Kejatuhan Tokoh Penting Dunia Islam (Bagian-2): Muammar Khadafi

Oleh Muslim Budiman Madat

Muammaf Khaadafi telah ditabalkan sebagai sosok kontroversial dalam kancah politik internasional. Dunia Barat mencirikannya sebagai pemimpin diktator. Menempatkan tokoh ini sebagai salah satu musuh besar mereka, untuk sepanjang waktu Ia memimpin Libya, yang itu berarti 42 tahun. Dari rentang September 1969 sampai dengan Oktober 2011.
Sebaliknya, dunia Islam dan masyarakat Afrika, menganggapnya sebagai tokoh membanggakan dengan segala tindak-tanduknya. Pengaruhnya membentang dari sebuah negara kecil di Afrika sampai ke sebuah negara besar di ujung benua Asia seperti Indonesia.

Biacek (2017) dalam sebuah tulisannya menyebutkan“Gaddafi dipandang sebagai seorang teman yang luar biasa, terkadang Ia disebut rajanya Afrika karena keterlibatannya dalam membela kepentingan Benua Afrika. Dalam kancah Internasional, Ia juga dipandang memainkan peranan penting bagi penyelesaian berbagai konflik. Bagi masyarakat Arab Ia adalah pelindung Palestina.”

Senada dengan itu, Odeh (2012) dalam simpulan risetnya menyatakan;
“Sejauh menyangkut banyak orang Afrika dan Arab, Khadafi telah dan masih tetap menjadi pahlawan dalam beberapa aspek yang sampai sekarang dianggap sebagai sesuatu yang tak pernah bergeser, terutama masalah Palestina”.

Ketika kita membincangkan tumbangnya Khadafi dari pucuk pimpinan Libya, akan sulit untuk beralih dari melihat bagaimana Libya itu sendiri didirikan. Bagaimana Khadafi memperoleh kekuasaan, termasuk yang terpenting; cara Khadafi memimpin Libya dan perannya dalam kancah politik internasional. Walaupun tidak dibahas secara detail, meringkasnya masih mungkin kita lakukan.

Libya awalnya merupakan bagian dari Emperum Ottoman dan hanya berupa tiga Provinsi: Cyrenaica, Tripolitania, and Fezzan. Karena pengaruh Ottaman luntur, dan beberapa negara Eropa melakukan imperialiasme di sini. Daerah-daerah ini berpikir untuk mandiri. Italia, Inggris dan Ottoman sendiri berebut pengaruh dalam pendirian Libya. Adalah Idris Al Harris, seorang aktivis politik yang kemudian menyatukan daerah dan suku-suku yang ada di sana. Idris Al Harris adalah cucu tokoh sufi besar yang juga pejuang yang melawan pendudukan Italia atas Cyrenaica: Sayyid Muhammad ibnu Ali El Sennusi.

Meski bukan hal mudah bagi Idris untuk mewujudkan cita-citanya, Ia berhasil mendirikan sebuah negara yang bernama United Kingdom of Libya pada tahun 1951. Idris Al Harris kemudian menjadi raja pertama dan satu-satunya di Libya. Inggris adalah negara Barat yang memberikan bantuan atas berdirinya negara itu.

Terkait dengan motivasi Inggris, dapat diyakini untuk menjalankan plot mereka sebagaimana atas negara-negara Muslim lainnya: meruntuhkan kendali Ottoman di kawasan, dan menjalankan imperialisme. Sesuatu yang kemudian dapat dilihat kenyataannya di kemudian hari. Ada banyak faktor mengapa wilayah ini menjadi penting bagi mereka. Nazmul dan Razu (2017) meyakinkan,
“Setiap wilayah (Libya) memiliki karakteristik geografis yang luar biasa dan dengan sejarah yang kaya. Para Imperialis ingin menggunakan kesempatan ini dan memberlakukan banyak teori, aturan, dan kebijakan untuk mempertahankan kekuasaan dan manfaat abadi seperti “Divide and Rule”, “Domino Theory”. Libya tidak dapat menyelamatkan dari agresi imperialistik dan kapitalistik.”

