Reportase Maria: Jejak Islam nan Toleran di Gereja Makam al Kudus

Maria Karsia, berdiri di depan pintu Mesjid Umar. [Koleksi Maria Karsia]

Laporan Hj. Maria Karsia, M. A

Setelah melewati lorong dan berbelok-belok selama kurang lebih 20 menit setelah gerbang Damaskus, guide kami mengumumkan bahwa rombongan mulai memasuki dan melewati jalan setapak menuju Gereja Makam Kudus. Situs ini dipercaya oleh banyak orang Kristen sebagai Golgota, tempat nabi Isa Alaihissalam disalib dan kuburnya yang kosong berada. Di mana dikatakan nabi Isa pernah dikuburkan, dan bangkit dari kematian.

Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus (nabi Isa Alaihissalam).

Baca juga: Menemukan Masjid Al Aqsa yang Tersembunyi di Bawah Al Kibli

Gedung gereja ini berbentuk arsitektur kubah layaknya bangunan gereja dan masjid di seluruh penjuru Tanah Suci (Al Quds) 3 Agama Samawi. Arsitektur kubah awalnya merupakan milik Gereja Ortodoks Bizantium yang dilestarikan oleh Islam ketika tentara Islam merebut wilayah-wilayah politik Kekaisaran Bizantium pada abad ke VII Masehi.

Kami tidak masuk ke dalam gereja dan hanya berfoto di muka halamannya. Dalam kondisi hujan kembali turun lebat dan angin. Tangan menggigil kedinginan, tapi saya tetap mengambil beberapa foto tampak muka gereja itu, karena guide kami mengatakan, gereja ini menjadi saksi kisah kebesaran khalifah Umar bin Khatab ra.

Jadi ceritanya begini:

Khalifah Umar Bin Khatab ra, adalah khalifah yang menjabat setelah Abu Bakar. Pada masanya, Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pasukannya berhasil menguasai Mesir, Palestina, Mesopotamia, sebagian Syria, Afrika Utara sampai ke Armenia, yang dahulunya dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium (Romawi).

Khalifah Umar sangat dikenal dengan kesederhanaannya, sikap jujur dan tegas. Pada masa penaklukan di tahun 637 M, pasukan Islam mulai mendekati Yerusalem. Uskup Agung Gereja Yerusalem, Uskup Sophronius ingin Yerusalem diserahkan kepada pasukan Muslim dengan jalan damai. Utusan gereja dikirimkan untuk menyampaikan persyaratan dari uskup bahwa kunci gerbang Yerusalem akan diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khatab secara langsung dan meminta beliau untuk datang menerimanya sendiri ke Yerusalem.

Suami Maria karsia berpose di depan pintu Mesjid Umar. Di samping mesjid Umar tersebut ada toko kecil souvenir menjual salib dan alkitab bagi ummat Kristen. Ini menandakan bahwa memang masjid itu ada di wilayah Kristen. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Di dalam buku The Historians of the World Vol. VIII melukiskan kebersahajaan sang khalifah saat berjalan menuju pintu gerbang kota. “…Penakluk Persia dan Syiria itu datang ke Yerusalem hanya bersama seorang hamba sahaya, dengan menunggang seekor unta merah, membawa sekarung gandum, sekantung kurma, sebuah kantung terbuat dari kulit binatang, serta selembar tikar untuk salat.”
Pemandangan itu jelas membuat penduduk Yerusalem yang mayoritas beragama Kristen terperangah dan lantas menaruh rasa hormat dan kagum. Mengapa? Karena sebelumnya, mereka tak pernah melihat seorang penguasa besar berpenampilan laiknya rakyat kebanyakan. Tak juga pembesar Persia dan Kaisar Romawi.

Baca juga: Reportase Maria: Gerbang Damaskus
Tapi begitulah Umar, justru ketika memasuki gerbang Yerusalem, yang duduk dipunggung untanya adalah asistennya dan beliau berjalan di sampingnya, karena Umar dan asistennya bergantian menunggangi unta tersebut dan giliran khalifah Umar yang berjalan kaki ketika mereka memasuki gerbang kota Yerusalem. Setelah penyerahan kunci Yerusalem, dan penandatanganan pakta perjanjian antara khalifah Umar dan Uskup, Khalifah Umar diajak untuk berjalan – jalan. Saat tiba waktu salat, dan pada waktu itu mereka tepat berada di Gereja Makam Al Kudus (Church of the Holy Sepulchr), Khalifah ditawari untuk sholat di dalam gereja. Umar pun menolaknya dengan halus, dan memberikan alasannya. Dia tak ingin membahayakan gereja tersebut. Jika dia salat di dalam gereja, beliau khawatir ummat Islam akan menyangka bahwa karena Umar pernah salat di situ, maka gereja itu nanti akan dijadikan masjid. Umar lalu salat di halaman luar gereja tersebut.

Gereja Makam Al-Kudus, dipotret dari depan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

55 tahun kemudian, anak dari Salahudin Ayyubi, Afdhal Ali di tahun 1193M. Dia mendirikan masjid tepat di lokasi khalifah Umar bin Khatab mendirikan salat. Pembebasan Yerusalem oleh Umar bin Khatab tercatat dalam sejarah sebagai penaklukan tanpa pertumpahan darah. Padahal 23 tahun sebelumnya Yerusalem pernah jatuh ke tangan Persia dan terjadi pembantaian terhadap rakyat Yerusalem.

Selama 462 tahun ke depan wilayah ini terus menjadi daerah kekuasaan Islam dengan jaminan keamanan memeluk agama dan perlindungan terhadap kelompok minoritas berdasarkan pakta yang dibuat Umar ketika menaklukkan kota tersebut. Pakta perjanjian tersebut masih tersimpan sampai sekarang di dalam Gereja Makam Al Kudus (Gereja Makam Suci atau Church of Holy Sepulchr).

Itulah kisah bersejarah dan sangat penting yang relevan sepanjang sejarah sampai masa kini dan akhir zaman nanti, contoh nyata dari seorang khalifah sahabat Nabi, yang mempraktekan Islam adalah rahmat bagi semesta. Umar telah menunjukkan arti toleransi dan kemenangan yang sesungguhnya. Kebesaran Islam yang merupakan rahmat bagi semesta direpresentasikan oleh kepemimpinan khalifah Umar bin Khatab dari caranya memperlakukan wilayah jajahan.

Penulis adalah seorang penulis buku.