Melihat [Kemiskinan] Aceh dari Willem’s Toren III

Catatan Perjalanan Ahmad Mirza Safwandy

Boat bermesin D-16 yang saya tumpangi mulai memutar anjungan. Buritannya perlahan mundur membelakangi sandaran, bersiap-siap meninggalkan Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh. Dari terusan Krueng Aceh, boat kayu itu berjalan dengan kecepatan lambat menuju Lampuyang, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Kecamatan yang dituju ini memiliki tiga mukim, Mukim Pulo Breueh Utara, Mukim Pulo Breueh Selatan, dan Mukim Pulau Nasi.

Pulau Nasi berada di tengah gugusan Pulo Aceh. KM Papuyu melayani penyeberangan ke sana, kapal itu berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh dan bersandar di Pelabuhan Lamteng.

Matahari terbenam di Pulo Aceh. [AMZ/aceHTrend]

Di musim angin timur, perjalanan bakal menguji adrenalin, konon lagi pengalaman pertama naik kapal, lengkaplah suasana harap nan cemas. Sensasinya jadi beda bagi seorang pelancong sejati, perjalanan seperti ini selain mengasyikkan juga menantang.

Cuaca di langit Aceh terlihat cerah, hanya sedikit awan kata saya kepada seorang teman, selebihnya kemiskinan celetuknya.

Musim angin kelihatannya sedang bertamasya ke pesisir Aceh, jika angin terlalu kencang, nelayan dan boat penumpang memilih tidak berangkat.

Dari kejauhan buih di lautan serupa angsa putih yang sedang mengepakan sayap. Ombak terlihat pecah di tengah dorongan angin. Percikan air sampai ke geladak utama. Di ruang kemudi nakhoda siaga menjaga jalur agar tak diterpa gelombang.

Pulo Aceh berada di lautan lepas, sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini berada di lintas Samudera Indonesia. Perjalanan ke Pulo Aceh melewati tiga arus, masyarakat di sana menyebutnya arus kecil, arus besar dan terakhir adalah arus lampuyang.

Waktu yang ditempuh sekitar dua jam. Kapal sudah melewati arus terakhir, tak terasa kapal yang ditumpangi telah berada di mulut dermaga Lampuyang.

Berkunjung ke destinasi Pulo Aceh di awal Januari, saya tidak sendiri. Saya ke sana bersama rombongan Fakultas Hukum Unsyiah yang dipimpin oleh Wakil Dekan III Dr. M. Gaussyah SH MH dan peneliti Pusat Riset Ilmu Kepolisian (PRIPOL) Unsyiah di bawah komando Kepala PRIPOL M. Iqbal SH MH. Menghadirkan pembicara yang di antaranya adalah, Dr. Yakub SH LLM., Ria Fitri SH MHum., Nursiti SH MHum., T. Saiful SH M.Hum., Mirja Fauzul Hamdi SH MH, Khalil Yusra, dan Kepala Pusat Riset Ilmu Pemerintahan Kurniawan SH LLM.

Kapolsek Pulo Aceh, Iptu Fadli Saputra dan anggota ikut mendampingi. Mantan Kapolsek Leupung itu aktif membantu giat baksos di Pulo Aceh. Hal itu tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi Polres Aceh Besar.

Dari Dermaga Lampuyang, kami menuju penginapan milik BPKS, walau AC-nya tak jelas dingin, tempatnya nyaman, penjaganya ramah dan ikhlas berbagi hotspot, tersedia dapur pula. Penginapan tersebut hanya terpaut sekitar 400 Meter dari Dermaga Lampuyang. Dekat bukan ?

Setelah merapikan barang dan bawaan, saya berjalan menuju lokasi acara. Melihat kesiapan kegiatan yang akan berlangsung besok sembari menyusuri keindahan alam pesisir Pulau Breuh.

Kegiatan ini bernama Bakti Sosial Terintegrasi, dipusatkan di SMA Negeri 2 Blang Situngkoh dan di UDKP Kantor Camat, Lampuyang, Pulo Aceh, Aceh Besar, pada Jumat (24/01/2019).