Seperti itulah Libya, selalu ada ancaman belenggu Barat kepada negara kaya itu.
Setelah merdeka dan bersatu, Libya di masa-masa awal mengalami kesulitan di bidang ekonomi. Untuk mengatasinya, Raja Idris menawarkan Investasi kepada Inggris dan Amerika Serikat. Kerjasama investasi ini ternyata bukan semata-mata bicara untung-rugi. Sebagai imbalannya, Libya kemudian harus merelakan tanahnya menjadi tempat pembangunan Pangkalan militer Barat di sana pada tahun 1959.
Dengan fakta tersebut, popularitas Raja Idris menurut drastis di kawasan. Nasionalis Arab menuduhnya sebagai boneka barat. Tentu saja hai ini tidak sejalan dengan gagasan Pan-Arabisme yang sedang digaungkan di Jazirah. Pada saat sama, masalah menjadi lebih rumit bagi Raja Idris, ketika korupsi juga merajelala dalam pemerintahannya.
Raja Idris terlalu meremehkan kekuatan – kekuatan di luar dirinya. Termasuk gerakan yang dibangun Kolonel Khadafi yang sedang menggalang kekuatan dari kalangan militer untuk melakukan aksi kudeta. Niat kudeta itu sendiri sebenarnya, bukan hasrat seketika seorang Khadafi. Kakeknya berasal dari suku Qadhadhfa, adalah penjuang bagi pendudukan Italia tempo dulu. Bahkan Ia gugur pada sebuah pertempuran di tahun 1911.

Berangkat dari fakta ini, Khadafi telah menerima darah pejuang dalam tubuhnya. Sejak belia ia sudah sangat membenci barat bercokol di negaranya. Ketika melihat peluang untuk menggulingkan Raja Idris yang terlalu membuka tangan kepada barat, Ia mulai membangunnya secara matang ketika berada dalam kesatuan militer.

Selanjutnya, pada September 1969, Ia berhasil melakukan kudeta tidak berdarah dan menggulingkan Raja Idris dari tampuk pemerintahan. Sebuah peristiwa yang kemudian dikenal dengan beberapa nama: Revolusi Al Fateh, Revolusi Putih, pada waktu yang lain dikenal dengan Revolusi September. Libya, kini berubah secara drastis, dari Monarki menjadi autokrasi (?), Pemerintahan yang dikendalikan oleh “Dewan Komando Revolusioner” di mana Khadafi menjadi pemimpinnya. Otomatis ia sendiri menjadi kepala Negara.

Sejak memerintah, Khadafi telah benar-benar ingin membangun Libya yang baru. Ia membenci barat dari dan pada setiap sudutnya. Yang kemudian menjadi ancaman untuk selama 42 tahun ia berkuasa. Sebab-sebab, mengapa kemudian kekuasaan berakhir adalah karena: pandangan, gagasan kebijakan, sikap, tindakan dan narasi-narasi yang menunjukkan perlawanan kepada barat. Semua hal inilah yang menyebabkan kekuasaanya berakhir. Di bawah ini adalah uraian ringkas tentang hal tersebut;

Membenci Demokrasi Ala Barat

Dalam pemerintahannya Khadafi bukanlah pemimpin tanpa cela, apalagi jika ditilik dari sudut pandang demokrasi [ala] barat. Sebagai contoh, Ia tidak mengizinkan adanya partai politik independen, melarang serikat buruh, dan membredel surat kabar, mencela pemungutan suara (plebiscites). Ia tidak menyetujui hampir semua instrumen-instrumen politik sebagaimana halnya konsep demokrasi yang kita kenal secara umum, termasuk sistem parlemen. Tentang ini, kita dapat membacanya secara detail pada bukunya yang terkenal: the Green Book. Ia membahasnya bahkan pada bab pertama, dengan judul yang sangat provokatif: The Solution of The Problem of Democracy: The Authority of the People. Ia secara lugas menyebut demokrasi (ala barat) adalah bukan demokrasi dan bahkan merupakan bentuk kediktatoran itu sendiri.

