Ada “Aceh” di Kamboja

Mahrizal Paru [Ist]

Oleh Mahrizal Paru

Apakah Anda pernah pulang kampung? Hampir sebagian besar dari kita tentunya pernah. Biasanya, bagi yang merantau ke luar daerah, pulang kampung menjadi hal yang biasa dilakukan. Terutama menjelang hari raya atau hari-hari besar lainnya. Bagaimana jika berkunjung ke komunitas muslim dan masyarakat Champa di Kamboja, terasa seperti pulang ke kampung halaman di Aceh. Saya menemui banyak kemiripan bahasa, budaya, dan makanan seperti yang biasa kita lihat di kampung-kampung di Aceh.

Menurut beberapa catatan sejarah, Aceh memiliki hubungan sangat dekat dengan bangsa Champa. Seperti dikutip dalam buku From Ancient Cham to Modern Dialects: Two Thousand Years of Language Contact and Change, setelah kejatuhan Indrapura (ibu kota negeri Champa), orang-orang Champa mulai meninggalkan negerinya dan eksodus ke berbagai daerah yang ada di Nusantara, termasuk Aceh. Eksodus yang kedua ditandai dengan jatuhnya ibu kota Vijaya, di mana anak Raja Pau Kubah, Syah Indera Berman pergi ke Malaka, dan Syah Pau Ling berangkat ke Aceh. Teguh Santoso, dalam tulisannya “Asal-usul bahasa Aceh” juga menggaris bawahi bahwa bahasa Aceh kemungkinan juga berasal dari bahasa Champa. Walaupun hal ini perlu dibuktikan lagi secara ilmiah. Dengan melihat sejarah tersebut, maka tidak mengherankan terdapat banyak kesamaan antara Aceh dan Champa yang bisa kita jumpai.

Pulut yang merupakan penganan khas Aceh, juga terdapat di Kamboja. [Mahrizal Paru]

Ketika berkunjung Ke Desa PraiThnung, Teqcho, dan Kampong Keh, Provinsi Kampot, dan Provinsi Koh Kong, Kamboja pada akhir tahun 2019, saya bertanya kepada warga muslim di sana tentang beberapa perkataan dalam bahasa lokal. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa perkataan tersebut sama bunyinya seperti dalam bahasa Aceh, misalnya ‘boh itek’ (telur itik) disebut ‘boh tek’, ‘boh manok’ (telur ayam) disebut ‘boh manok’, ‘aneuk lumo’ (anak sapi) disebut ‘neuk lumo’, ‘cicem” disebut ‘cem’, ceng’ (timbangan) di sebut ‘cing’, ‘u’ (kelapa) disebut ‘u’. Masih banyak perbendaharan kata yang digunakan dalam bahasa Aceh mempunyai penyebutan yang sangat serupa dengan bahasa Champa dan bahasa yang digunaka oleh warga muslim Kamboja.

Di samping beberapa persamaan bahasa, warga muslim di selatan Kamboja ini mempunyai bentuk rumah yang juga agak mirip dengan rumah Aceh ‘rumoh manyang’. Kesamaannya dengan rumoh Aceh justru terletak pada guci yang diletakkan dekat tangga rumah dan seurayueng rumoh untuk menampung air. Hampir setiap rumah di daerah tersebut memiliki guci di luar rumah. Beda halnya dengan di Aceh, guci sudah sangat jarang bisa kita temui di rumah-rumah masyarakat Aceh saat ini. Selain itu, sebagian rumah warga di daerah tersebut masih menggunakan pompa air manual ‘pompa dragon’, pompa jenis ini biasa kita temui di masjid-masjid dan meunasah pada era tahun 80-90 an. Melihat secara langsung keberadaan guci dan pompa dragon, seperti kembali ke masa lalu.

Eumping ketan yang berupa beras ketan yang dipipihkan. sama seperti seperti makanan tradisional Aceh. [Mahrizal Paru]

Persamaan lainnya yang bisa di temui adalah jingki atau alat penumbuk padi atau tepung dan talam (nampan). Jingki mempunyai bentuk dan cara kerjanya yang sama seperti yang digunakan oleh masyarakat Aceh, begitu talam (nampan) mempunyai ukuran dan motif yang sama seperti di Aceh. Keberadaan jingki dan talam menambah daftar benda yang sama-sama digunakan oleh masyarakat Aceh dan masyarakat Champa atau muslim Kamboja.

Di sisi lain, penulis juga berkesempatan melihat cara berpakaian kaum perempuan muslim di Kamboja yang sangat mirip dengan cara berpakaian kaum perempuan di Aceh, salah satunya adalah cara menutup rambut dengan melilit kain di kepala dengan ija sawak dan di pinggang menggunakan kain sarung.

Dari sisi makanan, terdapat beberapa jenis kue-kue tradisional yang sama seperti di Aceh yang saya jumpai dalam perjalanan ke Kamboja, seperti bhoi (bolu), kue cuco (cucur), bu payeh (pulut), payeh ruboh (pulut rebus), dan umpieng. Kemungkinan ada jenis-jenis kue lainnya yang sama dengan kue tradisional yang ada di Aceh. Saya juga berkesempatan mengunjungi warung kopi di kawasan muslim di Provinsi Koh Kong, seperti umumnya kita lihat di Aceh, warung kopi di wilayah ini juga didomininasi oleh kaum laki-laki. Ukuran gelas kopi yang disajikan juga sama seperti kopi pancong (setengah gelas) seperti umumnya disajikan di warung-warung kopi di Aceh.

Kue bhoi yang merupakan maidah hari lebaran di Aceh, juga ada di Kamboja. [Mahrizal Paru]

Silaturrahmi dengan masyarakat Champa dan masyarakat muslim Kamboja perlu digalakkan, agar kita dapat mengetahui lebih dalam hubungan sejarah masa lalu antara Aceh dan Champa. Silaturrahmi ini dalam bentuk kunjungan, pertukaran pelajar, pemberian beasiswa untuk mahasiswa Kamboja di Aceh. Maupun penelitian lebih lanjut tentang Aceh dan Champa. Ketika mengakhir perjalanan ke Negeri Kamboja, penulis sempat mengatakan ke beberapa teman tajak u Kamboja, lagee ta woe u gampoeng di Aceh (Pergi ke Kamboja, seperti pulang kampung di Aceh).

Penulis adalah petani durian, lada dan pinang. Saat ini bekerja di Kuala Lumpur.

KOMENTAR FACEBOOK