Membumikan Ekonomi Aceh Hebat

Rizki Ardial [ist]

Oleh Rizki Ardial

Mata rantai permasalahan Aceh hari ini yang belum berhasil dipatahkan adalah terkait kemiskinan. Aceh yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) belum mampu dikelola dengan maksimal untuk menyejahterakan sekitar lima juta rakyat. Ini menimbulkan berbagai perspektif masyarakat yang muncul di permukaan. Diantaranya terkait soal kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) atau kurangnya komitmen pemerintah dalam memberdayakan masyarakat menuju program Aceh Hebat. Untuk mewujudkan dua sisi perspektif tersebut tampaknya Aceh membutuhkan suatu daya gerak sosial yang mampu mendorong percepatan perekonomian masyarakat berbasis mentalitas agar terwujudnya kesadaran masyarakat Aceh untuk hidup secara mandiri.

Memahami siklus perkembangan perekonomian Aceh, sejatinya upaya yang disebutkan di atas bukanlah kajian baru di Aceh. Semua hal tersebut pada prinsipnya telah terekam dalam sejarah Aceh melalui peran saudagar-saudagar Aceh hingga mendorong wilayah Aceh dikenal pernah mandiri dalam pengelolaan SDA daerahnya. Sebagai contoh, berdirinya Aceh Sepakat di kota Medan [Sumatera Utara] dulu sempat menguasai perekonomian di Medan sehingga organisasi tersebut mampu menjadi sebuah organisasi besar secara mandiri di Medan. Seandainya kumpulan saudagar semacam ini kembali terjadi di Aceh dan bergerak dibidang sosial maka sangat mungkin dapat membantu pemerintah dalam mendongkrak perekonomian masyarakat. Namun kondisi sekarang justru terbalik, perekonomian di Aceh malah dikuasai oleh bukan orang Aceh sendiri. Hampir semua kebutuhan masyarakat Aceh hari ini dibawa dari Sumatera Utara untuk dipasarkan di Aceh, termasuk kebutuhan pokok.

Jika demikian keadaan Aceh masa lalu, di manakah letak posisi kebutuhan investor di Aceh yang katanya keberadaannya sangat mendesak demi mendongkrak kesejahteraan masyarakat Aceh. Mungkin hal ini adalah penyataan yang keliru dari Pemerintah Aceh. Jika investor dihadirkan untuk menikmati SDA di Aceh, membangun perusahaan tambang besar untuk menggerogoti kekayaan alam Aceh, maka ini akan menambah masalah baru di Aceh. Hal ini dikarenakan akan merusak lingkungan dan menimbulkan kesenjangan sosial yang serius di Aceh. Seperti yang pernah terjadi di Lhokseumawe saat beberapa perusahaan tambang minyak dan gas beroperasi di Aceh. Justru kehidupan tidak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, yang terjadi hanyalah kesenjangan sosial antara penduduk setempat dengan karyawan perusahaan.

Oleh karena itu, Pemerintah Aceh agar dapat lebih serius dalam melihat permasalahan ekonomi di Aceh hari ini. Jangan sampai di tengah upaya mendongkrak perekonomian masyarakat justru yang terjadi sebaliknya. Untuk menghidupkan perekonomian Aceh hari ini, penulis melihat investor asing bukanlah solusi utama yang harus dihadirkan ke Aceh. Pemanfaatan anggaran Aceh secara efisien dan tepat sasaran akan sangat membantu upaya masyarakat untuk dapat bangkit secara mandiri secara ekonomi. Di samping itu, peran saudagar-saudagar Aceh dalam mengembangkan beberapa potensi alam yang ada di Aceh juga akan mengurangi beban pemerintah dalam mendongkrak perekonomian rakyat. Pengembangan kawasan wisata islami misalnya, budi daya sektor kelautan, persawahan dan perkebunan. Ini akan menjadi ladang investasi yang sangat produktif yang ada di Aceh.

