Film Ujian Negara dan Fenomena Metrosentris

Mutia Elviani

Oleh Mutia Elviani*

Jam sudah menunjukkan angka pukul 11.00 WIB, soal untuk Ujian Nasional (UN) belum juga tiba di SMP Buloh Seuma Aceh Selatan. UN yang seharusnya sudah dimulai pukul 08.00 pagi, harus terlambat tiga jam. Di samping itu, salah satu siswa dari kelas tiga tidak hadir untuk mengikuti UN. Hal itu membuat Bu Fitri, satu-satunya guru honor asal Padang, Sumatera Barat yang mengajar di SMP Beuloh Seuma panik. Dia akhirnya harus menjemput siswanya di rumah untuk mengikuti UN.

Ketimpangan pendidikan di daerah pedalaman ini banyak terjadi di daerah di seluruh Indonesia. Siswa SMP Buloh Seuma kurang mendapatkan jatah jam belajar di sekolah dan suatu waktu harus menghadapi UN. Menjelang UN mereka tidak belajar dan mereka tidak takut jika tidak lulus. Saat UN dilaksanakan, terlihat kebingungan siswa ketika mengisi lembar ujian. Bagaimanakah mereka menghadapi UN itu?


Di lain sisi Bu Fitri adalah salah satu g,uru (PJOK) di SMP Buloh Seuma yang sering mengisi kekosongan jam belajar ketika guru lain tidak hadir dan dia mengerjakan semua keperluan sekolah seperti membuat administrasi sekolah, dan hanya dia guru yang peduli terhadap siswanya.

Film ini persis dengan apa yang selalu kami isukan menyangkut “critical problem of education in Indonesia which is uneven distribution of good education quality across provinces”, tidak meratanya distribusi pendidikan yang berkualitas di seluruh provinsi di Indonesia. Film ini menjadi representasi buruknya pendidikan di tanah air khususnya di daerah terpencil. Padahal sudah banyak sekali upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi mungkin upaya-upaya tersebut masih dalam tahapan dan pastinya harus selalu positif dan tetap semangat bahwa insyaallah ke depannya pasti lebih baik. Anyway, mungkin juga film ini bisa menjadi sebuah kritik dan bahan masukan terhadap pembuat kebijakan pendidikan, stakeholders, pemerhati pendidikan untuk berfikir lebih keras lagi, kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (di daerah terpencil).

Well, saya suka film ini karena yang pertama sebagai pemerhati pendidikan, film ini dapat menyampaikan pesan dengan baik tanpa harus betele-tele dan langsung kena to the point. Yang kedua, idenya bagus sekali karena orisinil dan benar-benar terjadi berdasarkan kisah nyata, jadi sebagai pendidik saya merasa semangat saya bersama Ibu Fitri.

Namun, menurut saya salah satu hal yang cukup penting yang mendasar dari hal yang bisa dijadikan kritik yang bisa kita suarakan dari ide film ini adalah kurangnya monitoring and coordination di antara dinas terkait dengan pelaksana pendidikan (guru, kepala sekolah, dan komunitas). Seperti yang kita ketahui bahwa kepala sekolah memang memegang peran penting terhadap pelaksanaan pendidikan di tiap-tiap sekolah, akan tetapi ketika tidak ada pengawasan yang ketat apalagi evaluasi yang menyeluruh dari dinas, maka hal inilah yang lumrah terjadi yaitu ketimpangan kualitas pendidikan. Belum lagi bagaimana hubungan antara kepala sekolah, guru, dan wali murid. Hal inilah yang membuat kualitas pendidikan di suatu daerah mungkin bisa menjadi lebih baik atau bahkan seperti yang telah kita tonton bersama.

Oiya, saya pernah menulis esai tentang ini persis dengan topik yang sama namun latar yang berbeda, berikut petikan esainya yang menceritakan tentang Pulo Aceh.

“Masalah lain adalah beberapa guru tidak datang ke sekolah setiap hari. Mayoritas guru adalah mereka yang tinggal di Banda Aceh, jadi mereka lebih suka datang ke sekolah hanya sesuai jadwal yang ditentukan. Selain itu, guru juga tidak hadir di kelas jika cuacanya tidak bagus. Ini telah menyebabkan banyak ketidakhadiran di mana proses belajar-mengajar tidak terjadi. Dapat diperhatikan bahwa guru memiliki motivasi yang rendah untuk datang ke sekolah. Sebagian besar guru enggan tinggal di Pulo Aceh itu meskipun fasilitas telah disediakan. Kondisi di mana guru tidak ingin tinggal di daerah pedesaan juga terjadi di daerah terpencil di negara lain. Ini disebut ‘metrosentris’ (Campbell & Yates, 2011 dikutip dalam Adlim 2016). Fenomena ini muncul karena sebagian besar guru di Pulo Aceh tidak berasal dari masyarakat. Mayoritas dari mereka adalah pegawai negeri sipil dari daerah lain.”

Hal ini mungkin bisa dikaitkan dengan film ini. Mungkin penyebabnya adalah guru-guru yang bertugas di sana bukanlah berasal dari daerah sana, sehingga efek metrosentris memengaruhi mereka. Mereka enggan untuk menetap walaupun sudah disediakan fasilitas.

