Analisis: Tiga Tahun Irwandi–Nova, Petani Aceh Tambah Miskin

Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah

Analisis Muhajir Juli

Hampir tiga tahun Irwandi – Nova duduk di kursi eksekutif tertinggi – Pemerintah Aceh. Terakhir, kabar yang beredar dan cukup menarik perhatian publik bahwa “Aceh Termiskin Di Sumatera.” Predikat “termiskin”, masih belum terlalu menyakitkan jika, rakyat masih bisa hidup layak. Sebab, kalimat “termiskin di Sumatera” – berarti kita sedang membandingkan antar daerah. Jika objek pembandingnya sangat makmur, dan kita rakyat Aceh hidup layak, tentu hal tersebut bukanlah persoalan yang harus diratapi.

Maka menjadi penting untuk melihat data-data statistik lainnya, untuk mendapatkan jawaban secara lebih kongkrit. Untuk pertanyaan apakah, selain menjadi “termiskin Di Sumatera.” Bagaimana kehidupan rakyat Aceh itu sendiri.

Pada kesempatan kali ini kita akan melihat bagaimana kehidupan para petani. Mengapa petani? Karena pertanian adalah sektor ekonomi terbesar di Aceh. Dari data-data yang ada, mayoritas masyarakat miskin ada di kelompok tersebut. Untuk ini kita akan melihat data Nilai Tukar Petani (NTP) yang memang lazim dan paling layak digunakan untuk memotret kehidupan petani.

Setelah membaca data NTP tersebut, diharapkan kita akan mendapatkan jawaban atas 4 (empat) pertanyaan berikut;

1.Apakah petani Aceh telah hidup layak? Dengan acuan:Petani telah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

2.Apakah nilai NTP telah meningkat untuk kurun waktu 2017 – 2019?

3.Bagaimana perbandingan NTP antar tahun dalam kurun waktu 2017 – 2019?
Setelah 3 (empat) Pertanyaan tersebut terjawab maka akan terjawab pertanyaan ke-5;

4.Apakah Irwandi – Nova telah berhasil di bidang Pertanian? atau Justru gagal – lebih buruk.

Petani dikatakan telah sejahtera, ketika pendapatan petani melebihi pengeluaran mereka untuk biaya bertani dan biaya hidupnya. Dalam konteks statistik, salah satu cara yang digunakan adalah adalah dengan melihat angka Nilai Tukar Petani (NTP). Ianya bisa: = 100, < 100 atau > 100.

Menurut BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan “perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat pertumbuhan kemampuan/daya beli petani. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, semakin kuat pula tingkat daya beli petani.”

NTP sama dengan 100 (NTP = 100) artinya, jumlah penerimaan petani sama dengan jumlah pengeluaran, baik untuk membiayai usaha pertaniannya dan kebutuhan hidup. Dapat pula dipahami, peningkatan harga jual produk pertanian sama dengan peningkatan harga beli kebutuhan pertanian dan kebutuhan hidup.

NTP lebih kecil dari atau di bawah 100 (NTP < 100), artinya jumlah penerimaan petani lebih kecil dari jumlah yang dikeluarkan. Dapat pula diartikan, peningkatan harga produk hasil pertanian lebih kecil dari peningkatan harga kebutuhan hidup. NTP lebih besar dari atau di atas 100 (NTP > 100), artinya jumlah penerimaan petani, lebih besar dari jumlah pengeluaran petani tersebut. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. Berarti inilah yang kita harapkan terjadi atas petani-petani di Aceh. Karena artinya, apa yang mereka dapatkan lebih dari apa yang mereka butuhkan.
Dengan menggunakan NTP dari konsep pendapatan, di bawah ini adalah ilustrasi bagaimana membaca angaka-angka NTP secara sederhana.

Misalnya, BPS melaporkan NTP petani tahun XXXX, adalah 90,00. Secara sederhana dapat dipahami jumlah penerimaan petani tahun itu hanya 90,00 % dari jumlah pengeluaran untuk biaya hidupnya. Artinya petani kita belum mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat dikatakan pula, mereka belum sejahtera. Perlu tambahan 10 poin lagi (100 – 90) agar petani kita dapat hidup layak.

Lalu seperti apa data statistik untuk NTP Provinsi Aceh?

Di bawah ini adalah data serial NTP untuk rentang waktu 2017 – 2019. Artinya pula sejak Irwandi – Nova memimpin Aceh. Setelah membaca grafik di bawah ini, kita akan mendapatkan jawaban ringkas untuk pertanyaan-pertanyaan pada bagian awal tulisan ini.

Sumber data dari BPS.

Sumber: BPS Aceh, data diunduh tanggal 23 Januari 2019.

Simpulan hasil bacaan data:

1.Apakah petani Aceh telah hidup layak.?

Dari data yang ada dapat kita lihat bahwa nilai NTP masih seluruhnya di bawah 100. Artinya jumlah yang diterima petani masih belum mencukupi jumlah yang harus dikeluarkan petani. Angka terendah adalah 98,18 dan itu terjadi pada bulan September 2017. Sedangkan nilai NTP terendah adalah 89,90, pada Juni 2019.
Artinya untuk selama 3 tahun Pemerintah Irwandi – Nova Petani Aceh belum dapat hidup secara layak.

2.Apakah nilai NTP telah meningkat untuk kurun waktu 2017 – 2019?

Belum hidup layak bukan berarti tidak ada peningkatan taraf hidup. Maka penting untuk melihat apakah ada progres untuk nilai NTP itu sendiri.

Data di atas mengabarkan kepada kita bahwa pada Januari 2017 nilai NTP = 96, 09 satu tahun kemudian, Desember 2017 turun menjadi 93,88, tahun berikutnya turun lagi menjadi 93,71, lalu turun lagi menjadi 93,35. Artinya, secara konsisten, petani kita ternyata terus menurun taraf hidupnya.

3.Bagaimana perbandingan NTP antar tahun untuk kurun waktu 2017 – 2019?

Pertanyaan ini dapat kita lihat dari grafik di atas. Tahun 2017 (garis warna merah) dan Tahun 2018 (garis warna biru) dapat kita simpulkan relatif sama. Perbedaan mencolok hanya terjadi di bulan September, di mana tahun 2017 meningkat secara signifikan dibanding bulan – bulan lainnya. Meskipun belum mencapai angka 100. Sedangkan tahun 2019 (garis warna hijau) terlihat perbedaan jelas bahwa di tahun tersebut kehidupan lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya.

4.Apakah Irwandi – Nova telah berhasil di bidang Pertanian? atau Justru gagal – lebih buruk.

Dengan mambaca simpulan dari jawaban nomor 1 sampai dengan nomor 3, tentu Anda pembaca yang terhormat telah dapat menyimpulkan jawabannya.[]

KOMENTAR FACEBOOK