Jangan Lupakan Bencana

Papan peringatan tsunami di Kecamatan Syiah Kuala, di dekat komplek makam ulama besar Aceh Syiah Kuala. [Hendra Syahputra/aceHTrend]

Laporan Hendra Syahputra

SETIAP memperingati tanggal terjadinya megadisasters gempa dan gelombang pasang tsunami Aceh 2004, muncul lagi kenangan lama dalam setiap benak orang yang pernah mengalami peristiwa besar itu. Kenangan yang membawa rasa sedih, kehilangan dan hampa. Kejadian ini seperti menjelma deretan panjang kisah luka yang terasa sulit dituntaskan. Rasanya seperti tidak pernah selesai dan terlupakan.

Pagi 26 Desember 2004, gempa yang disusul gelombang air laut dengan kecepatan 1000 km/jam seakan bergegas melahap apapun yang dilintasinya. Mereka yang selamat dari bencana saat itu mengaku seperti mendapatkan mukjizat. Petaka yang terjadi, tidak lebih setengah jam kemudian menjadikan Kota Banda Aceh dan wilayah barat Aceh berubah bak kuburan massal. Duka Aceh saat itu seperti pintu yang terbuka lebar, luka yang menganga dan sulit dilupakan. Meski sudah 15 tahun telah berlalu.

Peringatan tragedi gempa dan tsunami yang jatuh pada 26 Desember tiap tahunnya, terasa bak kenangan yang basah, bagi siapapun yang menjadi saksi dan pelaku sejarah bencana itu. Seperti ungkapan hati sebagian masyarakat yang hadir saat peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh, di penghujung 2019 yang lalu, di Pidie.

“Saya sering merasa sedih, terbayang saat harus tinggalkan istri dan ketiga anak saya untuk jualan ke Pasar Aceh”, kata Amiruddin (52), pedagang sayuran di Pasar Aceh.

“Padahal saat itu saya malas sekali beranjak dari rumah. Saya telat ke pasar. Biasa saya selepas Subuh sudah jualan. Namun Minggu 26 Desember 2004 itu, saya berangkat jam 7 pagi,” ucapnya dengan suara tersendat.

“Jika saya tak pergi barangkali saya sudah bersama-sama mereka.”

Isak tangis Amiruddin pecah.

Saya hanya terdiam mendengarkan kisah pilu Amiruddin. Meski sudah berusaha menyeka airmatanya, muara duka masih terbaca sangat dalam. Ia menutup matanya dengan kedua belah telapak tangan, lalu terdiam, menarik nafas sambil istigfar. Allah lebih cinta mereka, kata Amiruddin, membuka kembali percakapan kami yang sempat terhenti 15 menit. Saya seperti tak sanggup meneruskan pertanyaan. Mata Amiruddin memerah. Lelaki separuh baya itu terlihat rapuh, meski berusaha tegar.

Percakapan seperti ini sering saya temui, ketika ngobrol dengan para penyintas gempa dan tsunami Aceh 2004. Selain Amiruddin, saya juga bertemu Aida Fitria (42) dalam puncak peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh di Pidie Jaya. Aida Fitria yang warga Kota Banda datang ke Pidie, karena ingin larut dalam doa bersama untuk para syuhada gempa dan tsunami Aceh, termasuk suami dan empat orang anaknya.

Suasana percakapan dengan Amiruddin dan Aida Fitria, saya temui juga sebagian besarnya dalam percakapan saya sepanjang ngobrol dengan para penyintas tsunami Aceh 2004 saat acara peringatan selesai. Tak mudah memang bicara dengan mereka, terutama ketika masuk ke bagian kisah kehilangan keluarga.

***
Di penghujung Desember 2019 lalu, percakapan yang sama terjadi ketika saya menjadi pemandu acara peluncuran novel Te O Toriatte (Genggam Cinta) karya Akmal Nasery Basral, di VIP Room Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala. Sebelum sesi pertanyaan saya buka ketika saya didapuk memandu acara, mata saya tertuju pada seorang pria yang duduk di kursi yang persis berada di hadapan saya.
Pria itu bolak-balik keluar-masuk toilet di dalam ruangan. Saya bisa melihat perubahan wajah lelaki separuh baya tersebut, karena jarak antara panggung tempat saya dan pemateri duduk dengan tempat duduk peserta sangat dekat. Matanya seperti menangis. Sesekali sapu tangan yang ada di genggamannya kembali menyeka airmata tak terlihat membasahi pipinya. Ketika saya buka sesi pertanyaan, ia langsung bertanya dengan suara terbata-bata. Benar saja, ternyata ia keluar masuk toilet hanya untuk menangis.

