Kolom: Industri Memaafkan

Hendra Syahputra (Ist)

Oleh Dr. Hendra Syahputra

SUATU pagi di awal Februari 2020, saya mendapat pesan undangan dari Direktur Eksekutif Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Aceh. Ia seorang sahabat baik saya, Eva Khovivah.
Saya diundang hadir untuk bertemu dengan Shimizu Kyoko, Program Coordinator Asian Health Institute (AHI), Jepang. Kami ngobrol tentang youth empowerment atau pemberdayaan pemuda dalam kegiatan-kegiatan AHI Institut di Aceh. Saya tidak melewatkan kesempatan emas itu, dan melakukan persiapan agar saya paham betul aktifitas mereka.

Sebelumnya September tahun lalu, Eva juga mengundang saya untuk memberi materi pada acara pemuda bertajuk Aceh Youth Town Hall, sebuah kegiatan yang mengajak anak muda untuk peduli malnutrisi.

Selain hadir dalam diskusi, Eva juga meminta saya untuk memberi “pemantik” dalam diskusi yang berlangsung pagi sampai siang. Kami yang hadir masing-masing memberikan insight terkait kegiatan yang pernah kami lakukan bersama dalam mendukung youth empowerment di Aceh.

Eva membuka acara dengan sedikit berkisah tentang pengalamannya saat ikut training program AHI tahun 2016. Ia menjadi salah satu alumnusnya. Sebagai penyelenggara AHI melakukan visit ke Aceh. Selain bertemu dengan organisasi yang konsen dengan program mereka di Aceh, pihak AHI juga mengunjungi alumnusnya untuk melihat kegiatan dan perubahan yang sudah mereka lakukan dalam mendukung pembangunan SDM serta pemberdayaan perempuan.

Sharing yang berlangsung setengah hari itu sangat menarik. Kami tidak hanya belajar tentang bagaimana melakukan pemberdayaan kepada pemuda, tapi juga mendapat cerita penyemangat luar biasa dari Kyoko tentang bagaimana masyarakat Jepang, termasuk upaya anak mudanya bisa bangkit kembali, terutama pasca Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Pengeboman yang dilakukan AS dengan dalih persetujuan dari Britinia Raya, sebagaimana tertuang dalam perjanjian Quebec berlangsung 6-9 Agustus 1945, membuat kedua kota itu hancur lebur.
Salah satu yang membuat saya tersentuh dalam diskusi itu: ketika Kyoko bercerita upaya Pemerintah Kota Hirosima dan Nagasaki membuat masyarakatnya menjadi masyarakat pemaaf, bukan pendendam.

Kata Kyoko. Pemerintah setempat serius mengelola kurikulum pendidikan perdamaian sejak di SD dan memasukkan materi bertema Peace (perdamaian) termasuk menyertakan guru dalam program tersebut. Mereka melakukannya dengan semangat dan suka cita. Pemimpin kota termasuk sosok yang paling serius membuka wacana “hidup tanpa dendam sejak dini” untuk anak di tingkat sekolah dasar.

Hasilnya, melalui penerapan kurikulum pada anak-anak tersebut, membuat mereka terbiasa memberi testimoni dalam bentuk “story-telling“, di kelasnya setiap minggu. Mereka bercerita bagaimana semangat memaafkan itu mengalir dan diproduksi dalam keluarga mereka. Pemerintah dan guru mengajak anak-anak sejak di tingkat SD untuk belajar memaafkan dan tidak menyimpan dendam, karena mereka meyakini: dendam akan mematikan kreatifitas dan kerja otak.

Kyoko bilang. Mereka sadar, tujuan masa depan masih terbuka lebar di hadapan mereka. Dendam bukanlah cara ampuh untuk meraih masa depan hebat dan bermartabat. Ia juga meyakini damai yang disemai sekarang bukan saja untuk orang yang hidup di masa sekarang, namun juga untuk penduduk dunia di masa depan, termasuk Hiroshima dan Nagasaki.

Sambil menyimak, pikiran saya melambung jauh. Damai, bukan saja untuk kita yang hidup, namun juga bagi siapapun yang akan melanjutkan hidup di masa sekarang dan mendatang. Kita tidak hanya butuh semangat untuk menyebarkannya tapi juga termasuk menjalankannya. Butuh semangat dan energi besar untuk meraihnya. Rugi sekali jika setiap pribadi harus bangun pagi-pagi langsung ingat kebencian dan dendam serta rencana jahat kemarin yang belum sempat ditunaikan. Ibaratnya, belum lagi matahari sempurna terbit, “kita” sudah kehabisan energi positif karena terlalu banyak berpikir dendam dan segala cara “serigala” dalam mengimplementasikannya.

Sekilas sharing Kyoko seperti sharing biasa dan dalam pernyataan biasa. Tapi bagi saya dan kami yang mendengar, itu luar biasa. Bukan saja membuat hati tenang, tapi juga manfaatnya.
Kita dapat belajar dari Kota Hiroshima dan Nagasaki yang dihujam bom atom tahun 1945. Lima tahun pasca kehancuran akibat bom atom itu, tepatnya tahun 1950, Jepang mendapati bonus demografi. Di mana saat itu, negara berjuluk Negeri Sakura ini mendapati 70 persen penduduk berada di usia produktif, dengan umur antara 16-40 tahun. Ini peluang sekaligus tantangan hebat bagi Jepang, dan kita bisa melihat keberhasilan mereka sekarang, misal dibidang teknologi.

Jepang sudah menjumpai bonus demografi tahun 1950 dan berhasil mewujudkan kerja kerasnya saat itu. Hasilnya kualitas SDM mengubah banyak hal yang baik di zaman sekarang. Sementara Indonesia akan memasuki era itu mulai tahun 2020-2030. Perlu kerja keras dan konsentrasi yang fokus pada tujuan utama. Satu lagi cara Jepang yang perlu kita contoh: bagaimana mereka mengembangkan diri dan menjadi masyarakat pemaaf.