Sehubungan dengan tingkat ketidakhadiran guru yang lebih tinggi di Pulo Nasi, persentase yang tinggi dari penduduk berharap bahwa pemerintah khususnya Departemen Pendidikan memberikan sanksi tegas kepada mereka yang menentang kebijakan untuk tidak datang ke kelas pada waktu yang ditentukan, mereka guru diberhentikan dari pekerjaannya atau dipindahkan ke lokasi lain. Menurut masyarakat di Pulo Aceh, para guru dengan status pegawai negeri sipil kurang memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan pemerintah. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk menempatkan guru kontrak di mana pekerjaan mereka dapat dievaluasi setiap tahun berdasarkan kontrak (Adlim, et al., 2017).

Seharusnya ada sanksi yang tegas dari dinas terkait terhadap teacher absenteeism (ketidakhadiran guru di kelas), hal ini tidak lagi dianggap hal main-main, akan tetapi harus ditangani dengan cara serius. Mereka bisa saja dimutasi atau memang diberhentikan dari pekerjaan mereka. Hal inilah yang saya maksudkan kurangnya koordinasi dan monitoring dari penyelenggara pendidikan, yang seharusnya ada dan dilaksanakan dengan baik. Pemerintah harus bertanggung jawab dalam hal ini.

Lebih lanjut, menurut World Bank, tingkat ketidakhadiran guru yang tinggi juga terjadi di sekolah pedesaan di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Studi percontohan di bawah pendanaan Pemerintah Australia dan USAID mengusulkan dua pendekatan untuk mengatasi masalah ini. Pertama, pemberdayaan masyarakat, pendekatan ini dilakukan dengan menghadirkan perwakilan masyarakat dengan peran khusus untuk memantau dan mengevaluasi kinerja layanan guru. Tepatnya, perwakilan masyarakat akan mengambil gambar para guru yang hadir di kelas dan mencatat waktu mereka mengajar di sekolah. Pada akhir bulan, waktu dan gambar mereka dikumpulkan dan menjadi bukti kehadiran mereka. Kedua, memberikan insentif untuk kinerja guru, ini terkait dengan tunjangan khusus yang diberikan kepada guru berdasarkan kehadiran atau kualitas layanan mereka. Pendekatan ini kemungkinan akan berhasil dengan hasil awal dari kepuasan masyarakat terkait dengan kehadiran guru meningkat secara eksponensial dari 55% menjadi 91% pada akhir 2017 (World Bank, 2017). Saya ingin menyarankan bahwa menerapkan pendekatan yang serupa tampaknya menjadi alternatif yang baik untuk mengurangi ketidakhadiran guru di Pulo Aceh. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah besar dana diperlukan untuk menyukseskan implementasi program terkait di Aceh.

Hal ini juga tidak hanya terjadi di Aceh, akan tetapi di NTT. Namun, adanya program yang didanai oleh USAID memberlakukan dua hal untuk mengadress isu ini. Pemberdayaan masyarakat, di mana masyarakat yang bertindak langsung mengawasi dan mengevaluasi program pembelajaran di sekolah. Masyarakat yang akan mengambil gambar dan memonitor guru-guru yang datang kesekolah sehingga, pada akhir semester akan ada evaluasi kehadiran guru. Dan berikutnya adalah pengadaan insentif bagi guru-guru yang menjalankan tugas dengan baik.

“Solusi lain yang diusulkan untuk masalah yang disebutkan di atas adalah, bahwa sebagai seorang pemimpin, penting untuk mengambil inisiatif. Pemimpin dapat memulai suatu program dan mengusulkannya kepada otoritas setempat. Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan beasiswa kepada siswa dengan prestasi akademik yang baik untuk belajar di luar pulau, misalnya ke Banda Aceh (ibu kota). Siswa-siswa ini diharapkan memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi di wilayah mereka dengan tujuan agar mereka mau kembali dan berkontribusi ke daerah asal mereka ketika mereka telah menyelesaikan studi mereka yang lebih tinggi. Merekrut guru dari masyarakat setempat akan benar-benar mengatasi tingginya angka ketidakhadiran guru karena guru tersebut adalah penduduk setempat yang tinggal bersama masyarakat. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena ‘metrosentris’ dapat diulangi dalam lingkaran ini.

Hal lainnya yaitu, mahasiswa dengan akademik yang baik seharusnya diberikan beasiswa dan merekalah yang seharusnya menjadi kader di daerahnya masing-masing. Karena jika kita pakai guru dari luar daerah pasti circle metrocentric itu akan terulang lagi.

Dalam review saya ini mungkin lebih kepada teori apa yang saya baca di buku-buku dan jurnal-jurnal pendidikan dan bagaimana hubungannya dengan keadaan fakta di lapangan, dan sungguh film ini memvisualisasikan kedua hal itu. Salut dengan sutradara dan tim yang terlibat. Terus berkarya![]

*Mutia Elviani, Mahasiswi University of New South Wales, Sydney-Australia.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK