Kolom: Kabjil

Hendra Syahputra (Ist)

Oleh Dr. Hendra Syah

Menjelang tahun baru 2020, saya mendapat hadiah sebuah buku dari seorang profesor. Judulnya, “Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang”. Buku yang ditulis oleh Jeong Moon Jeong ini mengulas hal-hal yang perlu diketahui setiap orang untuk menghadapi orang yang kelewat batas di dalam kehidupan. Orang kelewat batas disebut Jeong dengan istilah “kabjil”. Ini istilah-istilah yang diekspor ke luar. Media Inggris kata Jeong, menyebutnya dengan istilah “indifferent”, dan menyatakan bahwa sikap semena-mena adalah masalah kronis di Korea, saat itu.

Buku ini sangat istimewa bagi saya. Selain karena suka membaca buku-buku motivasi dan essay, saya juga sedang mendapat tugas review dari sebuah kursus panjang yang saya ikuti secara online yang diadakan oleh Harvard Business.
Dulu ketika menyelesaikan sekolah, saya ingin mengikuti kursus ini, namun ada rasa khawatir tidak bisa menyelesaikan target karena kesibukan. Buku ini-pun akhirnya menjadi salah satu referensi dan motivasi saya untuk menulis kolom ini. Seperti kursus kebanyakan, sekilas terkesan sepele dan membosankan plus menghabiskan waktu. Bicara kursus sama dengan bicara belajar lagi, nambah kerjaan!

Awalnya saya ragu mengikuti kursus ini. Pertama, karena saya sedang menjalankan tugas serius yang diembankan kepada saya di tempat saya bekerja. Pekerjaan ini butuh tenaga dan perhatian khusus. Kedua, kursus inipun juga terlalu memakan waktu. Selain karena tugas yang banyak, plus biaya yang tidak sedikit. Tapi ini menjadi penting untuk riset saya di masa depan. Meski diadakan secara online, namun perjalanan kursus online ini tidak semudah yang dibayangkan. Sekali tak mereview tugas, maka pesertanya akan kehilangan kesempatan melanjutkan kursus tema berikutnya. Selain batal, uangpun terbuang percuma.

Dua bulan mikir, akhirnya saya putuskan ikut. Dengan alasan pribadi yang kuat; saya mau, saya ingin terus menggali dan berbagi ilmu, plus ingin menantang diri secara positif. Sekali-kali, ingin melihat “limitasi” saya sampai di mana. Tentu semua ini dengan konsep mengenal diri sendiri terlebih dahulu, lalu memilih yang cocok dan sesuai dengan jiwa saya.

Tugas saya minggu ini adalah membahas artikel dari seorang professor yang bertindak sebagai mentor saya, terkait tema budaya organisasi. Saya diberikan kebebasan memberi perspektif dari mana saya suka. Saya pun memilih dari perspektif yang saya suka dan konsen, profesionalisme kerja!

Saya mulai membahas. Secara profesional, bekerja dengan kemauan diri sendiri, sama artinya dengan tetap bekerja, tetap disiplin meski diawasi atau tidak oleh pimpinan kita di tempat bekerja. Merdeka, dan tidak kehilangan identitas sebagai seorang profesional. Bekerja tanpa tekanan dan melihat situasi rumit sebagai kesempatan baru, itulah yang ingin saya uraikan. Review saya sederhana. Profesor tak suka berlebihan dan dibuat rumit.

Bicara tentang situasi dan profesional kerja, artinya kita akan bicara situasi pemecahan masalah di dalamnya. Diibaratkan berada dalam keadaan perang, kita harus segera menentukan bagaimana menghentikan, menyerang, ataupun menghindari gejala tertentu yang kita hadapi. Bukan sebaliknya, lari dari kenyataan.

Dalam situasi seperti itu, tidak perlu bingung tentang bagaimana karir Anda bertumbuh. Itu bukan soal utama. Yang penting bagaimana beradaptasi dalam perubahan yang cepat dan cenderung sering menghadapi “turbulensi” dengan melakukan tindakan kerja cermat dan teliti serta tidak merugikan.

