Menemukan Masjid Al Aqsa yang Tersembunyi di Bawah Al Kibli

Masjid Al Kibli, yang dipotret dari depan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Reportase Hj. Maria Karsia,MA

Pagi, 24 Januari hari Jumat pukul 4.00 waktu Palestina. Kami berangkat dari hotel New Capitol yang jaraknya kurang lebih 2 km dari kompleks masjid Al Aqsa.
Udara dingin menggigit, 3°C dan hujan sedang membuat jalan yang hanya berjarak 2 km ini jadi sebuah perjuangan, karena ditambah menuntun mami (ibu) saya yang berusia 83 tahun, dan suami saya menuntun ibu mertua kami, usianya 89 tahun.

Jalan kecil setapak selebar lebih kurang tiga meter itu berundak-undak. Tidak bisa membawa kursi roda untuk keluar dari lorong-lorong itu untuk mencapai kompleks Al Aqsa, kecuali dari check point terakhir yang dijaga polisi Israel. Hanya pejalan kaki orang-orang Palestina yang menuju masjid sajalah penunjuk jalan di gelap lorong itu.
Hujan berhenti sebentar, dan berlanjut lagi sampai kami mencapai masjid Al Kibli.

Masjid Al Kibli, yang dipotret dari depan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Ibu saya yang sudah sepuh selalu bertanya, masih jauh? Saya terpaksa berbohong. Sebentar lagi, itu di depan sudah terlihat kubah emas. Padahal saya tidak tahu persis berapa lama lagi kami harus berjalan, selain berdoa penuh harap, masjid Al Aqsa akan segera nampak. Hujan yang lumayan deras hanya sebentar berhenti, seakan menguji ketahanan kami untuk berhenti ataukah melanjutkan jalan. Ibu saya terus berzikir, dan mulai mengeluh, kakinya mulai terasa pegal. Dia khawatir sepertinya gak terkejar salat subuh. Saya menyemangatinya, pasti keburu, saya bilang. Masih lama waktu subuhnya. Tak berani saya melongok arloji di tangan, yang jelas jalanan lorong itu terasa tak berujung. Sudah setengah jam lebih kami berjalan lambat-lambat. Ketakutan tergelincir juga menambah lambat laju jalan kami di tengah guyuran hujan.

Jangan tanya lagi kondisi baju yang kami kenakan, sudah lumayan kuyup dari atas sampai bawah, bahkan sendi-sendi tulang kaki mulai terasa beku, dan badan sedikit menggigil menahan dingin. Sampai di gerbang chek point, jalan sangat licin karena genangan air hujan. Saya tergelincir jatuh menopang ibu saya agar tidak tergelincir.

Ketika sampai di gerbang memasuki kompleks Al Aqsa, batas gerbang yang dijaga polisi Israel, Kubah Emas betul-betul terlihat. Saya mencoba menyemangati ibu saya untuk semangat karena masjid sudah dekat. Ternyata ketika betul-betul dekat, baru kami sadari salat subuh bukan di masjid Kubah Mas tersebut. Pintunya terkunci. Saya pun ingat keterangan guide, bahwa salat berjamaah dilakukan di masjid Al Kibli, dan masjid itu ternyata masih 100 meter lagi di belakang masjid Kubah Mas dari jalan pintu masuk check point tadi. Kembali lagi mami istigfar, astagfirullah, ternyata masih di depan lagi. Saya mencoba menyemangatinya, mau dapat pahala besar, mencapainya juga gak mudah, gak boleh menyerah. Azan Subuh pertama berkumandang. Entah kekuatan apa yang membuat mami akhirnya tanpa sadar mempercepat langkah yang tadi sudah mulai gontai. Teringat bahwa azan di Mekkah 2 kali sebelum salat. Tapi saya tidak tahu pasti apakah kebiasaan itu sama juga di sini.

Masjid Kubah Emas (Dame of The Rock) yang sering dianggap sebagai Al Aqsa oleh orang awam. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Akhirnya kami sampai di masjid Al Kibli dan mulai mencari tempat. Saya baru ingat, belum mengambil wudhu. Cepat-cepat bergegas mencari tahu di mana tempat berwudhu untuk wanita. Alangkah terkejutnya saya, ketika ditunjuk tempat wudhu hampir harus kembali ke arah masjid Kubah Mas. Mau menangis rasanya. Tapi kemudian hujan turun lagi dengan lebat, dan akhirnya saya memutuskan untuk berwudhu saja dengan air hujan karena khawatir akan tertinggal waktu salat subuh. Di dalam, ada seorang wanita Palestina yang sangat fasih berbahasa Inggris. Dia sangat membantu, menjelaskan situasi Jumat di Aqsa. Dia menjelaskan, ada keributan antar pemuda Palestina yang mau salat jumat tapi dihalangi oleh polisi Israel, demikian dia menjelaskan.

Hal menarik di sini, perempuan Palestina sangat hormat kepada orang sepuh. Mereka banyak yang bertanya berapa usia ibunda dan mertua saya. Ketika dijawab hampir 90 tahun dan 83 tahun, mereka langsung mengucap takbir, kemudian mencium tangan serta menyentuh lembut kepala ibunda-ibunda kami. Lalu dengan berbahasa lokal mereka bercerita dari mulut ke mulut kepada yang lain. Mereka sangat respek terhadap orang Indonesia karena menyadari posisi Indonesia yang mendukung kemerdekaan bangsa Palestina.

Perempuan Palestina (tengah) sangat menghormati lansia. [Maria Karsia]

Sebelum salat subuh dimulai, tiba-tiba shaf tempat jamaah wanita diminta untuk turun ke masjid bawah, letaknya di bawah tanah masjid Al Kibli, itulah masjid asli Al Aqsa. Saya tak mengerti mengapa, tapi menurut jamaah lain, untuk melindungi jamaah wanita agar lebih aman, menjaga hal-hal yang tak diinginkan.

Salat subuh selesai, ketika mau keluar, tiba-tiba terdengar para pemuda berhamburan lari sambil berteriak Allahuakbar, Walillailham berkali-kali dan masuk kembali ke dalam masjid. Kami yang sedang bersiap memakaikan sepatu di selasar masjid pun ikut kembali masuk. Teman jamaah satu grup yang terlanjur di luar, menjelaskan di WA grup bahwa pemuda Palestina itu berhamburan kembali karena mereka dikejar oleh polisi Israel. Entah apa sebabnya. Kami kembali ke hotel. Berdasarkan informasi resepsionis hotel, walaupun memang itu bukan hal yang normal, tapi hal itu sangat biasa terjadi, dan katanya kami tak perlu khawatir.

Mesjid Al Aqsa berada di bawah bangunan masjid Al Kibli. [Maria Karsia]

Itulah sekelumit pengalaman salat subuh kami di Al Aqsa. Berikutnya kami juga mendapatkan kesempatan untuk salat jumat di masjid Kubah Mas (Dome of the Rock).

Reportase ini ditulis oleh Maria Karsia, seorang penulis buku.

KOMENTAR FACEBOOK