Dua Hari di Peunaron Baru, Sejenak di Jamur Batang

Lelaki berusia lebih setengah abad itu sering dipanggil Lek Timan. Asli Cilacap, Jawa Tengah. 1980-an dikirim ke Peunaron, Aceh Timur, setelah sebelumnya ia bersama abangnya mendaftarkan diri sebagai peserta transmigrasi.

Malam merambat pelan. Minggu siang yang panas telah digantikan oleh malam yang tak juga adem. Dua pelemparan batu dari tempat kami bercengkerama, ratusan orang berkumpul sembari menikmati hidangan pada sebuah hajatan pernikahan. Lauk-pauk yang disajikan tuan rumah–bila saya tidak keliru, merupakan khas wilayah tanpa laut. Ayam (potong), kerupuk, sayur rebus plus terasi, tumis bunga kates, kuah pliek yang lebih dominan santan ketimbang pliek, serta sedikit ikan tongkol yang dipotong miring. Jenang, biskuit, grieng, ruti ukheu u, menghiasi meja-meja kecil di bawah tenda sederhana.

“Saya bersama Abang mendaftar sebagai peserta transmigrasi ke Aceh. Tidak ada paksaan. Semua bersifat sukarela. Satu orang lagi transmigrasi ke Kalimantan. Beberapa lainnya bertahan di Cilacap,” ujar Lek Timan, sembari menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan oleh istrinya yang saya panggil Bik Tim, Minggu (26/1/2020) malam. Ia mengaku tetap pulang ke Cilacap pada waktu tertentu. Untuk melepas rindu pada keluarga besar.

Saya mendengar cerita tersebut sembari ikut menyeruput kopi. Lek Timan terlihat masih gagah di usianya yang tidak lagi muda. “Ketika tiba di sini, semuanya masih berupa belantara. Hutannya lebat, jalan baru saja dibuka. Jalan tanah. Bila musim hujan susah dilalui. Pemerintah sudah membangun rumah sederhana berbahan kayu,” ujarnya.

Hamparan sawah di Peunaron Baru. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Lek Timan mengenang masa pahit itu. Pada waktu pertama kali datang, warga transmigrasi hanya diberikan rumah dengan lahan halaman sekitar empat rante. Tidak luas. Hanya cukup untuk menanam sayuran. Butuh waktu hingga dua tahun untuk mendapatkan jatah lahan kebun.

Selama dua tahun itu, warga diberikan ransum berupa beras, minyak goreng, gula, garam, bumbu dapur dan ikan asin. Sembako tersebut awalnya dijatah per KK. Tapi setelah adanya protes dari warga, akhirnya dibagikan sesuai dengan jumlah jiwa. “Tidak lama. Hanya dua kali protes, segera diubah pola pembagian. Kan kasihan bila dibagi sesuai KK. Yang banyak anak akan menderita kekurangan pangan,” kenangnya.

Tidak banyak yang sempat kami bincangkan malam itu. Kami buru-buru harus kembali ke rumah pemilik hajatan pesta pernikahan.

***
Walau berada di Aceh Timur, Peunaron Baru, mayoritas ditinggali oleh etnis Jawa. Di sini budaya Jawa masih sangat kental. Mulai dari kuliner hingga pesta pernikahan digelar dalam budaya tersebut.

Umumnya, penduduk di sana berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko. Maka wajar saja bila ada beberapa orang yang saya tanyai apa arti ucapan seorang tetua adat ketika menyambut pengantin pria, mereka menggeleng. Mereka tidak paham, khususnya yang muda. Ada yang mengaku kurang paham. “Itu bahasa Jawa Kromo. Saya tidak ngerti,” jawab seorang pemuda sembari tersenyum.

Husaini, ayah dari pengantin perempuan, mengatakan bila yang memberikan wejangan panjang lebar ketika acara berlangsung merupakan seorang tokoh adat di sana. Dalang wayang yang cukup memiliki nama di Peunaron dan sekitarnya.

Di Peunaron, budaya rewang masih sangat kental. Pesta pernikahan akan mampu digelar oleh siapa saja, karena sistem sosial masih sangat kuat. Walau dalam satu hajatan menghabiskan uang mencapai puluhan juta, tidak akan menjadi persoalan. Warga yang datang ke pesta membawa beras, gula, bihun, biskuit dan lain-lain. Mereka juga serta merta turun tangan menyukseskan acara dari hari persiapan sampai pesta selesai digelar.

