Ismail Rasyid, dari Aceh ke Transporter Internasional

Ismail Rasyid, CEO Trans Continent. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Laporan Muhajir Juli

Sempat setahun menjadi wartawan di Batam, Ismail Rasyid banting stir. Ketika menemukan bisnis yang dia sukai, dia pun bersedia digaji Rp150.000. Sejak resign dari perusahaan yang telah memberikannya gaji besar, kini perusahaan yang ia dirikan telah memiliki 19 cabang di Indonesia dan dua di luar negeri di bawah bendera PT. Trans Continent.

Sebagai pengusaha jasa transporter, Ismail Rasyid sudah boleh berbangga. Sejak membangun unit usaha sendiri pada tahun 2003, kini Ismail telah memiliki lima perusahaan. Pertama PT. Trans Continent yang didirikan sejak 2003. Kemudian PT. Royal Marine, PT. Royal Indonesia, PT. Equator Media Vaganza, PT. Indo Asia Prima, dan yang paling muda–masih dalam perencanaan dan akan menjadikan Aceh sebagai basis bisnisnya yaitu Royal Andalas Energi.

Walau sudah memiliki grup usaha yang sangat besar dan spesialis pengangkut sianida di Indonesia, Ismail Rasyid tidak mau jumawa. Ia tetap menganggap masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun sektor ekonomi di Indonesia. Untuk Aceh, dia memberikan perhatian khusus.

Ismail Rasyid, CEO Trans Continent. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Kepada beberapa wartawan Aceh yang diundang khusus olehnya ke salah satu kantor cum gudang Trans Continent di Tanjung Morawa, Sumut, Minggu (2/2/2020) Ismail Rasyid mengatakan dalam dunia usaha, ada tiga hal yang menjadi kunci utama. Pertama expert (keahlian). Kedua, trust (kepercayaan) dan ketiga network (jaringan). Tiga hal itu merupakan pilar utama dalam dunia bisnis.

Ismail menjelaskan, expert yaitu sebuah perusahaan harus memiliki keahlian di bidang bisnis yang digeluti. Keahlian tersebut harus komplit, dengan sumber daya pimpinan dan staf yang bukan sekedar tahu, tapi juga harus ahli (expert).

Kedua, trust, yaitu integritas pengelola perusahaan yang melahirkan kepercayaan mitra bisnis. Kejujuran dan profesionalitas menjadi paduan yang harus menyatu, agar mitra bisnis bukan hanya menaruh kepercayaan, tapi juga nyaman ketika mempercayakan sebuah pekerjaan untuk dilakukan.

Driver Trans Continent berpose bersama Ismail Rasyid dan tim manajemen. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Ketiga adalah jejaring. Semakin luas jejaring bisnis, maka peluang mendapatkan pekerjaan di belahan bumi manapun, bukan sebuah masalah. Jejaring sangat berpengaruh juga pada cost yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

“Bisnis transporter bisa zero capital. Syaratnya tiga hal tadi. Ahli, berintegritas dan memiliki jaringan yang luas. Bila tiga hal itu sudah ada, bisnis ini tidak lagi butuh uang. Sembari duduk-duduk ngopi di sebuah tempat wisata, uang bisa masuk jutaan dolar hanya dalam hitungan jam,” kata Ismail. Wartawan Aceh dari aceHTrend, Rakyat Aceh, TVRI, Serambi Indonesia, Waspada Aceh, mendengarkan dengan seksama.

Secara keseluruhan, Trans Continent telah memiliki 375 karyawan. 15 persen adalah orang Aceh. Tujuh persen merupakan alumnus Unsyiah. Trans juga sudah memiliki 204 unit truck berbagai jenis untuk berbagai kebutuhan industri, 480 container dan ragam alat kerja industri transporter lainnya. Dari sisi area kerja, Trans melayani jasa transporter di berbagai proyek di dalam negeri.

