Reportase Maria (8): Menapak di Jericho, Kota Tertua di Dunia

Pintu masuk Mesjid Nabi Musa di Kota Jericho. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Laporan Hj. Maria Karsia, MA

Kota pertama setelah melintas batas darat dari perbatasan kota Allenby, Jordania untuk masuk ke Palestina adalah kota Jericho. Kota bersejarah dengan tanah yang subur. Memasuki kota itu, banyak perkebunan kurma.

Jericho, kota kecil yang termasuk ke dalam 5 kota tertua di dunia seperti Kairo, Mesir, Athena, Yunani, Bethlehem, Israel. Walaupun Jericho berada di wilayah Tepi Barat Palestina, tapi otoritas untuk keluar masuk Palestina sejak 1967 dikuasai oleh Israel.

Berdasarkan penemuan arkeologi, kota ini telah ada sejak 9000 tahun sebelum Masehi, dengan penataan seperti layaknya sebuah kota yang memiliki administratur pemerintahan. Letaknya di wilayah Tepi Barat Palestina, selatan Yerusalem di lembah Sungai Yordan. Saat ini, Jericho dihuni sekitar 25.000 orang. Penggalian arkeologi menemukan bahwa kota ini telah dihuni manusia, setidaknya dengan adanya 20 pemukiman.

Salah satu sudut makam Nabi Musa di Kota Jericho, Otoritas Palestina. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Tempat pertama yang kami kunjungi di Jericho adalah Maqam Musa. Pengertian maqam sebetulnya bukan kuburan, tapi lebih kepada “jejak” Nabi Musa Alaihissalam ditemukan di kota ini. Berdasarkan tour guide kami, banyak orang percaya bahwa di lokasi inilah Nabi Musa pernah berdiam dan bahkan sampai beliau meninggal. Di Maqam Musa kami dibawa melihat lokasi yang sangat dipercaya sebagai tempat Nabi Musa dimakamkan. Di sana ada sebuah mesjid kecil yang dinamakan Masjid Musa. Mengapa lokasi itu dipercaya sebagai tempat berdiamnya Nabi Musa dan tempat wafatnya? Hal itu dikarenakan beberapa tanda – tanda yang tertulis di dalam hadist yang shahih. Misalnya lokasi ini bertanah merah, berbukit-bukit, tanahnya subur dan dekat dengan jalan yang telah digunakan beribu-ribu tahun lamanya sebagai jalur lalu lalang orang dan perdagangan, juga kisah yang diriwayatkan turun temurun. Kami melihat keindahan bukit-bukit gurun berwarna merah itu.

Tanah merah Jericho yang berbukit-bukit. Membayangkan betapa kerasnya perjuangan dakwah Nabi Musa di masa lalu. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Sembari terus menapak di tanah bersejarah itu, saya membayangkan dulu Nabi Musa pernah berdiam di sini bersama pengikutnya . Melihat ke dalam masjid, dan kami melihat ada bangunan diletakkan di ruangan khusus berbalut beludru hijau bertuliskan kalimat tauhid, ukuran panjangnya 3 meter x 2 meter. Kami berdoa di situ. Memang tidak terkonfirmasi 100 % bahwa itu makam Nabi Musa Alaihissalam.

Menurut umat Kristen, makam Nabi Musa (Moses) justru berada di Gunung Nebo, 817 m, 40 km dari Amman, Jordania. Lokasi tersebut tertulis dalam Kitab Taurat. Dari gunung itu kita dapat melihat Laut Mati, Hebron, Ramallah, dan Jericho.
Sedangkan Masjid Musa ini terletak kira-kita 12 km di Selatan kota Jericho. Demikianlah, ada dua versi makam Nabi Musa yang dipercaya berdasarkan pemeluk agama Islam dan Kristen.

Stasiun cable car, transportasi menuju petilasan Nabi Isa. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Tempat yang kami kunjungi berikutnya di Jericho adalah lembah menghijau, di latarbelakangi pegunungan, dan kita bisa melihat sebagian pemandangan kota Jericho dari sana. Di pegunungan itu, dikisahkan, iblis menggoda Nabi Isa AS yang sedang puasa 40 hari. Makanya dinamakan Mount of Temptation (Gunung Godaan). Pemandangan yang saya nikmati di kaki gunung yang tenang, hijau dan penghasil buah, terutama kurma mejool.

Lembah hijau menuju Mount of Temptation. [Maria Karsia untuk aceHTrend]

Di sini kami langsung berhenti dan disuguhi kurma Palestina asli Jericho yang lezat atau kurma mejool. Ada cable car untuk mencapai tempat petilasan nabi Isa AS. Namun karena waktu yang terbatas kami tidak bisa berkunjung sampai ke atas gunung tersebut. Sementara pengunjung mampir di toko oleh-oleh, saya bergerak ke luar untuk foto-foto. Lalu menikmati juice buah granada atau di Indonesia buah delima yang dijual anak lelaki usia 10 tahun yang sedikit bisa bahasa Inggris.

Seorang anak Palestina sedang menjual buah granada yang di Indonesia disebut delima. [Maria Karsia untuk aceHTrend]
[]

Maria Karsia adalah seorang traveler. Juga seorang penulis buku.

KOMENTAR FACEBOOK