Perempuan Tak Boleh Benar

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Saya trenyuh. Kecewa sekaligus iba. Tapi tak tahu harus meluahkannya kepada siapa. Ini tentang perempuan. Tentang sumber asal kehidupan umat manusia. Sebagai sumber, perempuan selalu ditempatkan pada kelas dua. Dihina, diremehkan, bahkan tak dianggap ada. Padahal tanpa perempuan, dunia ini akan pincang.

Sejak kecil, banyak perempuan di dunia ini yang dilihat sebagai sumber masalah. Bila ditilik ke belakang, di komunitas Jahiliyah di Mekkah, perempuan merupakan jenis kelamin yang tidak pernah diinginkan. Mereka menganggap perempuan merupakan kelompok yang hina, tidak pantas hidup. Aib yang mencoreng wajah keluarga. Kejahiliyahan Quraisy kala itu sudah mencapai level kebiadaban paling tinggi. Mereka mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang lahir.

Di tengah hancurnya moral penduduk Mekkah kala itu, Allah mengutus Nabi Muhammad. Islam datang dengan cahaya penyelamatan peradaban. Di dalam ajaran Islam perempuan diberikan tempat terhormat. Sebagai ibu dan istri, perempuan diberikan posisi mulia. Bahkan Allah memberikan porsi khusus untuk perempuan dalam satu surah: An-Nisa.

Sejak lama, di negeri ini yang mayoritas Islam, perempuan kerap dipandang sebagai pihak yang tidak perlu diperhatikan. Dianggap tidak penting dan aib. Perempuan dipersepsepsikan sebagai kaum yang lemah, hamba yang tidak layak dipercaya dan jenis kelamin yang serba peragu, mudah terpengaruh serta tidak boleh benar. Di berbagai level perbincangan, bias gender selalu terjadi. Dari level diskusi panteu jaga, ceramah agama hingga diskusi level pemangku kepentingan tingkat tinggi, perempuan sering dianggap tidak ada.

Lihatlah, bila ada percekcokan di dalam sebuah keluarga, perempuan kerap tersudutkan. Nyaris tak ada yang mau mendengarkan mereka. “Jangan melawan suami, nanti durhaka.” Adalah kalimat propagandis yang selalu ditujukan kepada perempuan. Publik tak mau tahu seberapa bejatnya seorang suami. Mereka tidak mau melihat itu. Bila ada cekcok atau perceraian, istri (perempuan) tidak boleh benar. Harus salah.

Setiap tahun, angka perceraian di Aceh semakin meningkat. Saya melihat angka tersebut tidak sebagai statistik semata. Bila perceraian yang tercatat di mahkamah dan mayoritas diawali dari gugatan dari istri, berapa besar lagi perempuan yang memilih diam dan enggan ke mahkamah untuk menyelesaikan persoalan mereka? Tentu lebih besar. Dari banyak diskusi yang saya ikuti, baik secara formal dan informal, secara tersirat kaum hawa menyampaikan protes. Mereka kecewa dengan pernikahannya. Mereka kecewa kepada suaminya. Andai waktu bisa diulang, beberapa di antara mereka memilih tidak menikah. Atau tidak akan mau menikah dengan lelaki yang kini menjadi suami mereka. Ada masalah besar yang sedang terjadi di komunitas bangsa ini. Ada juga yang berharap suaminya berubah. Berubah menjadi suami yang friendly kepada istri dan anak-anaknya.

***
Saya besar di tengah konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI. Di tengah konflik, perempuan memegang peranan penting. Kala itu lelaki adalah kelompok yang paling tidak berdaya. Perempuan (istri) memegang peranan di semua bidang. Mulai ekonomi, sosial budaya, keamanan hingga mitra seks suami yang mengidap lemah syahwat karena tertekan secara politik. Perihal lemah syahwat itu, bisa dilihat dari maraknya penjualan obat kuat kala itu hingga ke kampung-kampung.

Ada sebuah peristiwa memilukan yang membuat pertahanan diri saya nyaris runtuh. Saya membaca sebuah peristiwa kemanusiaan. Seorang istri diperkosa oleh aparat di depan suaminya. Dia meronta tapi tak berdaya. Setelah peristiwa keji itu, dia menjadi perempuan yang serba salah. Merasa kotor, dianggap sampah dan akhirnya merasa kehilangan harga diri. Akhirnya ia dicerai oleh sang suami. Sang suami tak bisa melupakan satu hal pada peristiwa itu. Ia sempat melihat sang istri memegang pinggang tentara yang memerkosanya. Ia menyimpulkan istrinya menikmati pemerkosaan itu.

Pada peristiwa lainnya di tengah gejolak konflik Aceh, seorang perempuan bersuami diperkosa oleh kelompok militer yang datang di tengah malam buta. Setelah peristiwa itu, perempuan tersebut kehilangan gairah hidup. Orang di sekelilingnya tidak ada yang memberikan dukungan. Semua seolah-olah menjauh. Dalam sebuah catatan yang sempat saya baca, si perempuan pernah curhat. Ia ingin dimandikan oleh seorang teungku, untuk menggugurkan kotoran yang ada di tubuh dan jiwanya. Ia ingin mandi kembang. Ia merasa sangat kotor dan tidak pantas untuk diterima sebagai perempuan seutuhnya di tengah komunitasnya.

Saya lupa. Tidak ingat lagi dari mana muasal sumber itu. Tapi saya mengingatnya: Islam bisa dianut oleh komunitas manapun. Tapi kejayaan sebuah negeri hanya akan diberikan bila penduduk di negeri itu telah berbuat adil. Termasuk adil terhadap perempuan. Adil terhadap perempuan, berarti telah berbuat adil kepada ibu. Bukankah ibu berasal dari perempuan? Di dalam Islam, ibu merupakan sesuatu yang sangat mulia. []

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK