Dosen Unsyiah Serahkan Donasi untuk Membeli Boat Nelayan Krueng Raya yang Rusak oleh Badai

Teuku Muttaqin Mansur (memakai topi Aceh) didampingi Pawang Imram, Mukim Rizani, dan Sekjen Kuala Rahmi Fajri menyerahkan donasi yang sekaligus digunakan untuk membayar boat yang dibeli dari warga setempat, Rabu (12/2/2020). @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Jantho – Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Teuku Muttaqin Mansur, menyerahkan donasi kepada nelayan Gampong Mon Keude, Krueng Raya, Aceh Besar yang boatnya rusak akibat badai pada 25 Juni 2019 lalu. Boat “thep-thep” tersebut merupakan milik Pawang Amri yang digunakan oleh Pawang Burhan untuk mencari nafkah dengan sistem bagi hasil.

Namun, setelah boat itu hancur dan terbelah dua di laut lepas sekitar 60 mil dari daratan lebih dari setengah tahun lalu, kedua warga tersebut kehilangan sumber mata pencariannya, khususnya Pawang Burhan yang sangat tergantung pada boat tersebut.

“Donasi yang kita galang sejak dua bulan terakhir berhasil terkumpul sebesar Rp6,2 juta. Sebelumnya, masing-masing nelayan ini juga mendapatkan bantuan dari Baitul Mal Aceh sebesar Rp3 juta per orang, jadi totalnya ada Rp6 juta. Nah, uang ini kita gabungkan dan kita membelikan boat lain sebagai gantinya seharga Rp12 juta berupa boat second,” ujar Teuku Muttaqin di sela-sela serah terima pembelian boat antara Pawang Amri dengan salah satu warga di Gampong Mon Keude, Krueng Raya, Rabu petang (12/2/2020).

Donasi tersebut katanya berasal dari sumbangan individu dengan nominal yang beragam, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Bahkan, donaturnya ada yang berdomisili di Jakarta. Termasuk di antaranya merupakan uang zakat.

Boat nelayan di dermaga Mon Keude @aceHTrend/Ihan Nurdin

“Hari ini kami sudah menyampaikan amanah para donatur yang meminta agar donasi mereka diserahkan kepada nelayan, tetapi mereka ingin diberikan dalam bentuk boat yang bisa langsung digunakan sebagai alat kerja oleh nelayan. Kami sudah lega sekarang,” kata Teuku Muttaqin, didampingi Sekjend LSM Jaringan Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA) Rahmi Fajri, Panglima Laot Krueng Raya Pawang Imran, dan Mukim Krueng Raya Teungku Rizani.

Baca juga: Boat Hancur Kena Badai, Nelayan Krueng Raya Butuh Bantuan

Teuku Muttaqin menjelaskan, pembelian boat untuk Pawang Amri ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara kedua nelayan tersebut dengan Panglima Laot dan Mukim Krueng Raya. Ke depan pihaknya sedang mengupayakan agar bisa membelikan boat yang sama untuk Pawang Burhan. Dengan begitu, pria kepala empat itu tidak perlu lagi menggunakan boat orang lain untuk mencari nafkahnya.

Sementara itu, Pawang Imran selaku tetua nelayan sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan kepada nelayannya itu. Saat ini katanya Pawang Burhan sudah kembali melaut walaupun masih menggunakan boat orang lain.

“Ke depan saya berharap semoga bapak-bapak ini masih bisa mengusahakan boat untuk Pawang Burhan,” ujarnya.

Mayoritas warga Krueng Raya khususnya Gampong Mon Keude berprofesi sebagai nelayan. Umumnya mereka menggunakan boat kecil atau sering disebut boat “thep-thep” yang berkapasitas mesin 30 PK. Namun mereka tetap nekat melaut hingga di 35-60 mil laut walaupun nyawa jadi taruannya. Kondisi itu tak terlepas dari semakin berkurangnya jumlah tangkapan yang bisa mereka dapatkan di wilayah lhok Krueng Raya. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, kehilangan atau rusaknya boat ibarat kehilangan kaki bagi para nelayan tersebut.[]