Saya mengajukan ini kepada mentor. Dalam proses mentoring online, saya pun punya alasan kuat ketika berdiskusi. Saya katakan, saya cemas ketika melihat sebagian besar orang yang menemukan kesulitan ketika berusaha mengembangkan bakat masa depan mereka dengan baik. Tak jarang profesionalisme mereka menemukan masa sulit, kondisi rumit dan jebakan Batman. Hmm, kalau sudah begini kebayang kan, situasinya.

Seorang sahabat saya bercerita, masa-masa sulit dalam pengalamannya bekerja sebagai profesional dengan sebuah perusahaan global paling sukses di Asia, adalah ketika mereka berada di antara rata-rata tenaga kerja yang “miskin” dalam mengembangkan bakat mereka, lalu tiba-tiba dapat kesempatan bekerja dan berafiliasi secara terbuka dengan komunitas yang besar.

Ada juga yang “terjebak” memimpin banyak orang, sementara di satu sisi ia tak bisa memimpin diri sendiri. Tentu kondisi ini, tak akan mampu membuatnya dapat memberikan performa terbaik. Pada organisasi seperti ini, orang-orang yang terjebak tadi akan cenderung mencari jalan keluar yang tidak bijak. Tak jarang merugikan banyak pihak karena terdorong menyelamatkan dirinya sendiri.

Pribadi profesional tipikal seperti ini, sering tidak transparan tentang kebutuhan yang sebenarnya dan tidak jelas tentang opsi pengembangan yang paling efektif dalam jangkauan kepemimpinanya. Yang sering muncul adalah alibi demi alibi. Gunanya? Apalagi kalau bukan karena dirinya tidak rela menjadi kambing hitam dan dicap sebagai pencetus kegagalan.

Sementara, tantangannya adalah ketika Anda bersaing dengan setiap individu dalam sebuah organisasi, di mana kemampuan Anda yang tidak lebih baik dari yang lain, harusnya yang Anda lakukan adalah belajar yang keras, berkolaborasi dan tidak perlu mencari tambalan alasan menutup kekurangan.
Jika Anda menumbuhkan lebih banyak kemampuan, lebih cepat, Anda akan berkinerja lebih baik hari ini. Justru bisa jadi Anda mendapatkan peluang untuk tampil lebih baik di masa depan, dan secara disadari Anda juga membuat siklus baru yang lebih baik di masa depan. Siklus yang membuat Anda bisa bertahan dengan baik. Jadi, bagaimana Anda bisa memetakan jalan menuju hal tersebut? Salah satu jawabannya adalah me-manage budaya organisasi di tempat anda bekerja dengan baik.

Dalam sebuah riset yang dikembangkan oleh Harvard Business Review tahun 2019, mengungkapkan, orang-orang yang bekerja di organisasi dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan dengan tingkat kepercayaan yang rendah, mereka mengalami stres lebih sedikit alias 26 %. Adapun 106% lebih banyak energi di tempat kerja, 50 % produktivitas lebih tinggi, hanya 13 % yang sakit, meningkatnya keterlibatan dalam bekerja sebanyak 76%, dan kepuasan dengan kehiduan mereka sangat tinggi, plus kelelahan bekerja yang rendah.

Mengapa demikian? Karena tempat kerja yang baik akan “memutar” diri menjadi simpul untuk memberdayakan dan menantang pekerja mereka untuk maju secara positif tanpa menekan dan mengancam. Mereka (pengelola atau manajemen) organisasi, akan cemas dan sedih bila mereka kehilangan sumberdayanya, meski hanya seorang. Mereka sangat peduli pada arti sumber daya manusia. Manajemen-pun berprinsip, pekerja dan pemimpin akan bisa berganti kapan saja atau setelah waktunya tiba. Namun legacy berupa keteladanan akan menjadi barang mewah setiap saat pekerja dan pemimpin pergi dalam keadaan sukses dan meninggalkan kesan yang mendalam.

