ACT dan Mitra Adakan Bakti Negeri di Maheng Aceh Besar

ACEHTREND.COM, Jantho – Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh–Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) bersama Moorden Café dan Al Hasan Corporation, melaksanakan bakti negeri di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Minggu (16/2/2020).

Kepala Cabang ACT Aceh, Husaini Ismail menuturkan, bakti negeri tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Adapun kegiatan bakti negeri meliputi pelayanan kesehatan gratis, pendistribusian paket pangan dan barang layak pakai, psikoedukasi, edukasi cuci tangan dan menyikat gigi, serta meuseuraya (gotong royong).

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi mengikuti acara. Perangkat desa menyambut kegiatan ini sangat baik,” ujar Husaini.


Ia memaparkan, dalam bakti negeri ini turut menghadirkan relawan umum dan relawan medis seperti dokter umum, dokter gigi, perawat, apoteker, hingga psikolog. Masyarakat dapat memeriksa kesehatannya serta mendapatkan obat secara gratis. Edukasi yang diberikan berupaya mengajarkan anak-anak bagaimana merawat gigi dan mencuci tangan untuk mencegah terjadinya penyakit.

Husaini menambahkan, Maheng merupakan sebuah daerah yang sangat indah karena hamparan pemandangan area persawahan dan pegunungan. Kondisi alam Maheng sangat memungkinkan dijadikan sebagai objek agrowisata.

“Udara di Maheng begitu sejuk dan segar. Kalau dijadikan sebagai objek wisata, itu sangat memungkinkan,” imbuhnya.

Koordinator bakti negeri Indra Saputra Rasyid menuturkan, keterlibatan puluhan relawan juga sangat membantu masyarakat dalam memilah dan memilih barang layak pakai yang baru maupun pernah digunakan sebelumnya.

Ia mengatakan masyarakat menyambut baik kegiatan bakti negeri. Relawan-relawan begitu proaktif melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagikan.

“Mudah-mudahan, agenda bakti negeri dapat terus kita laksanakan dengan adanya dukungan masyarakat dan relawan,” terangnya.

Sementara itu, Tuha Peut Maheng, Saifullah, menjelaskan, mata pencaharian utama masyarakat berasal dari pertanian. Lahan pertanian masyarakat berada di area perbukitan. Sehingga kebutuhan waduk sangat diperlukan agar terjadinya pemerataan air untuk masyarakat bertani.

“Ada petani gagal panen sebab tidak cukup air,” ujarnya.

Katanya, salah satu kebutuhan masyarakat di sana adalah sebuah waduk untuk menampung air. Pembangunan waduk sudah dilaksanakan, namun sekarang pembangunannya sudah berhenti. Padahal masyarakat sudah sangat berharap agar waduk tersebut segera diselesaikan.

“Waduk tersebut dibangun pada masa Irwandi Yusuf menjabat gubernur Aceh periode pertama. Setelah periode pemerintahannya berakhir, pengerjaan pembangunan waduk berhenti,” ungkapnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK