Reportase Maria (5): Meluruskan Paham Tentang Al-Aqsa

Mesjid Al-Qibli (Al-Aqsa) dipotret dari depan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Oleh Hj. Maria Karsia, MA

Setelah mengunjungi Masjid Alburaq kami kembali ke depan Masjid Al-Qibli.
Subuh kami sudah berkesempatan salat di Masjid Al-Qibli yang lebih dikenal dengan Masjid Al-Aqsa dan sekarang kami dibawa untuk lebih dalam mengetahui sejarahnya, walau tidak terlalu detail yang dipaparkan oleh tour guide kami, orang Palestina.

Orang mungkin tidak banyak yang paham, bahwa yang disebut Al-Aqsa itu bukan hanya sebuah bangunan berupa masjidnya saja. Yang dimaksud Al-Aqsa termasuk ruang terbuka tanpa atap, halamannya yang luas, pohon-pohon zaitun dan kurma, bangunan museum, pokoknya keseluruhan tempat yang berada di dalam tembok benteng, inilah yang dinamakan (masjid) Al Aqsa, atau biasa disebut sebagai Haram al Sharif.

Warga tempatan membagikan kurma untuk jamaah seusai shalat Jumat. Kurma asli Palestina memiliki tektur legit dan rasanya yang lezat. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Istilah Al-Aqsa bagi orang Islam Palestina, dan juga merupakan hal yang baru saya pahami ketika tiba di Jerussalem, bahwa hal tersebut bukan hanya merujuk pada bangunan masjid, tapi seluruh jengkal tanah dan segala isinya, baik yang di atas maupun di bawah permukaan tanah dinamakan Al-Aqsa. Itulah pengertian yang dipegang teguh oleh orang-orang Arab Palestina.

Di dalam lingkungan Haram Al Sharif terdapat beberapa mesjid yakni, Masjid Al-Qibli, Masjid As-Shakrah (Dome of the Rock), Masjid Al-Aqsa Al-Qadim (terletak di bawah Al Qibli yang artinya masjid Al-Aqsa kuno/tertua), Masjid Al-Buraq, Masjid Al-Magharibah, juga ada Masjid An-Nisa, dan juga termasuk Mushola Marwani di ruang bawah tanah sisi tenggara masjid Al-Qibli . Sedangkan di dalam Al-Qibli di sisi kirinya juga ada mushola kecil dan sederhana, yang berumur lebih tua dibanding Al-Qibli sendiri, dibangun oleh khalifah Umar bin Khatab. Sekarang orang menyebutnya sebagai Mesjid Umar. Masjid ini berbeda dengan Masjid Umar yang bersebelahan dengan Gereja Makam Kudus yang telah saya tuliskan sebelumnya, dan letaknya agak jauh dari Al-Qibli.

Sejumlah warga Palestina sedang melakukan pengumpulan donasi untuk Gaza. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Al-Qibli memiliki lorong besar di tengah dan tiga lorong yang terletak masing-masing di sisi kanan dan kirinya jadi total ada 7 lorong yang sangat indah. Masjid Al-Qibli memiliki satu kubah besar seperti peluru berwarna hitam keabu-abuan yang terbuat dari kayu di sisi dalamnya dan dilapisi timah di sisi luarnya dengan tinggi 17 meter. Panjang masjid ini mencapai 80 meter dan lebarnya 55 meter. Luasnya mencapai 4000 meter persegi. Di dalamnya terdapat 11 pintu masuk dan pada saat ini dapat menampung sampai 5500 jamaah.

Masjid ini disebut juga dengan nama Al-Jami’ Al-Qibli, kita mengenalnya dengan sebutan masjid Al-Aqsa.

Posisi Al-Qibli ada di sebelah selatan Al-Shakrah atau Dome of the Rock . Masjid Al-Qibli merupakan kiblat ummat Islam sebelum dipindah ke Masjidil Haram di Mekkah, karena itulah dinamakan dengan Al-Qibli.

Sejumlah pemuda Palestina bercakap-cakap sebelum keluar dari mesjid. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Masjid kubah berwana abu-abu kehitaman ini, didirikan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah dan disempurnakan pada masa anaknya Al-Walid bin Abdul Malik antara tahun 86-96 H/705-714 M.

Ketika dibangun pertama kali, masjid ini mempunyai 15 lorong. Setelah terjadi gempa pada masa dinasti Fathimiyah oleh Az-Zahir Li I‘zazi Dinillah menjadi 7 lorong, seperti sekarang ini.

Masjid Al-Qibli dibangun dari kayu dan batang pohon seperti Masjid Nabawi dulu. Saat itu dapat menampung 1000 jemaah. Kemudian diperluas oleh Khalifah Muawiyah bin Sufyan dan dapat menampung 3000 jamaah.

Mesjid Al-Qibli (Al-Aqsa) dipotret dari depan. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Ketika Tentara Salib menguasai Al-Quds, mereka membagi masjid Al-Qibli menjadi tiga bagian. Pertama, kantor komando pimpinan Tentara Salib, kedua dijadikan tempat tinggal pasukan berkuda serta bagian ketiga, dijadikan gereja. Ketika Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Al-Quds pada tahun 583 H/1187M beliau mengembalikan fungsi masjid Al-Qibli sebagaimana mestinya.[]

Maria Karsia adalah seorang traveler, penulis buku dan juga pernah menjadi wartawan.

KOMENTAR FACEBOOK