Fals

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Saya bukan penyanyi. Tuhan tidak menitipkan kemampuan olah vokal pada saya. Tapi saya menggemari dangdut. Khususnya lagu-lagu Rhoma Irama. Itulah pangkal masalah. Sebagai penggemar dangdut kelas berat, suara saya sama sekali tidak mendukung. Bahkan lebih tidak merdu dari Iwan Fals, walau menyanyikan lagu balada.

Artinya, di bidang tarik suara, tak sedikitpun Tuhan memberikan saya kesempatan.

Padahal, saya sudah bekerja keras belajar dangdut. Mulai dari tembang miliknya Rhoma Irama, Caca Handika, Asep Irama, hingga Ayu Tingting. Dari yang lawas hingga yang milenial. Galau? Tentu saja tidak.

Ketika walkman jaya, saya pernah membeli kaset kosong dan merekam suara sendiri. Saya lakukan di bilik balai pengajian. Ketika tengah malam, kala santri lain sudah terlelap dibuai mimpi. Saya berharap, di tengah malam, pita suara mendapatkan keajaiban. Walau hanya sekali seumur hidup. Ingin sekali menyanyikan lagu Rhoma dengan grade paling minimal.

Hasilnya? Kaset itu saya pijak-pijak hingga berkeping. Bukan karena marah. Tapi malu. Untuk menghilangkan “barang bukti” agar tidak menjadi lelucon di kemudian hari.

Saya sempat berpikir mengapa tidak ada sponsor yang mau menggelar event audisi dangdut dengan suara terburuk. Saya yakin, bila itu ada, saya akan jadi juara. Bahkan akan menjadi juara umum. Tapi, pikiran itu saya buang jauh-jauh. Karena tidak ada orang waras yang akan gila menggelar kontes tersebut. Siapa yang akan mau memberikan kesempatan kepada orang-orang yang tidak akan diserap oleh industri musik?

Pada sebuah hajatan di pedalaman Aceh, saya sempat mencoba menyanyi. Walau hanya ditonton oleh segelintir orang, saya mendendangkan lagu. Mulai dari lagu Rhoma hingga lagu Sting. Beberapa orang memberikan perhatian pada penampilan saya. Beberapa lainnya mengabaikan saja. Pun demikian, semua tersenyum. Lucu? Entahlah. Saya menebak. Mereka sedang senyum atas buruknya penampilan saya.

Usai menyanyi, beberapa orang tertawa sembari mengatakan suara saya bagus. Hahahaha. Orang-orang itu tentu saja sedang berbohong. Mungkin, sekali lagi, mungkin. Mereka sedang menghibur saya.

Saya terhibur. Saya bahagia. Akhirnya, walau pujian itu hanya berupa kata-kata manis yang lahir untuk mengolok keadaan, setidaknya saya sudah berani bernyanyi. Walau suara tetap saja lebih fals dari Iwan Fals.

Saya sadar, setelah tampil menyanyi di depan khalayak yang sangat sedikit, di pelosok, saya tidak akan menyalahkan orang-orang yang pernah mengatakan saya tidak memiliki bakat di dunia tarik suara. Karena mereka telah berkata jujur. Sudah disampaikan dalam ajaran agama: Sampaikanlah yang benar walau itu pahit ketika diterima. []

Penulis adalah CEO aceHTrend.