Reportase Maria: Gerbang Damaskus

Gerbang Damaskus. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Reportase Hj. Maria Karsia

Setelah salat Subuh, Jumat 24 Januari 2020 di Alkibli, kami kembali ke hotel untuk sarapan dan salin baju ganti dan kembali masuk ke kota Al Quds. Kami akan dibawa untuk berkeliling ke beberapa tempat penting di dalam kota Al Quds selama 4 jam sebelum waktu salat Jumat tiba. Kami akan memasuki Al Quds melalui gerbang Damaskus. UNESCO telah memutuskan untuk menjadikan Gerbang Damaskus ini “di bawah perlindungannya”. Gerbang yang dibangun Sultan Sulaiman The Magnificent dari Kekhalifahan Turki Utsmaniyyah/kesultanan Ottoman, telah menyaksikan sejarah Kota Al-Quds selama berabad-abad.

Gerbang Damaskus yang mengarah ke kota Al Quds Lama, menghubungkan bagian utara Palestina, dulunya menuju Damaskus, ibukota Suriah. Gerbang yang berdiri sejak tahun 1537 memiliki menara di kedua sisi pintu gerbang penghubung tembok yang mengelilingi kota. Ada celah di atas pintu gerbang yang digunakan untuk menumpahkan minyak panas ke arah musuh saat terjadi serangan. Bangunan gerbang ini memang seperti benteng.

Gerbang Bab El Amud, yang dibangun Romawi, terletak di bawah gerbang Damaskus. Gerbang ini sudah tidak dipakai. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Baca juga: Menemukan Masjid Al Aqsa yang Tersembunyi di Bawah Al Kibli

Gerbang Damaskus menarik perhatian dunia karena aspek sejarah dan arsitekturnya.

Gerbang ini seperti gerbang lainnya, juga dijaga polisi Israel. Malah sejak 2018 di gerbang ini Israel membangun menara pengawas. Mereka bersenjata lengkap. Menurut beberapa berita online media Palestina, di gerbang ini sering terjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan polisi Israel. Tak jarang bentrokan itu berujung pada kematian.

Menara kontrol polisi Israel, sebelum masuk Gerbang Damaskus. Di sini sering terjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan polisi Israel yang acapkali berujung kematian. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Dulunya ketika Romawi berkuasa di kota ini, ada gerbang di bawah Gerbang Damaskus yang didirikan lebih dari 5000 tahun lalu oleh Romawi, dan dinamakan gerbang Bab El Amud. Namun sejak masa awal Salahudin Al Ayyubi memerintah, gerbang itu ditutup dan tak pernah dipakai lagi.

Apa yang kita temui setelah melintasi gerbang ini, adalah lorong-lorong pasar /kios – kios wilayah Muslim. Layaknya pasar, ada berbagai jenis dagangan yang dijual, mulai dari kios buah, sayur mayur, ikan segar, barang kelontong, toko roti, pakaian dan cemilan manis khas negara Timur Tengah ada di sepanjang lorong itu.

Pasar di dalam lorong yang berbelok-belok. Ragam kuliner khas Arab dijual di sana. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Sebelum kami memasuki gerbang Damaskus, guide kami menjelaskan, dia akan membawa kami ke wilayah Kristen yang berbatasan dengan wilayah Muslim, di mana di sebelah gereja Makam Al Kudus terdapat mesjid Omar (khalifah Umar Bin Khatab) lalu ke perbatasan wilayah Muslim dan Yahudi menuju Tembok Ratapan dan selanjutnya kami dibawa ke Masjid Al Buroq, tempat yang dipercaya sebagai tempat Nabi Muhammad pertama kali tiba di Al Aqsa dan menambatkan Buraq-nya di situ. Lalu, ujung dari perjalanan kami menyusuri kompleks Al Jami Al Aqsa akan berakhir Masjid kubah Mas, atau dalam bahasa Arabnya Qubbat al Sakhrah) atau biasa disebut Dome of the Rock. Di sinilah kami menunaikan ibadah salat Jumat.

Suasana lorong-lorong berbelok-belok. Jika tidak diberitau oleh guide, kami tak tahu jika sudah memasuki wilayah agama berbeda. Misalnya perbatasan lorong muslim, kemudian berbelok, dan dibatasi sebuah lorong pendek akan menyambung ke arah wilayah Yahudi menuju Tembok Ratapan.

Laporan perjalanan Maria karsia di Timur Tengah. Maria adalah penulis buku.