Di sisi lain, Khadafi ternyata bermaksud agar tujuannya memakmurkan Libya tidak terhalang oleh hal-hal semacam itu. Ia mengemukakan semua sumber daya politik harus diserahkan kepada rakyat, dan yang disalurkan melalui apa yang disebutnya Basic Popular Congress dan People’s Committee. Gambarannya seperti di bawah ini;

Sumber: The Green Book hal: 24

Pertanian & Nasionalisasi

Pada masa-masal awal pemerintahannya, Khadafi berfokus pada pertanian. Ia menjalankan apa yang dikenal dengan Revolusi Hijau. Ia membangun banyak irigasi – konon merupakan saluran irigasi terbesar di dunia. Menaikkan upah minimum hingga berkali lipat. Menyubsidi pertanian, bahkan jika rakyatnya memilih pertanian sebagai fokus mata pencaharian, mereka akan disediakan rumah segala.

Terhadap ketersediaan lahan, Ia akan menyediakannya. Bahkan jika itu dengan merampas tanah orang-orang Italia dan menyerahkannya kepada rakyat Libya. Bukannya hanya merampas aset mereka, Ia juga mengusir orang Italia, yang memang memiliki sejarah sebagai penjajah Libya tempo dulu. Bahkan Libya berketurunan Yahudi juga menerima nasib serupa.

Khadafi juga memberi perhatian terhadap kewirausahaan, dll sebagainya. Keseriusannya nyata. Namun sayang meski usahanya begitu keras dan membuat rakyat Libya bergembira dengan itu, usaha ini secara keseluruhan belum berhasil dalam konteks perekonomian secara makro. Subsidi atas pertanian menggerus banyak pundi-pundi negara.

Khadafi melihat sektor perminyakan paling potensial menjadi penyokong ekonomi Libya. Untuk ini ia melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan minyak asing. Termasuk atas British Petroleum, perusahaan raksasa minyak asal Inggris. Belum puas, Ia kemudian berusaha meningkatkan harga minyak dalam pasaran internasional. Khadafi juga melakukan hal serupa terhadap perbankan dan usaha-usaha strategis lainnya, yang saat itu secara umum dimiliki atau setidaknya dikendalikan oleh barat. Secara keseluruhan, upaya ini berhasil meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Untuk selanjutnya berhasil meningkatkan taraf hidup rakyat Libya secara drastis.

Di sisi yang lain, kebenciannya barat padanya mulai mengancam, yang berarti pula sejak awal kepemimpinannya.
Paranya lagi, Ia mengusir Amerika dari Pangkalan Udara Wheelus. Ini tentu saja tamparan keras bagi mereka.

Pan Arabisme, Anti Israel, dan Pan- Africanisme

Pada masa awal mula Khadafi berkuasa, Pan-Arabisme (persatuan dunia arab) sedang mendapat tempat dan harum di dunia Arab. Sebuah ide yang dianggap menjadi jawaban atas hegemoni barat atas negara-negara Muslim. Dunia mengenal nama-nama besar yang telah mengusung gagasan ini, seperti Gammal Abdul Nasser dari Mesir, Constantin K. Zurayk & Michael Aflac, dari Suriah, Sa’ati al husri dll.

Muammar Khadafi kemudian berada pada tempat teratas sebagai pemimpin dunia Islam yang juga ingin mewujudnyatakan gagasan itu. Ia menawarkan sesuatu yang lebih nyata, yaitu Persatuan Arab. Laura Sitaru, seorang ahli tentang dunia Arab menuliskan, “Tujuan mendasar dari revolusi Libya dan pemimpinnya, Muammar Gaddafi, yang dengannya terciptanya negara Arab yang independen, sosialis dan bersatu untuk mengakhiri keberadaan Israel dan imperialisme Amerika, adalah tujuan dari semua hal yang lainnya”.

Dari perspektif ini, Muammar Gaddafi mengusulkan dan mencoba beberapa formula untuk mencapai “langkah” pertama menuju persatuan Arab: pada tahun 1969 ia menggagas “Tripoli Chartha” antara Libya, Mesir, Sudan dan Suriah; upaya pembentukan Federasi Republik Arab dengan Mesir, Libya dan Suriah pada tahun 1971,; kemudian pada tahun 1972, Gaddafi mengusulkan persatuan antara Libya dan Mesir; dan selanjutnya pada 1978, ia mengusulkan pembentukan federasi untuk memasukkan Tunisia, Aljazair, dan Libya. Meski semua proyek ini gagal, kita jika semua proyek ini gagal, kita harus menyadari bahwa Muammar Gaddafi tidak pernah menyerah ide-ide persatuan dan anti-Baratnya.