***

Pulau yang berada di ujung barat ini menyimpan pesona yang belum terjamah. Tidak hanya pantai, sejarah pun mengabadikannya, mercusuar Willem’s Toren III yang dibangun pada 1875 masih berdiri kokoh di perbukitan Meulingge, mercusuar tersebut menjadi ikon Pulo Aceh.

Bangunan dengan tinggi 85 meter itu merupakan warisan kerajaan Belanda di nusantara. Selain di Indonesia dan di negeri asalnya, kerajaan Belanda juga membangun mercusuar yang berfungsi sebagai alat navigasi itu di kepulauan Karibia.

Mercusuar ini dibangun pada masa Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk menjadi raja, atau 15 tahun sebelum ia mangkat. William III merupakan anak dari Raja William II, Ibunya Anna Pavlovna berasal dari Rusia. Ia berkuasa sejak tahun 1849 sampai meninggal pada tahun 1890. Selama 41 tahun William III berada di tampuk kekuasaan. Tidak hanya menjadi Raja Belanda, pada tahun 1849 ia juga menjadi Grand Duke of Luxembourg.

Puncak Mercusuar Willem’s Toren III, Meulingge, Pulo Aceh. [AMZ/aceHTrend]

Pada dinding mercusuar dikelir warna merah putih. Untuk mengenang William III terpahat tulisan dengan bahasa Belanda, “Gestight in oorlogstijd Willem III Koning Der Nederlanden Groot Hertog Van Luxemburg.Tevens Eun Blijvende Eurende. Voor vi de dapperen en Braven. Die Ter. Bereuhking Van Dit Doel. Des Vredes Hun Bloed En leven Ten Offer.”Gwen.

Kira-kira bila diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia begini, “Penghormatan untuk Yang Mulia William III Raja Belanda sekaligus penguasa Luxemburg. Damailah di perjalananmu yang panjang. Kami mengagumi seluruh keberanianmu. Setiap kehidupan dan perjuangan yang kau persembahkan).” Gwen.

Andai ke Pulo Aceh sungguh tidak sempurna jika tidak berkunjung ke tempat ini, dari Lampuyang hanya 40 menitan. Untuk mencapai ke puncak mercusuar, pengunjung harus menapaki anak tangga, tingginya cukup membakar kalori, keringat sedikit bercucuran, namun belum cukup untuk memadamkan amarah yang terlanjur tersinggung karena profil kemiskinan yang diterbitkan oleh BPS. Cukup !

Akhirnya sampai juga di puncak, semua lelah terbayarkan. Lautan tampak begitu indah– pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya terlihat sungguh menawan, Subhanallah.

Entah mengapa pula, dari atas Mercusuar Willem’s Toren III tiba-tiba saya teringat dengan kemiskinan Aceh, entah siapa yang membisik lagi, dari atas mercusuar tak tampak daratan Ujong Pancu, dari sini kemiskinan Aceh juga tak terlihat, kantor BPS apalagi.

Saya bahagia, ternyata kemiskinan Aceh yang sukses di puncak klasemen sumatera tidak terlihat lagi, padahal di teropong dari puncak Willem’s Toren III, kurang tinggi apa coba? Tapi tak berbekas (kemiskinan-red), ia sudah tak mampu dijangkau oleh pandangan mata — di sini saya sepakat dengan “people in” bahwa telah terjadi penurunan kemiskinan yang dahsyat.

Seumpama orang bijak berkata, kemiskinan bukanlah aib karena ia adalah fakta. Tetapi, tak dapat dipungkiri narasi nyinyir nan menusuk nyaris membuat lambung kapal pemangku kepentingan bocor, perkembangan persentase kemiskinan Aceh naik ke baliho dan turun hanya di baliho, semoga kita tak mendengar bila ada yang menyebutkan Aceh Provinsi Rasa Baliho. Jangan sampai kita hanya jaya di papan reklame. Semoga saja tidak !

***

Setelah puas menikmati eksotisme mercusuar, kami bergegas turun. Angin di atas menara melaju begitu kencang, berbahaya jika berlama-lama di sini.

Hampir-hampir matahari kembali ke peraduan, kami mempercepat langkah untuk pulang. Menunggu sunset terbenam di dekat Alue Raya, sungguh pemandangan yang menakjubkan.[]

KOMENTAR FACEBOOK