Hajatan pernikahan warga di Peunaron Baru. Salah satu keanakeragaman budaya di Aceh Timur yang menarik untuk dilihat. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Ada satu hal yang mulai “ditinggalkan” yaitu pembuatan jenang– semacam dodol, yang kini banyak yang memilih membeli dodol Tanjung Pura. “Lebih praktis dan menghemat tenaga,” ujar beberapa warga.

“Bila diukur dengan uang, membuat jenang sendiri akan sama saja dengan uang yang dikeluarkan untuk membeli dodol Tanjung Pura. Harga per kilonya Rp25.000. Tinggal pesan saja ke sana, ” ujar Husaini.

Di Peunaron dan sekitarnya, pesta pernikahan digelar sejak pukul 10.00 WIB hingga malam. Sejak siang hingga jelang sore, tetamu yang datang adalah undangan dari luar desa. Sedangkan tamu lokal yaitu warga tempatan akan ramai-ramai berkumpul sejak sore hingga pulul 21.30 WIB. Pengantin pria diantar siang hari. Setelah prosesi adat selesai, mereka disandingkan di pelaminan. Usai salat Asar mereka balik badan ke kamar untuk istirahat. Malamnya kembali ke pelaminan hingga pukul 21.00 WIB.

***
Secara umum, jalan menuju Peunaron sudah mulus. Hanya di beberapa titik yang masih sangat rusak. Bagi warga di sana, jalan rusak dan susah dilalui bukan sesuatu yang wow. Karena sudah seperti makan sehari-hari. Pun demikian, mereka tetap mendambakan jalan yang mulus.

Badan jalan longsor, aspal mengelupas, kubangan di jalan, “palung” di badan jalan, adalah gambaran umum sepanjang riwayat di sana. Pun demikian, pemerintah terus mencoba membangun jalan yang representatif. Saya yang sudah beberapa kali ke sana, mengucap syukur karena perjalanan kali ini tidak sangat menguras energi. Jalan mulus beraspal lebih dominan ketimbang yang rusak.

Dulu, air bersih merupakan impian warga. Kini PDAM telah melebarkan sayapnya ke sana. Air sudah mengalir ke rumah warga. Walau secara kualitas, masih jauh dari harapan.

Mobil pengangkut air bersih masih terlihat wara-wiri di jalan. Salah satu sumber air di sana Sungai Jamur Batang, yang mengalir di Gampong Bunin, Serbajadi. Saya sempat melihat mobil pengakut air mengambil air di sana.

Sungai Jamur Batang telah terkenal se antero Aceh. Karena beberapa kali masuk media massa karena ulah buaya yang menerkam warga.

“Di sini tidak ada [buaya]. Sekitar empat kilometer ke bawah. Di sana ada lubuk berbuaya,” kata seorang warga, ketika saya dan rombongan datang hendak mandi sore, Sabtu (25/1/2020).

Sungai Jamur Batang, Gampong Bunin, Serbajadi, Aceh Timur. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Perasaan tetap was-was. Saya membayangkan bila buaya-buaya itu nakal dan merangsek ke hulu sungai. Karena kekhawatiran serupa, beberapa orang tamu membatalkan niat untuk menunaikan “panggilan alam”. Takut, ketika sedang fokus buang hajat, tiba-tiba buaya muncul.

Tempat pemandian Jamur Batang dibagi dua. Satu lokasi boleh didatangi umum. Satu lokasi lagi hanya diperuntukkan untuk perempuan. Di sana juga berlaku larangan, siapapun yang mandi harus memakai basahan standar. Lelaki harus pakai celana pendek. Perempuan bersarung hingga dada. Tidak boleh bagi kaum adam mandi dengan hanya memakai cawat. Kecuali anak-anak.

Hanya saja, pada Minggu pagi (26/1/2020) berlaku pengecualian. Karena di lokasi pemandian umum sedang ada pekerjaan galian C, air sungai keruh. Kami diperbolehkan mandi di lokasi pemandian perempuan yang berjarak ratusan meter dari pemandian umum.

Sungai Jamur Batang dengan airnya yang jernih. [Muhajir Juli/aceHTrend]

***

Setiap Senin, di pusat Kecamatan Peunaron digelar pasar mingguan. Pedagang dari Peureulak berdatangan ke Pajak Peunaron. Mereka menggelar dagangan di kiri dan kanan bahu jalan. Mulai jajanan ringan, hingga pakaian dijual di sana. Di hari-hari lain Pajak Peunaron tetap ramai. Maklumlah, sebagai pusat keramaian, Pasai Peunaron berdenyut hingga pukul 23.00 WIB.

Warga di sana ramah. Senyum warga akan selalu sumringah kala berpapasan dengan kita. Syaratnya kita juga harus tersenyum. []

KOMENTAR FACEBOOK