Jaroe Bak Langai Mata u Pasai

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Benarkah Aceh miskin? Pertanyaan itu telah menimbulkan gejolak. Pemerintah Aceh setidaknya sudah menunjukkan penolakan. Mereka menyebut bila data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mengalami error yang cukup serius. Mencapai 20 persen, menurut seorang ekonom universitas ternama di Serambi Mekkah.

Sikap Pemerintah Aceh, terlihat mendua dalam hal isu kemiskinan. Di satu sisi secara tegas menunjukkan “rasa tidak percaya” pada data yang disajikan oleh BPS, di sisi lain, grafik penurunan kemiskinan di Aceh yang menunjukkan bahwa “pemerintah bekerja” dipakai sebagai bahan kampanye kesuksesan mereka. Pemerintah memasang baliho-baliho besar di berbagai sudut Banda Aceh, dan pariwara di media, tentang pencapaian tersebut. Padahal sumber data juga dari BPS.

Benarkah Aceh tidak memiliki apa-apa? Bila dilihat dari Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh memiliki keduanya. Ditambah lagi dengan berbagai keistimewaan lain yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Mulai dari Dana Otonomi Khusus Aceh, Dana Bagi Hasil Migas (DBHM), hingga Dana Desa yang digelontorkan oleh Pemerintah Pusat untuk seluruh desa di Indonesia.

Lalu, mengapa Aceh masih saja bermasalah secara ekonomi? Nilai Tukar Petani (NTP) 2019 di bawah angka 100. Terburuk dalam tiga tahun ini. Ada masalah akut di persoalan ini. Masalahnya apa? Menjawabnya tentu tidak mudah. Tapi persoalan ini bisa diraba dengan kasat mata.

Buktinya, dengan kewenangan yang ada, pemerintah sendiri masih saja terlihat seperti kehilangan arah dalam membangun skema peningkatan kesejahteraan rakyat. Dengan SDA yang melimpah, Aceh terseok-seok. Added values tak kunjung muncul dari berbagai komoditas yang dihasilkan negeri mulia ini. Ditambah lagi, tak fokusnya hasil yang ingin dicapai. Campur aduk dalam belanga ketidakpastian.

Benarkah Aceh salah urus? Mungkin saja. Saya justru menyebutnya bukan mungkin. Tapi benar. Aceh benar-benar salah urus. Tapi ini bukan kesalahan mutlak Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Hasil yang terjadi hari ini merupakan buah karya bersama banyak pemimpin di Aceh, mulai dari gubernur, bupati, DPR, hingga elemen lain. Dari berbagai periode.

Lalu mengapa pula Nova yang harus dibebankan semua persoalan ini? Ini bukan tentang Nova. Siapa saja yang menjadi pemimpin di Aceh, akan harus menanggung beban yang cukup berat ini. Termasuk–andaikan, saya yang jadi gubernur, maka perkara ini harus saya pikul.

Berkelit bukan solusi. Justru Nova masih punya waktu untuk menata Aceh. Sebagai pemimpin, saya percaya pada kapasitasnya. Hanya saja, Plt harus mulai mengajak semua elemen di Aceh untuk duduk bersama merumuskan langkah apa yang harus dilakukan. Tak pula semuanya harus dibebankan kepada Bappeda. Nova butuh orang lain yang memiliki kapasitas besar untuk merumuskan itu. Swasta profesional yang telah terbukti mampu bekerja tanpa bergantung pada anggaran pemerintah. Mereka adalah kunci. Dunia usaha profesional bukan saja memiliki gagasan, tapi juga memiliki “pedang” untuk mengeksekusi rencana besar mewujudkan Aceh Hebat.

Aceh akan maju bila orang-orang hebat kelahiran Aceh, mau pulang untuk membangun tanah tumpah darahnya. Pemerintah harus merangkul dan meyakinkan mereka, bahwa tanpa “awak droe” profesional, yang memulainya, mustahil milioner dari ujung benua bersedia membangun Aceh.

Memajukan Aceh tidak cukup hanya mengandalkan orang pintar. Aceh butuh ahli. Ahli di bidangnya masing-masing. Mereka yang memiliki keahlian, memiliki kepercayaan di dunia usaha masing-masing, serta memiliki jejaring yang luas. Bukan jejaring politik meulih. Tapi jejaring bisnis.

Bayangkan, bila satu orang saja putra Aceh yang sukses di dunia usaha di luar, bersedia pulang. Berapa jejaring bisnis yang akan melirik Aceh? Hitung saja bila yang mau pulang lebih dari 20 orang, berapa banyak yang kelak akan melirik Aceh?

Tulisan ini bisa saja dinilai jumawa. Tapi saya yakin bahwa sebuah misi akan tercapai bila dikerjakan oleh ahlinya. Dalam hadih maja Aceh disebutkan: jaroe bak langai mata u pasai. Peribahasa tersebut secara tersirat telah memberikan pelajaran bahwa kesuksesan sebuah pekerjaan baru akan hadir bila terkoneksi dengan luar.

Aceh tidak bisa berjalan parsial. Aceh harus terhubung dengan pasar internasional. Hub-nya? Para usahawan Aceh yang telah melanglang buana di berbagai belahan dunia dan sukses di bidang usahanya masing-masing. []

Penulis adalah CEO aceHTrend.