Tentang penentangannya kepada Israel, Ia melibatkan diri bersama Suriah dan Mesir untuk berperang dengan Israel. Yang dikenal dengan Perang Yom Zipur. Dukungan juga diberikan kepada siapa yang ingin berperang dengan Isreal, Ia membuka pendaftaran untuk selanjutnya mendapat pelatihan, persenjataan dan bahkan ‘upah’ dan selanjutnya bersama Palestina melakukan perlawanan terhadap Israel. Terkait dengan bantuan langsung berupa charity (bantuan amal berupa dana dan kebutuhan hidup) – seluruh dunia mengakui keikutsertaannya.

Kapada orang-orang Afrika Ia memberi perhatian lebih. Bahkan menuliskannya pada the Green Book, pada bab ‘the Basics of Third World Theory – Prinsip-Prinsip Teori Internasional Ketiga”, secara khusus menuliskan: “The Black People Will Prevail In The World – Orang-Orang Kulit Hitam Akan Unggul Di Dunia”. Sebuah gagasan yang mengangkat harga dan kepercayaan diri, maka menjadi niscaya ketika kemudian Ia mendapatkan hati banyak orang di benua itu.

Upaya terhadap penyatuan Afrika mencatat Khadafi sebagai tokoh yang berpengaruh bersama nama besar lain, seperti Neslon Mandela yang fenomenal, Julius K Nyerere dari dari Tanzania dan Kwame Nkrumah dari Ghana dll. Untuk mengembangkan perekonomian Afrika, Khadafi dikhabarkan telah menginvestikan dana yang fantastis dalam berbagai sektor usaha mulai dari perhotelan, telekomunikasi dan pertambangan. Selain upaya persatuan Ia juga membangun nama besarnya dalam bentuk sumbangan amal – charity. Salah satunya dengan membangun masjid-mesjid terbesar di Afrika, seperti Mesjid Nasional di Tanzanian dan Uganda.

Mendukung Gerakan Perlawanan

Hal lain yang dianggap Barat sebagai ancaman dari tindakan Khadafi ialah; mendukung kelompok-kelompok teroris dan separatis. Ia memang memberikan dukungan pelatihan dan perlengkapan militer bagi kelompok-kelompok tersebut. Terhadap ini Khadafi membantahnya dengan mengatakan, yang ia dukung adalah gerakan-gerakan perlawanan untuk kemerdekaan dan mewujudkan kemanusiaan.
Akan lahir sebuah daftar yang panjang jika kita ingin merinci siapa saja dan bentuk dukungan seperti apa yang diberikan kepada kelompok-kelompok tersebut.

Terhadap dukungannya di Jazirah Arab yang paling terkenal adalah bagaimana ia mendukungan perjuangan Palestina dalam melawan Israel. Dari bantuan makanan, dana, hingga pelatihan dan persenjataan.
Untuk Afrika, beberapa yang ia dukung misalnya, melakukan intervensi militer di Chad, mendukung perlawanan kelompok muslim di Kongo, mensupport pemberontak di Liberia, Siere Leone dan Mali. Termasuk menjatuhkan rezim Idi Amin di Uganda dll.

Ia juga mendukung beberapa pergerakan di Asia, misalnya di Pakistan, Ia secara nyata memberikan dukungan kepada kelompok perlawanan di sana. Untuk Indonesia sendiri Libya diketahui memberikan fasilitas kepada Gerakan Aceh Merdeka untuk memperkuat satuan militernya.

Terhadap kelompok perlawanan di daratan Eropa, Gaddafi pernah membuat gerah Inggris karena memberikan dukungan kepada The Irish Republican Army (IRA) yang merupakan kelompok parameliter yang ingin mengakhiri dominasi Inggris di Irlandia. Di Eropa Khadafi dipercayai mensponsori serangan terhadap beberapa instansi/ kepentingan Eropa. Yang paling menghebohkan adalah ketika dua agen Libya meledakkan pesawat di atas langit Lockerbie, Skotlandia pada tahun 1988. Amerika merupakan pihak yang paling berang, karena 189 penumpang di pesawat itu berkewarganegaraan AS. Sebuah peristiwa yang ‘menghasilkan’ sanksi ekonomi PBB kepada Libya pada tahun 1992.

