Reportase Maria (4): Berbagi Dinding Dengan Yahudi

Tembok Ratapan dipotret dari kejauhan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Laporan Hj.Maria Karsia, MA

Kami melanjutkan perjalanan menuju lorong wilayah Muslim dan berbatasan dengan wilayah dengan lorong pemukiman tempat orang Yahudi tinggal. Tujuannya untuk melihat dari atas bagaimana pemandangan perbatasan Baitul Maqdis yang bersebelahan dengan Tembok Ratapan orang Yahudi.

Juga karena kami sebagai penziarah Muslim tidak diperbolehkan untuk memasuki wilayah Tembok Ratapan, tempat orang Yahudi berdoa.

Tembok ini diyakini oleh orang Yahudi sebagai sisa-sisa dari salah satu dinding sebuah kuil Yahudi atau dinding yang mengelilingi halaman kuil tersebut, sisanya merupakan dinding batu menjulang sekitar 15 – 20 meter. Tembok ini dianggap situs sakral oleh orang Yahudi, dan ribuan orang Yahudi dari seluruh dunia berziarah di sana setiap tahun.

Orang Yahudi menganggap dinding tersebut itu sebagai bait Bait Suci Kedua yang telah berdiri selama ratusan tahun. Raja Herodes memerintahkan renovasi dan perluasan kuil sekitar tahun 19 SM, dan pekerjaan itu tidak selesai sampai sekitar 50 tahun kemudian.

Kubah Al Sakhrah atau Dome of The Rock dan Tembok Ratapan dilihat dari ketinggian. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Baca juga: Menemukan Masjid Al Aqsa yang Tersembunyi di Bawah Al Kibli

Gerbang Damaskus

Jejak Islam nan Toleran di Gereja Makam al Kudus

Kuil tersebut kemudian dihancurkan oleh Romawi sekitar tahun 70 M, hanya beberapa tahun setelah selesai. Tembok Ratapan diyakini sebagai lokasi sisa kuil yang tersisa.
Setelah kuil itu hancur, banyak orang Yahudi pergi ke dinding yang tersisa, meratapi kehancuran kuil dan berdoa.

Tembok Ratapan istilah yang diberikan oleh orang non-Yahudi, sedangkan Orang Yahudi menamakan tembok itu Tembok Barat, atau Kotel HaMaaravi dalam bahasa Ibrani.

Selama lebih dari 3.500 tahun, Yerusalem berulang kali dikuasai oleh berbagai penakluk. Penguasaan Tembok Ratapan terus menjadi titik pertikaian hingga abad ke-20 dan awal abad ke-21. Setelah ada Israel, Yahudi menguasai tembok mulai 1967.

Beberapa berita dan keterangan guide kami, pada tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang berdoa di Tembok Ratapan sebagai bentuk usaha rekonsiliasi antara Khatolik dan Yahudi.

Umat Yahudi dari seluruh dunia yang datang ke sini dan juga wisatawan, ada juga dari keyakinan yang berbeda, (mungkin kecuali orang muslim) berdoa di Tembok Ratapan karena diyakini memiliki “telinga Tuhan.”

Orang juga bisa menitipkan mengirimkan doa atau menggunakan Kaddish, sebuah doa khusus untuk orang Yahudi, ditulis dalam sebuah kertas dan diselipkan di celah-celah dinding yang disebut sebagai kvitelach.

Tembok Ratapan dapat dikunjungi setiap saat sepanjang hari, dengan pengamanan yang sangat ketat di sana. Pengunjung digeledah untuk alasan keamanan.

Ada pintu masuk terpisah untuk pria dan wanita, meskipun akhirnya dapat berkumpul kembali ketika menghadap ke arah tembok tersebut.

Kami melihat dari kejauhan dan ketinggian, semua yang berdoa di tembok itu berpakaian khas orang Yahudi, hitam dan perempuannya juga mengenakan baju blouse panjang, juga berwarna hitam. Lalu di kejauhan terlihat kubah emas dari Dome of The Rock. (Kubah Sakhrah) atau orang Indonesia biasa menyebutnya kubah Mas atau juga Baitul Maqdis.

Keterangan dari guide kami, mengatakan sebetulnya di balik tembok itu adalah sebagiannya adalah dinding Masjid Alburaq.

Untuk menunjukan dan membuktikannya, guide kami kemudian membawa kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Masjid Alburaq.

Masjid ini merupakan sebuah masjid mungil, lokasinya disebut sebagai Al Haram Asy-Sharif di kota Tua Yerusalem, yang berada di ujung selatan Tembok Barat. Bangunan kecil ini, berada di sudut barat daya kompleks Al-Aqsha dan diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq, kendaraan yang digambarkan mirip kuda bersayap yang dikendarai oleh nabi Muhammad SAW pada saat Mikraj.

Maria Karsia, mengabadikan kehadirannya di mesjid yang sempit, sebagai tanda bila ia sudah ke negeri yang selalu diperebutkan itu. [Ist, koleksi Maria Karsia untuk aceHtrend]

Ada sebuah cincin besi yang menempel di dinding, di dalam mesjid yang dipercaya sebagai tempat Nabi Muhammad mengikat Buraq tersebut.

Memang ketika kami memutar untuk memasuki kompleks Al-Aqsa dari gerbang yang berbatasan dengan Tembok Ratapan, dari mulai mulut gerbang itu kami dapat melihat Kubah Sakhrah yang indah di sisi kiri menuju ke arah Masjid Al Buraq. Ketika kami sampai ujung dan sampai di depan masjid tersebut, guide kami pun memberitahu, bahwa mesjid terletak di bawah. Kami harus menuruni tangga dari pintu masjid yang sempit dan anak tangga yang hanya cukup dipakai bergiliran oleh pengunjung. Tinggi nya kurang lebih 20 meter ke bawah untuk sampai di lantai masjid.

Tak dapat berlama-lama di dalam masjid tersebut, karena pengunjung harus bergiliran masuk dan keluar dengan tertib.

Keluar dari masjid itu kami kemudian melihat sebuah bangunan yang dipakai sebagai museum Islam. Kami melintasinya dan kemudian berbelok ke arah masjid Alkibli (Alqibly) dan juga melintasinya lurus menuju Masjid Kubah Mas atau Kubah Sakhrah atau Dome of The Rock, tempat kami akan menunaikan sholat Jumat. []

Maria Karsia adalah seorang traveler, penulis buku. Pernah menjadi wartawan.

KOMENTAR FACEBOOK