Reportase Maria (7): Jumat di Mesjid Qubbat Ash- Sakhrah Palestina

Laporan Hj. Maria Karsia, M. A

Perjalanan kami di komplek Al Aqsa berakhir ketika di bangunan Kubah Emas atau Masjid Qubbat Ash-Shakhrah (Masjid Kubah Batu) atau oleh orang Yahudi menyebutnya Kippat ha-Sela. Namun nsma yang lebih populer adalah Dome of the Rock (Kubah Batu).

Seperti yang telah saya infokan di reportase masjid Al Aqsa Al Qadim, setelah dari sana, kami akan menunaikan sholat Jumat di masjid Qubbat Ash Sakhrah ini.


Bangunan persegi delapan berkubah emas ini disebut Kubah Batu (Ash-Sakhrah) karena di bawahnya terdapat batu fondasi besar dan lebar seperti batu marmer berwarna keputihan. Umat Islam meyakininya batu itulah yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SallallahuAlaihi Wasallam untuk naik ke langit dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Namun, orang Yahudi meyakini batu itu adalah bagian dari bait suci yang dulu dibangun oleh Raja Solomo (Nabi Sulaiman Alaihissalam), dan menjadi kiblatnya orang Yahudi.

Bagunan ini sering disebut Masjidil Aqsha, padahal Masjidil Aqsha adalah nama keseluruhan komplek seluas 144.000 meter persegi yang salah satu bangunan di dalamnya adalah masjid ini. Masjid ini mulai dibangun di masa Pemerintahan Sultan Abdul Malik dari Dinasti Umayyah tahun 687 sampai tahun 691. Lalu direnovasi pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Ketika kubahnya hancur oleh gempa bumi pada tahun 1015, baru dibangun kembali tahun 1022.

Ketika terjadi Perang Salib I pada tahun 1099, masjid ini direbut oleh Tentara Salib dan mengubah fungsinya menjadi gereja, serta diberikan nama Templum Domini (Rumah Tuhan). Ketika terjadi Perang Salib II, Salahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Dia mengembalikan fungsi bangunan Kubbat Ash- Sakhrah menjadi masjid pada tahun 1187. Masjid ini direnovasi dan diperindah pada masa Pemerintahan Dinasti Turki-Utsmaniyah.

Bagian interior Mesjid Kubah Emas. (Maria Karsia untuk aceHTrend)

Ketika Yerusalem dikuasai oleh Israel pada tahun 1967, Israel dan Palestina, serta Yordania mengklaim sebagai pihak yang paling berhak menguasai dan mengelola komplek Masjidil Aqsha dan Masjid Ash Sakhrah ini. Pada akhirnya, hingga kini, Haram Al Sharif atau kompleks Masjidil Aqsha dikuasai oleh Israel, tapi bangunan di kompleks Al Aqsa tetap difungsikan sebagai masjid oleh umat Islam. Itu sebabnya semua ummat muslim dapat sholat di Al Qibli, di Masjid Al Buraq, di Masjid Umar, dan di seluruh lingkungan Al Aqsa. Orang Yahudi dilarang beribadah di tempat ini.

Namun demikian, saya mendengar keterangan dari guide kami, bahwa orang-orang Palestina yang tinggal di luar Al Aqsa, seperti di wilayah Jericko sulit untuk memasuki wilayah Al Aqsa. Ada wilayah sebelum mencapai wilayah Al Aqsa, yang dikuasai Israel dan dilarang untuk dilintasi oleh orang Palestina.

Kembali ke batu fondasi yang diyakini sebagai pijakan nabi Muhammad SAW, seperti apa bentuk batu tersebut? Batu fondasi itu terlihat seperti batu menggantung, di bawah batu itu ada ruangan yang juga digunakan untuk sholat, saya melihatnya sudah dipenuhi oleh jamaah yang bersiap untuk sholat Jumat.

Batu yang menjadi pijakan Nabi Muhammad ketika hendak mikraj ke Sidratul Muntaha. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Hari Jumat 24 Januari itu, siang itu hujan kembali turun, padahal sebelumnya sudah berhenti. Dinginnya suhu , membuat yang turun bukan hanya air, tapi hujan es sebesar kerikil kecil. Ketika menuju tempat mengambil wudhu yang lumayan terpisah jauh dari masjid, kerikil es itu lumayan agak menimbulkan perih ketika menimpa wajah. Percuma menggunakan payung, karena angin yang bertiup agak kencang tak mampu melindungi kami dengan maksimal, tetap saja hembusan angin dingin itu selain membawa kerikil es juga terasa menusuk sampai ke tulang. Ketika mengambil wudhu yang airnya lumayan hangat, baru saya lihat, jari-jari kaki saya mulai membiru. Pakaian berlapis-lapis, mantel coat yang dipakai seakan seperti sehelai kain saja layaknya.

Jalan menuju tempat wudhu. Turunnya hujan es membuat jemari penulis menjadi biru. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Penjaga wanita di tempat wudhu, berusaha menyambut kami dengan ramah, apalagi ketika tahu kami dari Indonesia, Masya Allah, ucapnya berulang-ulang. Hujan es itu, rasa dingin dan jari kaki yang membiru, semua itu tak adalah arti apa-apa dibanding tekad yang bulat, sebentar lagi bisa sholat berjamaah di Ash Sakhrah. Mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup. Jamaah padat, berbondong menuju mesjid. Ketika kembali dari mengambil wudhu, orang sudah mengisi penuh ruang di bawah batu itu, dan hampir seluruh masjid. Untuk ruang di bawah batu itu, saya harus cukup puas hanya mengabadikannya lewat jepretan kamera hp sebagai kenangan.

Kubah emas dipotret dari dalam mesjid. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Terpenting saat ini adalah dapat melaksanakan sholat di masjid Ash Sakhrah, atau masjid Kubah Batu yang kubahnya berwarna emas itu. Di dalam hati, selalu ada syukur yang terucap tak habis, seakan masih merasa semua ini mimpi. Allah telah memberi kesempatan saya, suami, mertua dan ibu kami untuk berada di sini. Setelah 2011, menjawab panggilan ke tanah suci, menunaikan ibadah haji, bersimpuh di Masjidil Haram Mekkah dan juga ke Mesjid Nabawi di Madinah, pada hari ini kepala saya menunduk penuh rasa syukur, tak terasa air mata sedikit membasahi pipi, karena Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Subhanahuataalla telah memberikan saya menjadi orang yang sangat beruntung. Di hari ini, Jumat 24 Januari 2020 saya bersujud bersama ribuan ummat muslim di dalam masjid Ash Sakhrah, Al Aqsa, Haram Al Sharif.

Masya Allah. Sungguh pengalaman batin yang luar biasa indah dan menakjubkan.[]

Maria Karsia adalah traveller. Penulis buku dan pernah menjadi wartawan media luar negeri untuk liputan isu nasional di Jakarta.