Biru yang Mendatangkan Kecewa

Muhajir Juli. CEO aceHTrend. Peminat kajian politik, hukum dan sosial budaya. [Teungku Hendra Keumala/aceHTrend]

Oleh Muhajir Juli

Warna adalah identitas. Di berbagai belahan dunia, partai politik yang berafiliasi kiri kerap menggunakan merah sebagai warna politiknya. Di sini kiri tidak harus komunis. Karena di belahan bumi lain, merah juga digunakan sebagai warna politik partai konservatif. Di Indonesia, merah digunakan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai revolusioner lainnya yang kerapkali digambarkan sebagai rumah politik kaum proletar.

Di Aceh, Partai Aceh (PA) menggunakan merah sebagai identitas politik mereka. Warna yang sama juga dipergunakan oleh Partai Rakyat Aceh (PRA) yang digawangi oleh simpatisan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan rumpun politik senada yang mayoritasnya anak muda yang menamakan dirinya kaum progresif. Sayangnya, PRA tidak berhasil menarik simpati rakyat. Wacana pembangunan yang sempat hangat dibincangkan di berbagai forum diskusi kala itu, menguap seperti embun pagi. Setidaknya saya tidak melihat gagasan itu dilanjutkan oleh eks PRA yang kini ada di berbagai partai politik. Mungkin mereka telah lelah menjadi proletar tanpa alat produksi.

Demikian pula identitas politik Kristen yang kerap diberi warna jingga. warna-warni yang membentuk formasi pelangi, diasosiasikan sebagai perwakilan aspirasi kelompok LGBT yang memiliki afiliasi seksual di luar manusia normal.

Pelangi yang sejatinya indah dan disukai oleh semua orang yang memiliki penglihatan normal, kemudian dimusuhi oleh khalayak. Siapapun yang menggunakan pelangi sebagai simbul dari identitasnya, akan diasosiasikan sebagai LGBT. Walau kenyataannya tidak demikian.

Partai-partai Islam kerap menggunakan warna hijau, putih, maupun kombinasi antara hijau, putih, hitam dan kuning emas, sebagai atribut politiknya. Di Indonesia, partai-partai besar Islam seperti PPP, PKB, hingga partai gurem seperti PBB menggunakan hijau sebagai warna politiknya.

Di Bireuen, warna latar biru yang digunakan Plt Bupati Bireuen di sebuah spanduk ucapan selamat Hari Pers Nasional (HPN) 2020 menjadi biang kericuhan di dunia maya. Dr. Muzakkar A. Gani, yang kini duduk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bireuen, “digugat” oleh sejumlah kalangan.

Gugatan itu menggelinding bak bola salju di media sosial. Bahkan beberapa kalangan justru secara terang-terangan menampakkan ketidaksukaannya kepada sikap Muzakkar yang dinilai begitu cepat membuang “kuning” yang menjadi warna politik almarhum H. Saifannur, S. Sos., yang mangkat pada Minggu (19/1/2020). Saifannur adalah politisi Partai Golkar, yang kemudian mengajak serta Muzakkar A. Gani sebagai wakilnya ketika maju pada Pilkada Bireuen 2017.

Ketika digandeng oleh Saifannur, Muzakkar adalah birokrat yang dikenal dekat dengan Golkar. Banyak yang menyebut bila Muzakar adalah birokrat yang memiliki warna Golkar, lazimnya birokrat senior lainnya di Aceh. Walau demikian, secara lebih tepat disebut bila Muzakkar adalah birokrat tanpa warna politik.

Setelah beberapa waktu terpilih dan menjadi Wakil Bupati Bireuen, Muzakkar bergabung ke Partai Demokrat. Langsung dipercaya sebagai pucuk pimpinan partai yang didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beberapa kalangan terkejut. Muzakkar yang “meu Golkar” ternyata mendarat ke Demokrat. Spekulasi pun tersebar bila Muzakkar sedang mempersiapkan diri menuju Bireuen 1. Itu hanya rumor. Setidaknya Muzakkar belum pernah mengutarakannya kepada publik.

****
Polemik tentang warna biru di spanduk HPN yang dipergunakan oleh Muzakkar memunculkan ragam analisa. Akhirnya Muzakkar buka suara bahwa warna biru juga warnanya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ini yang dilematis. Karena artai Demokrat juga biru. Di sisi lain, banyak politikus yang mengucapkan selamat HPN, tapi tetap menggunakan warna politik masing-masing sebagai latar belakang. Muzakkar terjebak di dalam prasangka? Antara biru PWI dan biru Demokrat. Demikianlah yang terjadi di dunia maya.

Muzakkar tersandera dalam anggapan. Ia dinilai terlalu cepat menggantikan warna kuning ke biru. Kuning yang dipersepsikan sebagai Golkar, merupakan partai yang paling berdarah-darah di lapangan ketika memperjuangkan pasangan Saifannur-Muzakkar (Fakar) pada Pilkada Bireuen 2017. Semua unsur politik Golkar turun gunung. Bahkan mereka membentuk berbagai buffer aksi untuk memperkuat konsolidasi. Lembaga kepemudaan seperti Poros Muda Saifannur (PMS) Dibentuk secara serius. Setelah pasangan Fakar menang mereka pun berevolusi menjadi Poros Muda Aceh. Bintangnya tetap Ilham Akbar.

Mereka yang kecewa pada Muzakkar, menilai Sang Plt terlalu tergopoh-gopoh. Mereka terluka dengan biru. Apalagi biru yang mereka maksudkan, bukanlah kelompok yang berdarah-darah di lapangan. Walau harus diaku bahwa Demokrat adalah partai yang ikut mengusung Fakar.

Muzakar dinilai terlalu cepat berjalan. Ini soal rasa, bukan perkara benar atau salah.

“Mengapa tidak, biru baru digunakan setelah Pak Muzakkar dilantik sebagai Bupati Bireuen secara definitif. Bila sudah dilantik, semua orang sudah dapat memahaminya. Tapi kalau sekarang, justru membuat banyak orang tersinggung. Ini soal rasa yang muncul di dalam hati. Bukan perkara benar atau salah,” ujar seorang teman diskusi di sebuah warkop di Banda Aceh.

Pendapat demikian ada benarnya. Walau Muzakkar juga tidak dapat dihadirkan ke mahkamah untuk mempertanggungjawabkan hal itu. Tapi saya sepakat pada satu hal. Politisi harus memiliki sensitifitas yang melebihi mereka yang sedang jatuh cinta yang terperangkap dalam long distance relationship.

Penulis adalah CEO aceHTrend. Penikmat kajian politik, hukum dan sosbud.