Mahasiswa Minta Pemerintah Aceh Jangan [Hanya] Membangun di Dalam Spanduk

ACRHTREND.COM,Banda Aceh- Sekitar 25 mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Kemiskinan Aceh (AMPKA) menggelar unjuk rasa di Simpang Lima, Banda Aceh. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Plt Gubernur Acrh Nova Iriansyah, karena berhasil mempertahankan status sebagai juara umum Aceh sebagai propinsi termiskin se Sumatera. Mereka juga meminta pemerintah untuk tidak sekedar berprestasi di dalam spanduk.

Unjuk rasa yang digelar pada Kamis (23/1/2020) tersebut digelar oleh mahasiswa dalam rangka mengingatkan Pemerintah Aceh bahwa Serambi Mekkah tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Koordinator Lapangan (Korlap) AMPKA Muhammad Hasbar, dalam orasinya menyebutkan dana otonomi khusus yang digelontorkan oleh Pemerintah Pusat hingga 2027, sampai saat ini hanya dinikmati oleh segelintir elit politik dan birokrat. Penggunaan dana tersebut hanya untuk membiayai kegiatan yang tidak berdampak bagi perbaikan tatanan ekonomi rakyat kecil.

Korlap aksi Muhammad Hasbar, saat memberikan keterangan kepada juru warta di Banda Aceh, Kamis (23/1/2020).

Gagalnya pembangunan ribuan rumah dhuafa serta pembelian 100 unit mobil baru untuk elit birokrat, menunjukkan bahwa Pemerintah Aceh saat ini tidak memiliki empati terhadap penderitaan rakyat.

“Kemana dana otsus dipergunakan? Apakah dana tersebut hanya dinikmati oleh elit saja? Aceh adalah daerah termiskin, padahal negeri ini kaya raya. Ini menandakan Pemerintah Aceh tidak peduli pada rakyat,” ujar Muhammad Hasbar.

Hasbar menilai, selama ini Pemerintah Aceh hanya bisa diam saja. Padahal rakyat Aceh masih banyak yang menderita.
“Kenyataannya sekarang Aceh adalah daerah termiskin di Sumatera, Pemerintah Aceh hanya diam dan tidak tahu harus berbuat apa apa,” ujar Hasbar.

Dalam aksi tersebut mahasiswa menyampaikan beberapa harapan. Antara lain, mendesak Pemerintah Aceh untuk lebih serius dalam bekerja untuk masyarakat Aceh, guna mengurangi angka kemiskinan di Aceh.

Mendesak Pemerintah Aceh untuk lebih mengutamakan program pro rakyat yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Jangan hanya program – program seremonial saja, yang hilang tanpa bekas dan jejak.

Mahasiswa juga meminta Pemerintahan Aceh membuka lapangan kerja di Aceh.

“Selanjutnya, kami mendesak Pemerintah Aceh agar tidak melakukan pembodohan publik dengan mempublikasi rasio penurunan angka kemiskinan di Aceh tanpa ada publikasi pertumbuhan jumlah penduduk di Aceh. Jangan membangun Aceh hanya di dalam spanduk,” kata Hasbar.

Pemerintah Aceh Butuh Kritik

Tanpa kritik pemerintah bisa kehilangan arah. Oleh karena itu, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengimbau seluruh mahasiswa untuk tetap kritis terhadap kebijakan dan program yang sedang dan akan dijalankan Pemerintah Aceh. Meski demikian, Nova mengingatkan agar kritik yang disampaikan dengan penuh tanggungjawab dan beretika.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt Gubernur, saat menerima kunjungan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM) Fisip se-Aceh, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Kamis (23/1/2020).

“Dalam menjalankan roda pemerintahan, saya tentu membutuhkan masukan dan sumbangan saran, dan kritik adalah salah satu bentuk sumbang masukan. Sebagai mahasiswa, kalian tidak boleh berhenti mengkritik pemerintah. Jika kalian berhenti mengkritik, maka pemerintah bisa kehilangan arah. Namun, kritik tentu harus disampaikan dengan rasa tanggungjawab dan beretika. Yang saya tidak suka itu fitnah, freaknews, bullying,” ujar Nova. []

KOMENTAR FACEBOOK