Dari Gaji Paling Kecil

Ada kisah menarik yang dilakoni oleh Ismail setelah lulus kuliah. Ia merantau ke Batam dan bekerja di sebuah perusahaan media. Setahun di sana, ia tidak berkembang. Bakatnya tidak di sana. Ia pun banting stir. Kemudian bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bertahun-tahun di sana, ia telah mendapatkan gaji jutaan.

Suatu hari ia merasa apa yang telah digelutinya, bukan pekerjaan yang selama ini dia impikan. Ia resign dari sana dan melamar di sebuah perusahaan transporter. Ketika wawancara, seorang kolonel TNI yang dikaryakan sebagai direktur perusahaan, hanya berani menggaji Ismail Rp150.000 per bulan. Ismail berhitung. Tak cukup untuk biaya hidup. Tapi ia menyukainya. Ia ingin belajar tentang bisnis transporter. Dia menantang sang kolonel, dalam waktu tiga bulan, Ismail akan memperlihatkan sebuah perbedaan. Sang kolonel tertantang.

“Kalau dalam tiga bulan saya mampu, maka Bapak harus menggaji saya…., tapi kalau tak ada perkembangan, saya sendiri yang akan keluar, tanpa perlu Bapak suruh,” ujar Ismail, mengulang kisah puluhan tahun lalu.

Ismail Rasyid (kanan) saat kunjungan industri di cabang PT. Trans Continent, Tanjung Morawa, Sumut, Minggu (2/2/2020) [Muhajir Juli/aceHTrend]

Dalam waktu satu bulan, Ismail berhasil melakukan “keajaiban”. Dia benar-benar fokus hingga berhasil melaksanakan tugas dengan baik. “Di pengapalan pertama barang ke luar negeri, keringat dingin mengucur deras. Alat komunikaai saat itu bukan seperti saat ini. Semua via faks. Alhamdulillah, saya sukses melakukan tugas tersebut. Setelah itu berbagai tugas diembankan kepada saya. Laba perusahaan terus meningkat dan gaji saya semakin besar,” ujar Ismail.

“Ketika ditawarkan training, saya memilih ke Jakarta. Selain hitungan lebih ekonomis, daripada pelatih yang didatangkan ke Sumatera, saya juga bisa belajar manajemen kerja bukan hanya di dalam ruang training. Tapi bisa belajar dari semua lapisan manajemen. Pimpinan setuju,” ujar Ismail.

Sekembalinya dari Jakarta, Ismail bertanggungjawab membentuk mental karyawan lainnya. Dia pun bertindak sebagai tutor melatih teman-temannya. Perubahan besar pun terjadi setelah itu. Kinerja perusahaan semakin menanjak dan laba pun kian besar.

Resign dan Bangun Usaha Sendiri

Tahun 2003 Ismail Rasyid mendirikan Trans Continent. 2005 dia resign dari perusahaan tempat ia menemukan style bisnis yang dicintainya. Ia meninggalkan semua kemewahan di tempat kerja lama dan fokus membangun bisnis sendiri. Benar-benar dimulai dari bawah.

Integritas dan keahlian serta jejaring yang telah dia miliki sebelumnya, dimanfaatkan secara maksimal. Tidak butuh waktu lama, seiring dengan wujudnya damai di Aceh pada 2005, Trans Continent pun bergerak menanjak anak tangga kesuksesan di luar Aceh.

Ia memulai kiprah Trans Continent di Kalimantan. Seiring perjalanan waktu, lelaki kelahiran Matangkuli, Aceh Utara tahun 1968, terus mengibarkan bendera Trans Continent di berbagai proyek besar dan Kawasan Ekonomi Khusus, di berbagai propinsi.

Sebagai founder sekaligus CEO, kini Ismail bisa memonitor perusahaan melalui telepon genggam. Termasuk memantau pergerakan truck di semua proyek yang sedang mereka kerjakan. Pun demikian, ia tetap turun ke lapangan lengkap dengan pakaian kerja.

Di dunia internasional, PT. Trans Continent bergabung dalam tiga organisasi besar. Yaitu Global link, Freightplus Group, Group Heavylift Specialis. Di luar negeri, Trans Continent kini memiliki cabang di Australia dan Filipina. []

KOMENTAR FACEBOOK