Benar adanya, salah satu yang harus ada pada setiap jiwa adalah memaafkan. Saya jadi teringat buku yang pernah saya baca karya Malcolm Gladwell. Yang judulnya David and Goliath. Mengisahkan bagaimana ketika si lemah melawan raksasa. Isinya tentang kekuatan memaafkan dan melupakan. Tanpa sifat memaafkan, seseorang tidak bisa memimpin dengan baik.

Pada halaman terakhir dari bab ketujuh, diceritakan kisah tentang Rosemary Lawlor. Seorang laki-laki yang mengerahkan kekuasaan negara tanpa perasaan maaf dan akhirnya membuat pemerintahannya melakukan percobaan tanpa hasil yang baik dan biaya yang mahal. Sementara kaum perempuan saat itu menjauh dari janji-janji palsu kekuasaan dan menemukan kekuatan untuk memaafkan, lalu menyelamatkan persahabatan, pernikahan, dan kewarasannya. Dunia terbalik! kata Malcolm.

Bukan saja dari kisah yang mendunia itu kita bisa belajar. Saya juga mendapatkan pengalaman batin ketika mengisi materi kepada puluhan jurnalis profesional Aceh berusia muda di Aceh. Suatu kali, saya diberi kesempatan memberi training pengembangan kapasitas berbasis bakat kepada jurnalis yang rata-rata umurnya di bawah 30 itu, tapi pengalaman mereka luar biasa.

Kami memulai pembelajaran dengan skema sederhana, bagaimana belajar menerima sebuah “kekalahan” dan melakukan gerakan memaafkan. Dan bagaimana mengakui jika benar dan salah, plus mengakui kelebihan orang lain dan belajar keras menjadi lebih baik. Meskipun, bukan benar-benar dalam kondisi yang benar-benar kalah.
Kalah hanya dalam anggapan dan bisa jadi pandangan. Kekalahan seperti ini, lebih sering disebabkan karena ketidaksiapan “dunia-industri” yang tidak selalu tersusun rapi. Saya mengajak, kita bisa belajar dari apa yang menjadi trend “di luar” sana, dalam dunia kerja.
Betapa sulitnya banyak jiwa ketika menerima dirinya kalah dan bahkan “dikalahkan” dengan sebab yang tidak secara nyata diketahui. Tapi kenyataan, yang paling sulit dijaga sebagian orang adalah tidak bisa menerima bila dirinya “kalah” dibandingkan orang lain. Selalu terlihat baik bila dia di depan dan tidak bisa menerima keadaan bila dirinya kalah (tertinggal di belakang). Padahal kompetisi sejati itu adalah bisa mengalahkan diri sendiri, bukan sebaliknya.

Tak peduli usia organisasi, sejatinya orang-orang yang merasa sudah paling senior, paling berpengalaman, ketika mendapati dirinya “kalah”, bisa berubah jadi seperti anak-anak yang meminta jajan pada orang tuanya sambil merengek. Senjata yang paling dikedepankan olehnya adalah menyalahkan orang lain demi menutup salahnnya. Tak jarang, untuk menutupi kekalahannya, dia bully orang lain padahal secara tidak langsung ia menunjukkan perilaku kekanak-kanakan.

Industri apapun di muka bumi ini, tidak ada yang aman-aman saja. Sebagai pekerja di setiap industri, tentu modal mengenal diri sendiri adalah salah satu amunisi paling baik dan patut dimiliki siapapun.
Industri apapun akan mudah sekali berubah. Kadang beranomali secara ekstrem, tak jarang juga mengalami guncangan turbulensi yang cukup parah dan tidak terduga. Namun sejatinya dalam kondisi ini bukan saja nahkoda yang disorot, tapi juga armada yang sedang dinahkodai, sudahkan armada mendapatkan penumpang yang punya tujuan jelas ketika ia memutuskan jalan?

Beberapa waktu lalu saat saya mendampingi novelis nasional Akmal Nasery Basral di Aceh, ia bilang: selain memaafkan dan mengalah, kita juga perlu mengembangkan kekuatan dari sebuah penolakan.

Ia menceritakan kisah sastrawan dunia asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez (1927-2014). Satu tahun sebelum menerima Nobel Sastra yang bergengsi (1982), ia masih menerima penolakan dari The New Yorker yang menolak untuk mempublikasikan cerpennya berjudul The Trail of Your Blood in the Snow.
Surat penolakan The New Yorker (1981) tidak membuat Gabo (nama panggilannya) patah arang. Gabo adalah penulis novel Seratus Tahun Kesunyian (Cien Años de soledad_, 1967) yang sudah diterjemahkan ke sekitar 40 bahasa dan terjual lebih dari 30 juta eksemplar. Tapi dengan sabar, mengalah dan menerima hikmahnya, setahun kemudian Gabo membalas telak Redaktur The New Yorker dengan mendapatkan Nobel Sastra.

Maka jangan hancur karena satu-dua luka di hati, ditolak atau tidak dianggap. Fokuslah untuk selalu menghasilkan karya terbaik dari waktu ke waktu. Segala yang dijalankan dengan fokus, sabar, mengalah dan memaafkan tidak akan memupuk subur “industri” dendam dalam tubuh kita. Malah kebalikannya, hal itu menjadi “bahan bakar” baru industri memaafkan dan membahagiakan dalam jiwa.[]

Penulis adalah akademisi UIN Ar-Raniry. Praktisi komunikasi dan talent mapping.

KOMENTAR FACEBOOK