1.000 Tahun Keangkuhan

Ilustrasi. Dikutip dari lukisan minyak berjudul “Resoluteness in the Persecution” yang menjadi juara ke-3 dalam Worldwide Chinese Character Realistic Oil Painting Contest pada 2011. [Ist]

Oleh Muhajir Juli

Seribuan orang berkumpul. Hari ini aku dilantik. Jutaan ucapan selamat datang dari berbagai penjuru. Bliz kamera tiada henti menerpa wajahku yang semringah menanti jabatan baru. Sebuah jabatan yang bisa mengatur seluruh abdi Antapura Achania Malakala.

Dua hari sebelum SK itu datang, aku bertanya kepada Bathara Sapta Prabu Achania Malakala, mengapa aku yang dipilih? Dengan intonasi bahasa penuh wibawa, sang Bhatara berkata: “Engkau kupilih sebagai Mahapatih Hamangkubumi karena engkau yang terbaik. Engkau memiliki banyak waktu untuk memimpin segenap mahamentri i hino dan segenap jajaran di bawahnya. Engkau adalah lelaki yang tidak mengenal pagi.”

Aku takjub. Aku bangga. Di tengah keraguan banyak pihak, termasuk kawula di akar rumput, ternyata di mata pemimpin tertinggi, aku adalah yang paling unggul, paling hebat, dan paling berdedikasi. Sesuatu yang tidak perlu kusampaikan lagi pada kawula yang meragukanku. Mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka bodoh.

***
Ini adalah hari pertama aku menjadi Mahapatih Hamangkubumi. Kukumpulkan semua mahamentri i hino. “Sebelum subuh kalian semua sudah harus berada di Antapura,” kataku sembari memasang wajah penuh wibawa. Sempat terjadi blem blom di belakang. “Bila tidak hadir seperti perintahku, maka lusa kalian akan kucopot,” kataku sembari berlalu.

Malam telah larut. Aku menuju Antapura. Aku telah berjanji pada diriku, sejak jabatan ini kusandang, pengabdianku 100% untuk negara. Inilah yang sejak jauh hari kusebut-sebut sebagai pengabdian tanpa batas. Beberapa penasihat yang bukan dari jajaran kerajaan, yang sehari-hari kupasang sebagai telik sandi, memuji apa yang kulakukan. Oleh mereka aku disebut pejabat yang berdedikasi. Layak diganjar sebagai tokoh reformasi birokrasi. Bekerja tanpa jadwal, bahkan tak mengenal malam dan pagi.

“Yang Mulia Mahapatih Hamangkubumi adalah pejabat yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan negeri ini. Utusan yang dibutuhkan untuk memperbaiki tata kelola negeri yang karut-marut,” kata mereka sembari memperlihatkan sikap badan penuh takzim.

***
Pukul 04.00 pagi, satu per satu mahamentri i hino muncul dari balik pagar Antapura. Dengan pakaian kebesaran nan rapi satu per satu menyalamiku yang tidak tidur sejak kemarin. Ketika kokok ayam terdengar, kami sudah satu jam larut dalam diskusi. Bukan diskusi dalam arti sebenarnya. Karena akulah satu-satunya pembicara. Para mahamentri i hino hanya sebagai pendengar.

Ada beberapa peraturan yang kubuat. Pertama, Semua mahamentri i hino, tidak boleh berangkat ke Ujung Langit, tanpa persetujuanku. Mereka harus fokus pada pekerjaan yang kuberikan. Aku telah membuat target-target yang harus mereka kerjakan. “Koordinasi ke Ujung Langit tidak perlu. Kalian fokus bekerja seperti yang telah kugarisbawahi. Bila tidak sanggup, tunjuk tangan dan aku akan mencari pengganti.”

Tidak ada yang tunjuk tangan. Aku mengulum senyum. Aku berhasil membuat mereka takjub pada keputusanku.

“Kedua, semua waktu yang kalian curahkan untuk pengabdian. Tidak ada waktu yang boleh terbuang sia-sia. setiap hari, 24 jam untuk membantuku mewujudkan tata kelola Achania Malakala,” kataku. “Ada yang keberatan?”

Tidak ada yang menjawab. Aku tutup rapat pagi ini. “Pukul 10.00 nanti, kita akan kembali rapat penyusunan rencana kerja,” kataku.

***
Tiga purnama berlalu. Tidak ada pergeseran mahamentri i hino. Semua ikut seperti apa yang kusampaikan. Mereka bahkan sudah memiliki tempat tidur di bilik kerja masing-masing. Aku takjub atas dedikasi yang ditunjukkan. Setiap hari aku menggelar rapat. Kadang sampai larut malam. Bahkan sampai pagi dan pagi lagi.

Aku semakin tertantang. Dedikasi mereka yang semakin besar pada tugas masing-masing, membuatku harus menaikkan grade. Aku mulai tidak lagi menghadiri undangan dari berbagai kalangan. Setiap hajatan yang digelar, aku hadir dalam bingkai baliho ucapan selamat. Juga dalam baliho dengan ucapan turut belasungkawa. tergantung kebutuhan.

Sikapku diikuti oleh mahamentri i hino. Mereka semua mulai hadir ke berbagai acara, dalam bentuk baliho ucapan. Di sepanjang jalan, setiap hari, gambarku, gambar mahamentri i hino berjejer rapi di pinggir jalan, dalam bingkai yang dicetak di dalam kertas warna-warni.

***
Enam bulan, 10 bulan, 2 tahun. Dedikasi mereka kian besar. Tapi ada satu yang hilang. Mereka tidak lagi tersenyum. Mereka masih tetap rapi. Aku curiga. Tapi enggan bertanya.

Diam-diam, aku turun ke pusat keramaian. Tentu dengan cara menyamar. Para kawula sedang membincangkan beberapa mahamentri i hino yang bercerai. “Tidak ada lagi cinta di rumah para mahamentri i hino. Rumah tangga tidak lagi mampu memancarkan cahaya. Para mahamentri terlalu sibuk mengurus negeri. Tak ada waktu lagi berbagi canda dengan istri dan anak-anaknya.”

Telingaku merah. Tapi tak ikut menimpali. Para mahamentri i hino terlalu lemah, pikirku. Tak mampu menyeimbangkan cinta dan dedikasi kepada kerajaan. Suatu saat para kawula akan menyadari bila apa yang kulakukan demi terwujudnya kemakmuran di negeri ini. Para abdi negara harus dipaksa bekerja. Mereka harus total mengabdi.

***
Aku pulang ke rumah yang telah bertahun-tahun tidak kukunjungi. Kutanya kepada istri. “Apakah engkau masih bahagia?” Ia tersenyum sembari memelukku. Aku hanya memilikimu di dunia ini. Tidak ada yang lain. Aku bahagia.”

Aku tersenyum. Aku puas. Segera kuambil kesimpulan, bila mahamentri i hino dan jajaran di bawahnya adalah orang-orang lemah. “Hanya karena beban kerja saja, harus mengorbankan keluarga. Betapa bodohnya mereka. Aku saja yang memiliki beban jauh lebih besar, mampu menyeimbangkan antara cinta dan pekerjaan.”

***
Aku terkejut luar biasa. Di sebuah ruangan hitam pekat yang hanya menggantung bohlam lima watt, seseorang menghardikku.

“Kamu siapa? Kok berani menghardikku demikian?” kataku dengan penuh kesombongan.

“Aku adalah hatimu yang telah lama mati. Aku adalah nurani yang telah 1.000 tahun engkau benam ke dalam lumpur kemunafikan. Aku adalah cinta yang kau paksa untuk padam hanya demi mewujudkan egomu sendiri. Aku adalah kasih sayang yang telah tercerabut dari semua ruang cinta di dalam raga mahamentri i hino dan jajarannya.” Dia berdiri di ujung meja, dengan rupa hitam legam. Berkacak pinggang.

“Hmm, 1.000 tahun? Ada-ada saja kau ini?” kataku ketus sembari menyilangkan tangan di atas meja berwarna cokelat.

Makhluk hitam legam itu mendekatiku. Wajahnya didekatkan ke batang hidungku. wajah kami hanya berjarak 1 sentimeter.

“1.000 tahun lalu, kau telah membunuh banyak orang. Kau telah membunuh banyak cinta. Kau telah memutus harapan, kau telah menghina kemanusiaan. Kau jadikan dirimu sebagai ukuran. Kau egois dan tak pantas kusebut sebagai sumber cahaya. Kau sumber api yang membakar. Kau sumber cilaka.”

“Jangan macam-macam denganku. Baru kau yang berani menghardikku. Bahkan Bhatara Sapta Prabu saja tidak pernah mengingatkanku. Ia bahagia dengan apa yang kulakukan,” kataku.

Ia tidak menjawab. Sejenak sebuah layar putih turun dari sisi tengah ruang gelap itu.

Sebuah video diputar. Aku menatap gambar bergerak itu. Bukankah itu negeri ini? Mengapa sudah hancur lebur? Mengapa kawula kurus kering? Mengapa kebun-kebun tidak terlihat ditumbuhi tanaman?

Gambar berpindah. Kulihat seorang mahamentri i hino yang sangat kukenal. Ia memiliki seorang istri dan lima anak. satu per satu kutatap wajah mereka yang direkam kamera. Lambat laun wajah-wajah penuh senyum itu berubah murung.

Gambar berpindah ke sisi lain. Itukan aku dan mahamentri i hino yang rapat hingga larut malam? Aku sempat tersenyum. Tapi tak lama. Video itu merambat pelan pada kondisi tidak normal. Satu per satu keluarga mahamentri i hino kehilangan gairah. Istri yang kedinginan tengah malam tiada lagi yang memeluk. Anak-anak yang dulunya setiap pagi diantar oleh sang ayah, berjalan sendiri-sendiri menapaki jalanan kerajaan. Wajah mereka lesu.

Hingga tampilan ribuan sidang pengadilan. Para istri abdi istana, sembari menangis di depan hakim, melakukan cerai gugat kepada suaminya yang tidak lagi menafkahi kebutuhan rohaniah mereka berpuluh-puluh tahun. Anak-anak yang mengadu ke Mahkamah Angger, tentang ayah mereka yang tidak lagi peduli pada kebahagiaan keluarga. “Ayah kami telah berubah menjadi robot. Kami kehilangan sosok ayah yang hangat, yang selalu memiliki waktu untuk kami di rumah. Mengajak kami bercanda. Mengajak ibu bercinta.”

“Ayah-ayah kami telah menjadi dewa tanpa cahaya. Bekerja dari pagi hingga pagi untuk kebutuhan ego Mahapatih Hamangkubumi, yang tidak memiliki cinta di hatinya. Kami diabaikan. Kami ditelantarkan. Kami tumbuh tanpa sosok ayah.” gugat yang lain.

Aku terkejut. “Apakah ini semua karena salahku?”

“Benar. Ini semua salahmu. Kau membangun asumsi dengan tolok ukur dirimu sendiri. Kau lupa bahwa semua orang, termasuk dirimu adalah manusia biasa. Kau merasa normal atas ketidaknormalan dirimu. Kau mengukur kehidupan orang lain, dengan kehidupanmu sendiri. Kau mengukur kebahagiaan, dengan hanya menjadikan indeksmu sebagai pusat penilaian. Kau abai, apa yang engkau sebut dedikasi, sejatinya adalah racun yang kau sendiri tidak miliki penawarnya. Bahkan kau tak tahu, bahwa perempuan yang selama ini kau anggap istri yang setia, hanyalah makhluk astral. Istrimu telah lama mati dalam kesepian. Hanya saja, sampai di alam arwah ia tetap berusaha menghiburmu. Ia mengaku bahagia, padahal sepanjang hidupnya menderita. Ia kesepian. Tapi tidak berani bicara. Karena dia tahu bila menegurmu merupakan kesia-siaan. Orang sepertimu, selalu melihat orang lain tidak berguna. Tidak memiliki etos. Tidak memiliki komitmen.” Makluk hitam itu kembali ke tempat duduknya yang mula.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

“Tidak ada lagi. Waktumu telah habis. Kau telah berada di alam arwah. Selama 1.000 tahun di dunia, telah kau gunakan untuk mencelakai banyak orang. Kau telah membakar kebahagiaan. Kau telah mendurhakai kasih sayang. Sebentar lagi, seluruh arwah yang selama hidupnya tersiksa oleh ulahmu, akan datang ke sini. Mereka akan menuntut balas atas semua kejahatan yang telah engkau lakukan.”

Usai mengatakan itu, makhluk hitam legam tersebut enyah dari hadapanku. Bohlam lima watt mati. Tidak ada lagi cahaya. Tiba-tiba tubuhku ditarik ke sana-kemari. Aku terpelanting ke berbagai sudut. Aku mengerang kesakitan.

“Selamat datang di neraka!”

Banda Aceh, Senin, 17 Februari 2020.

KOMENTAR FACEBOOK