Narasi-narasi Kebencian Terhadap Barat

Tidak akan berlebihan, jika Khadafi dinobatkan sebagai pemimpin negara yang paling frontal dalam mengkritik barat. Ia tidak hanya mengucapkan secara langsung namun juga menumpahkannya dalam tulisan-tulisan penting. Misalnya, dalam The Green Book. Buku, yang menjadi falsafah politik dan kepemimpinannya.
Akan sangat mudah bagi kita untuk menemukannya narasi-narasi kebenciannya kepada barat, kritik dan hujatan dalam kutipan pidato, dialog dan semacamnya. Di lain waktu bahkan dilakukannnya dengan cara yang nyeleneh. Yang paling fenomenal adalah ketika ia melakukannya dalam Sidang Umum PBB di tahun 2009.

40 tahun tidak pernah menghadirinya, sekali menghadiri Khadafi telah menunjukkan kepada dunia hal paling gila dalam sejarah Sidang Umum (SU) lembaga tertinggi di dunia itu. Di sini, ia menyebut Obama dengan sebutan cucu. Narasi yang terdengar merendahkan Amerika. Dalam pidato sepanjang 100 menit lebih itu (semestinya hanya 15 menit), Khadafi benar-benar telah mengumpulkan semua serangan naratif kepada Blbarat, termasuk kepada Dewan Keamanan PBB.

Hingga menjelang akhir pidatonya Khadafi, melemparkan seberkas dokumen ke arah Sekretaris Jendral PBB saat itu, Ban Ki Moon. Sesuatu yang sulit dipercaya secara akal sehat.
Pada akhirnya Khadafi adalah seorang manusia biasa: memiliki kekuatan dan kelemahan. Ia dipuji sekaligus dicaci atas dasar yang sama. Yang pasti sejarah selama 42 tahun memimpin, hampir seluruhnya adalah serangan terhadap hegemoni barat.

Tahun 2011, kelompok-kelompok internal Libya dengan dukungan pihak luar tentu saja, melakukan demontrasi. Menentang caranya memimpin. Selanjutnya, kelompok-kelompok tersebut bahkan berani melakukan perang terbuka dengan Khadafi.
Dengan dalih untuk mencegah penggunaan serangan udara oleh Pendukungan Khadafi pada pemberontak, NATO di bawah restu PBB akhirnya melakukan serangan udara terhadap fasilitas-fasilitas militer Libya. Serangan yang membuat posisi Khadafi terjepit dan melarikan diri ke Kota kelahirannya Sirte.

Pada 20 Oktober 2011, kekuasaan dan kehidupan Muammar Khadafi berakhir. Ia dikepung, dikeroyok dan akhirnya menerima tembakan oleh seseorang dari kerumunan pemberontak yang mengejarnya. Ia meninggal dalam ambulan dalam perjalanan ke rumah sakit dengan tubuh penuh luka.

Muammar Khadafi, bahkan menjadi kontroversial hingga pada detik akhir kematiannya. Berbagai organisasi di dunia termasuk PBB mengusulkan penyelidikan penuh tentang cara Ia mendapatkan kematian seperti itu. Ada anggapan, pembununan terhadapnya dirinya setelah tertangkap adalah bentuk kejahatan perang.

Kini, 8 tahun lebih Muammar Khadafi mangkat. Libya masih harus menghadapi kenyataan perang saudara yagn masih berkecamuk antar kelompok penentang Khadafi itu sendiri. Hasil pahit yang harus diterima Libya dari penggulingan itu. Keadaan rakyat negeri itu justru lebih buruk. Dewan Transisi Nasional yang di dukung barat belum mampu – jangankan membalikkan keadaan dari masa kepemerintahan Khadafi yang mereka tuduh otoriter. Untuk berdamai sesama pemberontak saja belum.

Tidakkah [rakyat] Libya menyesal?

Foto: Dikutip dari sumber ketiga. Belum diketahui pemilik asli.

KOMENTAR FACEBOOK