Dalam penelitian Gallup, dikatakan meta-analisis tentang kondisi seperti ini menunjukkan beberapa hal. Keterlibatan yang tinggi pada orang yang bekerja dalam sebuah organisasi—sebagian besar memiliki hubungan kuat dengan pekerjaan dan kolega mereka yang lain. Inilah yang menunjukkan keterlibatan mereka dalam relasi yang positif dan saling mendukung.

Keterlibatan dan kepercayaan positif akan menjelma sebagai bagian dari kontribusi nyata tentang relasi yang baik antara satu dengan lainnya. Kondisi ini akan membuat dunia kerja yang sehat dan pekerja yang sehat secara jiwa dan raga.

Orang-orang dengan kondisi “sehat” akan bisa menikmati banyak peluang dan tantangan untuk belajar — dan secara konsisten mengarah pada hasil positif baik bagi individu manapun dalam organisasi tersebut. Ini akan menjadi bonus dan imbalan yang baik dimasa depan.

Imbalannya itu termasuk memberikan dampak produktivitas yang lebih tinggi, produk kerja yang dihasilkan akan berkualitas lebih baik, dan peningkatan hal lainnya. Bahkan, bisa lebih dari ini. Ketika semua orang yang bekerja akan mengembangkan etos mereka, bukan hanya pada uang, tapi lebih dari itu: kebermanfaatan.

Jeff Bezos dalam sebuah artikel mengatakan: “If you can make a decision with analysis, you should do so. But it turns out in life that your most important decisions are always made with instinct intuition, taste and heart.” – Jika Anda dapat membuat keputusan dengan analisis, itu karena Anda memang harus melakukannya. Tetapi ternyata dalam hidup Anda bahwa keputusan terpenting Anda selalu dibuat dan tidak terlepas dengan intuisi, rasa, dan hati secara naluriah. Artinya meski mampu menganalisa dengan kuat dan tajam, intuisi, rasa dan naluri adalah hal yang tak bisa diabaikan.

Perasaan seperti itu lebih sering bisa membuat Anda merasa damai. Maju tanpa harus menjatuhkan orang lain, hebat tanpa harus mencela orang lain. Dunia ini sudah terlalu letih menemui orang-orang yang senang merusaknya.

Sesekali jalanlah menepi di tempat yang sepi, rasakan ketika tidak ada satupun yang mengenal Anda, bahkan mengingat Anda. Bukankah saat itu terlihat Anda bukan siapa-siapa dan tidak penting? Jika Anda pekerja profesional, sejatinya gelombang ini tidak akan menjadi persoalan hati, tapi justru menjadi energi baru untuk kembali mengatakan kepada diri sendiri. Be Professional, sekalipun diperhatikan atau tidak, diawasi atau tidak, atau bahkan dilupakan.

Menutup kolom ini, saya teringat apa yang dikatakan Jeong Moon Jeong dalam bukunya Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang. Orang-orang kasar sebenarnya tidak terlahir kasar. Manusia berganti pakaian sesuai peran, tetapi ada kalanya mereka sering lupa melepas pakaian tertentu. Sikap semena-mena yang membesar seperti balon, terbang tinggi, dan membuat orang lain kecil di bawahnya. Ingatlah, ini tidak akan menjadi vitamin bagi seorang profesional.

Profesionalisme tak dapat dibeli tetapi memiliki value yang tinggi. Menjadi profesional, tak selalu bisa di jalan yang membuat semua orang puas. Bahkan ketika dalam posisi benarpun. Ingatlah, pembuka tulisan ini: tak mungkin membuat semua orang senang. Ketika banyak orang beramai-ramai memilih menjadi “kabjil”, tetaplah Anda memilih menjadi bermanfaat []

KOMENTAR FACEBOOK