Warga Aceh Besar Gelar Salat Minta Hujan

Warga Kemukiman Lampageu gelar salat Istisqa, Kamis, 23 Januari 2020 @aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Ratusan warga Kemukiman Lampageu, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, siang tadi menggelar salat Istisqa atau salat minta hujan yang dilangsungkan di area persawahan Blang Kala Gampong Lambadeuk, Peukan Bada, Aceh Besar, Kamis (23/1/2020).

Salat Istisqa ini dilakukan setelah warga dari empat gampong di Kemukiman Lampageu juga berpuasa selama empat hari berturut-turut. Kemarau panjang di daerah itu membuat warga telah kehabisan akal untuk mencari air untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari. PDAM yang selama ini menyuplai air ke kemukiman tersebut juga telah berhenti total dalam mendistribusikan air kepada warga akibat kekeringan.

Pengakuan Direktur PDAM Tirta Mountala, Sulaiman, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pompa penyedot air dari embung Lambadeuk sudah tidak lagi menjangkau sumber air sehingga suplai air dihentikan.

Rencana suplai air dari Mata Ie ke Kemukiman Lampageu berdasarkan pengakuan warga juga tidak pernah dilakukan, bahkan suplai air bagi warga setempat menggunakan mobil tangki juga belum pernah dirasakan warga.

Imum Mukim Lampageu, T Darmawan, mengatakan, hasil dari musyawarah bersama, pihaknya bersepakat untuk melakukan salat Istisqa, sebelumnya warga juga berpuasa selama empat hari.

“Seingat saya kekeringan telah terjadi sejak satu tahun lebih, hujan ada namun jangankan untuk sawah, untuk warga mencuci saja sudah tidak ada, sumur kering semua,” katanya.

Menurutnya, warga sangat kewalahan dengan kondisi seperti ini, jalan satunya harus mengantre di sumur tetangga yang masih berair, kalau untuk masak umumnya menggunakan air isi ulang.

“Kekeringan ini telah membuat warga gagal panen selama dua tahun, ini kali ketiga memang tidak bisa menanam, sehingga pendapatan masyarakat sangat sulit, ke gunung tanam cabe susah, sawah kering, untuk melaut juga sulit, sementara mata pencaharian masyarakat umumnya di pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, faktor penyebab kekeringan selain curah hujan yang rendah, juga karena kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan secara ilegal di kawasan itu.

“Kalau di hutan penebangan ilegal juga menjadi faktor penyebab, dulu saat peran mukim masih berpengaruh, imum mukim memerintahkan peutuha glee untuk menjaga pohon-pohon yang ada di sepanjang alur di dalam kawasan hutan ini, kalau sekarang tidak berjalan lagi, tapi ke depan akan di terapkan kembali,” katanya.

“Ini merupakan kali kedua salat Istisqa yang dilakukan di Kemukiman Lampageu, dulu pernah juga dilakukan karena kemarau parah di tahun 1975, kalau tidak salah, cuma dulu selesai salat langsung turun hujan,” sebutnya.

Pihaknya sangat berharap peran pemerintah untuk melihat penderitaan masyarakat Lampageu yang sangat kesulitan air, selama ini belum ada perhatian dari pemerintah.

“Kami berharap pemerintah bisa melihat sendiri kesulitan masyarakat di sini, kalau selama ini untuk suplai air menggunakan mobil tangki juga belum dilakukan, kalau yang di waduk itu juga tidak ada lagi air, sudah susut,” katanya.

Amatan aceHTrend, saat pelaksanaan salat Istisqa, warga menggelar tikar seadanya di atas petak sawah yang telah mengering dan ditumbuhi rerumputan. Selain turut diikuti oleh anak-anak, warga juga membawa serta ternak mereka, sebagai salah satu pelengkap dalam melaksanakan salat minta hujan. Sementara itu, selama ini ada juga dari warga setempat yang mencuci pakaian mereka ke Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.[]

Editor : Ihan Nurdin