Hari ini sebagian besar penduduk Aceh bermata pencaharian sebagai petani baik sawah maupun di kebun. Di sektor persawahan, Aceh memiliki sawah yang cukup luas, maka tidak mustahil jika Aceh dapat menjadi daerah penghasil padi terbesar tanpa harus mengimpor beras dari tempat lain. Begitu juga dengan perkebunan, palawija dan nilam Aceh saja jika dapat dikelola dengan baik, maka ini dapat menjadi nilai tawar lebih dalam membangkitkan perekonomian rakyat. Begitu juga dengan sayuran dan buah-buahan di wilayah tengah. Jangan sampai kita punya lahan di daerah sendiri, akan tetapi sayuran yang kita gunakan sehari-hari juga berasal dari Sumatera Utara.

Berbicara SDA di Aceh, kita jangan hanya terpaku pada emas, minyak, gas, batu bara, dan hasil tambang lainnya. Akan tetapi kita juga harus memikirkan bagaimana mengelola sumber daya yang dapat terbarukan tadi. Pengelolaan perekonomian Aceh hebat yang kita inginkan adalah bagaimana kita memanfaatkan kekayaan alam yang ada tanpa merusak keutuhan lingkungan tersebut. Investasi semacam ini merupakan kondisi yang paling menguntungkan bagi Aceh, dikarenakan akan membuka peluang tenaga kerja dan akan mendapatkan penghasilan daerah tanpa menghabiskan SDA yang ada.

Diakui atau tidak, lambatnya pertumbuhan ekonomi di Aceh juga disebabkan karena lemahnya SDM masyarakat, SDM juga merupakan hal terpenting dalam pemberdayaan ekonomi, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Untuk memperoleh SDM yang hebat juga dibutuhkan ekonomi yang mapan. Jika tidak punya SDM, maka bagaimana kita akan mengelola sumber daya untuk memajukan perekonomian. Lantas bagaimana masyarakat Aceh memperoleh kualitas SDM yang handal sedangkan masyarakat juga belum mandiri secara ekonomi?.

Di tengah kondisi Aceh yang krisis ekonomi dan SDM ini, dibutuhkan keseriusan pemerintah agar setiap program yang dilaksanakan harus benar-benar memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Program Aceh Caroeng misalnya, semangat ini harus mampu menjadi kekuatan pemerintah Aceh dalam mengupayakan terwujudnya generasi Aceh hebat yang akan menjadi pionir dalam mendongkrak perekonomian masyarakat. Kita ketahui selama ini Pemerintah Aceh sudah cukup banyak menghabiskan anggaran untuk menyekolahkan putra-putri terbaik Aceh ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Mulai dari sarjana, megister sampai doktor di berbagai program studi. Akan tetapi setelah program itu selesai di mana keberadaan mereka sekarang dan apa kontribusi mereka terhadap pembangunan Aceh?

Suka atau tidak, dari sekian banyak uang rakyat Aceh yang digunakan untuk meningkatkan SDM anak-anak bangsa hari ini harus dapat dipertanggung jawabkan secara moril kepada masyarakat Aceh khususnya. Setelah mereka mendapatkan fasilitas pendidikan dari Pemerintah Aceh yang sedemikian rupa mereka harus mampu dan mau mengabdikan diri kepada masyarakat Aceh. Jangan sampai anggaran sebesar itu dihabiskan tanpa membawa pengaruh besar dalam upaya membangkitkan Aceh dari ketertinggalan saat ini. Perlu kita ketahui, masyarakat Aceh punya harapan besar kepada kita semua untuk membangkitkan kehidupan mereka lebih baik kedepannya.

Dengan demikian, perlu adanya kebijakan khusus dari Pemerintahan Aceh baik eksekutif maupun legislatif dalam mengupayakan supaya setiap anggaran yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia, dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal ini, permasalahan ekonomi dan SDM harus menjadi fokus utama Pemerintahan Aceh, jika kondisi kehidupan masyarakat Aceh seperti sekarang ini terus dibiarkan oleh Pemerintahan Aceh, maka sangat dikhawatirkan akan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada Pemerintahan Aceh itu sendiri. Apabila dua hal ini sudah tuntas dilakukan oleh Pemerintahan Aceh, masyarakat sudah memiliki kemadirian secara ekonomi dan penguatan kualitas SDM yang dimiliki, maka Aceh Hebat yang selama ini dicita-citakan akan segera menjadi kenyataan.

Penulis adalah Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK