tersebut debitnya berkurang drastis. Sehingga tidak bisa dijangkau oleh pipa PDAM Tirta Mountala, yang merupakan perusahaan daerah milik Pemda Aceh Besar.

Kondisi tersebut dikeluhkan oleh warga di Gampong Lambaro Neujid. Mereka kini sedang menderita karena krisis air.

Menanggapi persoalan tersebut, Direktur PDAM Tirta Mountala, Ir Sulaiman, berencana mengalihkan aliran distribusi air ke Mukim Lambadeuk dari cabang Mata Ie. Tidak ada pilihan lain, karena distribusi air dari Embung Lambadeuk mati total.

Direktur PDAM Tirta Mountala, Aceh Besar, Ir. Sulaiman. [Taufan Mustafa/aceHTrend]

Saat ditemui aceHTrend, Kamis (16/1/2020), di kantornya, Sulaiman mengatakan Embung Lambadeuk memang memiliki kekurangan. Salah satunya tidak tersedianya mata air di embung tersebut.Fungsinya murni sebagai “waduk” untuk penampungan air [hujan].

Di tengah kekeringan yang sedang melanda Aceh saat ini, tambah Sulaiman, jangankan Embung Lambadeuk yang memang tidak memiliki mata air, Mata Ie saja yang memiliki aliran sungai, sudah beberapa kali kering.

“Tahun ini, kemungkinan besar Mata Ie juga akan kembali kering. Bandingkan dengan Embung Lambadeuk yang memang tidak memiliki mata air,” ujar Sulaiman.

Dulu, sekitar 2017, masih ada aliran air dari Gunung Gôh Leumo, yang airnya disuplai ke dalam embung. Akan tetapi dalam beberapa tahun ini, aliran kecil dari gunung tersebut sudah kering. Kondisi lainnya, bilapun turun hujan, air tidak lagi masuk ke embung.

Batas Waktu Operasional

Kendala tidak mengalirnya air ke seluruh rumah tangga yang menjadi pelanggan Tirta Mountala di kawasan itu, awalnya merupakan akibat dari pembatasan jam operasional waduk. Pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS), menyurati PDAM Tirta Mountala, agar menjaga debit air, untuk menghindari retaknya bangunan embung.

Keputusan tersebut diambil setelah diadakan rapat pada Agustus 2019, yang menyepakati bahwa operasional air yang bersumber dari embung hanya empat jam per hari. Awalnya, air akan dialirkan selama 20 jam per hari, dengan kapasitas 10 liter per detik.

Dengan pembatasan waktu operasinal yang hanya empat jam saja dalam satu hari, otomatis, tidak semua warga mendapatkan pasokan air bersih. Dengan jumlah pelanggan 1600 pasang meteran, belum pun air menjangkau seluruh pelanggan, water intake sudah dimatikan.

Baca: Balada Petani Lambaro Neujid, Kering Melanda, Meraung Dalam Derita
Dengan waktu operasional yang hanya empat jam, juga tidak menjamin air bisa disdistribusikan setiap hari. Karena ambang batas yang disepakati dengan WBSS, PDAM hanya bisa mengambil air dalam embung sampai batas 11,8.

Sekarang ini, air waduk tidak bisa diambil sama sekali. Pertama, karena pipa PDAM tidak lagi bersentuhan dengan permukaan air. Kedua, bilapun dipaksa, jutsru embung yang akan rusak. Air di sana sekarang berada pada level paling rendah.

“Sekarang tidak bisa diambil sama sekali. Karena ambang air sudah di bawah sekali. Ketika kami berlakukan 4 jam per hari, permukaan air masih pada level 12. Saat ini ujung pipa PDAM tidak lagi menyentuh air.

Editor: Muhajir Juli

KOMENTAR FACEBOOK