Sembari Gendong Bayi, Guru SMP 4 Pante Bidari Lalui Jalan Berlumpur ke Sekolah

Husnul Khatimah, guru SMP 4 Pante Bidari, Aceh Timur, menempuh jalan berlumpur, demi mengajar anak bangsa. [Foto dikutip dari akun Facebook Atjeh Timeline]

ACEHTREND.COM,Idi- Beberapa lembar foto yang diposting oleh akun Facebook Atjeh Timeline pada Senin (10/2/2020) mencuri perhatian warganet. Di dalam foto-foto itu, seorang guru perempuan berkacamata, melalui “lautan lumpur” sembari menggendong bayi merah.

Pada foto lainnya yang sepertinya dipotret dalam rentang yang tidak begitu lama, sang guru, dengan memakai baju batik yang panjangnya mencapai betis, dan dipadukan dengan celana kain, terlihat sedang mengajar di dalam kelas. Di foto tersebut guru tersebut tetap menggendong bayi dan tanpa alas kaki.

Kepala SMP Negeri 4 Pante Bidari, Islahuddin, kepada aceHTrend, Kamis (12/2/2020) mengatakan jalan menuju sekolah yang beralamat di Gampong Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, sudah sejak lama susah dilalui.

Bila hujan melanda, jalan tanah menuju ke sana akan berlumpur. Hanya mobil jenis double cabin yang bisa menembus lumpur tebal tersebut.

“Guru yang fotonya tayang di Facebook itu bernama Husnul Khatimah. Yang memotret adalah suaminya,” ujar Islahuddin.

Husnul Khatimah sedang mengajar di sebuah kelas di SMP 4 Pante Bidari, Aceh Timur. Buruknya jalan menuju ke sana tidak membuat semangatnya turun. ia tetap mengajar seperti guru-guru di sekolah-sekolah di kota. [Foto dikutip dari akun Facebook Atjeh Timeline]

Islahuddin mengatakan, dari jalan Banda Aceh-Medan, jarak jarak tempuh menuju sekolah sekitar tiga jam bila ditempuh dengan sepeda motor. Lamanya waktu tempuh karena kondisi jalan yang sangat rusak. Motor tidak bisa digeber kencang.

Atas kondisi yang demikian buruk, Islahuddin tidak ingin itu menjadi kendala. Proses belajar mengajar untuk anak negeri tetap harus berjalan normal.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, di sekolah itu sebuah rumah dinas disulap menjadi penginapan. Bila musim hujan, guru-guru yang mendarmabaktikan dirinya di sana, akan menginap di rumah tersebut.

“Terpaksa rumah dinas itu kami olah menjadi penginapan. Guru laki-laki dan guru perempuan dipisah. Pilihan tersebut untuk mengantisipasi agar proses PBM tetap berlangsung normal. Kasihan anak-anak bila gurunya terlambat datang karena persoalan buruknya jalan menuju ke sekolah,” ujar Islahuddin.

Islahuddin menyebutkan, untuk perbaikan jalan, pihak dinas sudah turun meninjau ke lokasi. “Pelan-pelan ada kemajuan untuk ke pedalaman ini. Pak Bupati (Hasballah Thaib) juga sudah meninjau lokasi ini,” pungkasnya. []

Editor: Muhajir Juli