Riwayat Ekspor CPO di Abdya yang telah Berlangsung Sejak Sebelum Kemerdekaan

Tangki penimbunan CPO milik PT Socfindo di Gampong Pulau Kayu, Susoh, Abdya. @aceHTrend/Masrian Mizani.

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Bupati Abdya Akmal Ibrahim mengatakan, kegiatan ekspor minya mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) ke mancanegara telah dilakukan sejak Indonesia belum merdeka. Ekspor dilakukan lewat jalur pesisir pantai Gampong Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Abdya.

Kala itu, PT Socfindo yang memiliki kebun sawit di kawasan Alue Bilie, Nagan Raya merupakan sejarah sawit Indonesia.

Akmal menyampaikan itu dalam diskusi bisnis yang diselenggarakan Komunitas Bisnis Andalan Rakyat Abdya (Kobar), Rabu (15/1/2020).

“PT Kalista Alam juga punya tangki timbun di Susoh. Satu lagi PT Surya Panen Subur yang baru selesai ganti rugi tanah di Gampong Lama Muda. Jadi, semua mereka itu memiliki kebun sawit di luar Abdya. Lantas kenapa mereka pilih Abdya, tentu karena cost ekonominya dan persyaratannya mencukupi. Jadi proses ekspor CPO di daerah saya ini sebenarnya sudah dimulai sejak Indonesia belum merdeka, hanya saja kurang terpublikasi ke publik,” ungkap Akmal.

Sementara itu, tokoh Abdya, Elizar Lizam yang bermukim di Kecamatan Susoh, saat dikonfirmasi sejumlah media Jumat (17/1/2020), membenarkan pernyataan Akmal tersebut. Menurutnya, sejak zaman dirinya masih kanak-kanak berumur lima tahunan, sejumlah tangki penimbunan CPO memang sudah ada di pesisir pantai Gampong Pulau Kayu, Kecamatan Susoh.

Ia menyebutkan, di kawasan tangki penimbunan minyak sawit tersebut ada juga terdapat sebuah batu prasasti yang tertulis 1934.

“Jadi, apa yang disampaikan oleh kepala daerah itu benar karena ketika saya masih berumur lima tahun tangki itu sudah beroperasi. Saya mengetahuinya karena setiap lebaran saya selalu diajak orang tua bermain lori di kawasan tangki CPO itu,” ungkapnya.

Mantan wakil ketua DPRK Abdya itu juga sependapat dengan Akmal bahwa tangki penimbunan CPO milik PT Socfindo tersebut beroperasi sebelum Indonesia merdeka.

“Umur saya sekarang sudah 58 tahun. Saya sangat yakin tangki itu beroperasi sebelum negara ini merdeka, karena dibuktikan dengan adanya prasasti yang tertulis di batu dengan angka terpahat 1934,” jelasnya.[]

Editor : Ihan Nurdin