“Puputan” People In, Pertanda Lapangan Kerja Tidak Tersedia di Aceh

Dalam bahasa Bali, puputan memiliki arti bunuh diri massal, sebagai bentuk perlawanan terakhir demi menjaga harga diri, ketimbang takluk kepada musuh yang hendak menjajah.

Dalam seminggu ini Aceh terlihat lucu. Bukan karena pelawak seperti Apa Lambak, Apa Gense, Lahu ataupun si Bergek. Tapi oleh para aktivis yang dikenal dengan people in yaitu orang di dalam jaringan kekuasaan yang dalam aktivitas bermedia sosial terlihat sudah menyerupai orang kehilangan akal sehat, ketika mencoba menarasikan Aceh sedang tidak apa-apa.

Bukannya memberikan narasi yang sehat. Mereka justru mengolok-olok para kritikus dan pengamat, dengan gaya kekanak-kanakan. Padahal tidak sedikit dari mereka adalah orang-orang yang dulunya dikenal kritis. Bahkan sekarang memiliki jabatan penting di partai maupun di dinas-dinas sebagai penasihat kepala dinas.

Saya selaku masyarakat kecil justru bertanya, seburuk inikah kondisi Aceh? Sehingga untuk bertahan, atau untuk mendapat rekomendasi sebagai anggota people in, seseorang harus melakukan “puputan” berupa tindakan membunuh harga diri agar tetap dipakai/diangkat sebagai penasihat khusus. Hanya demi Rp7.500.000, plus fee agen kegiatan daerah, mereka tidak segan-segan menggadaikan harga diri, marwah anak dan istri.

Semakin orang-orang kelompok rentan itu berteriak dengan cara mengejek oposisi dan pengamat tentang kemiskinan Aceh, semakin terbaca bahwa Aceh tidak sedang baik-baik saja. Aceh sedang tidak sehat. Buktinya, mereka saja yang mengaku intelektual dan aktivis istana dan berteriak Aceh semakin maju, harus melakukan sesuatu yang tidak pantas, hanya demi mempertahankan posisi people in. Betapa lapangan kerja yang pantas tidak banyak tersedia.

Tapi, saya hendak mengingatkan Plt Gubernur Aceh, bahwa telah banyak penguasa yang hancur karena dikelilingi penasehat yang tidak sehat. Berhati-hatilah dengan orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Muammar Salamuddin
Warga Aceh

KOMENTAR FACEBOOK