Novel Te O Toriatte yang diangkat dari kisah nyata seorang penyintas tsunami Aceh 2004 bernama Meutia, tak mampu membendung air matanya untuk pecah di hadapan para peserta lain yang hadir. Ia ingat pada almarhumah istrinya yang bernama sama, Meutia. Lelaki 65 tahun yang juga seorang profesor bidang pertanian itu kehilangan Meutia-nya serta 6 orang anak buah cinta mereka.

Dari kisah Amiruddin, Aida Fitria dan seorang profesor bidang pertanian yang saya temui, ada satu pertanyaan yang masih tersimpan. Trauma kehilangan orang-orang yang dicintai pasca gempa dan tsunami Aceh 2004, belum benar-benar selesai. Nuansa itu pula yang terlihat jelas saat saya hadir memenuhi undangan menghadiri peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh di Pidie, 26 Desember 2019.

Kabupaten Pidie yang juga menjadi daerah yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami 2004, masih menyisakan kisah sedih dalam versi yang lain. Meski hidup pasca bencana sudah berlalu 15 tahun, namun mental masyarakat belum sebenar-benarnya sehat. Saat film dokumenter berjudul Bangkit Bersama Pasca Bencana diputar, sebagian pengunjung peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh yang diselenggarakan di Pidie Convention Center, Gampong Lampeudeu, Kecamatan Pidie, menangis. Isak tangis mereka masih terdengar dan menjadi bagian kesedihan saya.

***
Meski kini Aceh sudah bangkit, namun upaya membangun sikap kesiapsiagaan masih harus terus diupayakan. Aceh masih harus belajar banyak dari daerah-daerah dan negara-negara yang memiliki kerentanan yang sama terhadap gempa dan tsunami seperti Jepang.

Bukan saja persoalan bagaimana mengurangi risiko dan kesiapsiagaan terhadap bencana yang perlu dilakukan pemerintah dan masyarakat, tapi juga penguatan komunikasi bencana perlu terus dilakukan dengan cara-cara yang masif dan baik. Komunikasi efektif dalam kondisi penuh risiko tentu harus mengacu pada standar yang ada selain nilai efektif.

Asisten II Gubernur Aceh Bidang Pembangunan, Teuku Dadek, mengatakan, walaupun di Aceh selama ini kegiatan-kegiatan kebencanaan sudah dilaksanakan, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan Badan Penanggulamgan Bencana Daerah (BPBD) di kabupaten dan kota sudah dibentuk, beberapa regulasi sudah diterbitkan, seperti RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), dan sebagainya, tetapi ini masih memerlukan upaya-upaya yang maksimal.

Menurut Teuku Dadek, hal itu dapat dilihat dari beberapa indikator. Pertama, misalnya RTRW di Aceh belum menunjukkan sebuah ketegasan terhadap upaya-upaya mitigasi bencana. Karena itu, kata Dadek, dalam penyusunan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) atau RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan ) yang ke depan diharapkan dapat memasukkan persoalan kesiapsiagaan bencana.

Teuku Dadek. [Hendra Syahputra/aceHTrend]

Kedua, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum terlalu regulatif. Artinya, kata Dadek, masih banyak peraturan yang belum diterbitkan untuk menumbuhkan semangat kesiapsiagaan masyarakat. Baru-baru ini Pemerintah Aceh menerbitkan pergub (peraturan gubernur) tentang upaya penerapan siaga bencana di ruang-ruang publik. Ini perlu upaya dan sosialisasi yang lebih intens.

Ketiga, upaya pengurangan risiko bencana di dalam masyarakat belum terlalu membudaya. Masih perlu upaya dan banyak hal harus dilakukan untuk bisa mendukung pengurangan risiko bencana dari semua pihak, agar bisa terus seimbang dan sinkron dari semua pihak. Upaya tersebut bisa berasal dari semua elemen dan untuk mewariskan semangat kesiapsiagaan masyarakat.

Keempat, masyarakat kita masih melihat simulasi adalah proyek pemerintah; atau mereka melihat ada dana pemerintah di sana.

Dari pengalaman Teuku Dadek sebagai Kepala BPBD di Aceh Barat dan Kepala BPBA di Provinsi Aceh, menurutnya, jarang sekali mereka (pihak pemerintah-red) mendapatkan inisiatif untuk melaksanakan simulasi ini dari masyarakat. Simulasi masih dianggap sebuah upaya seremonial. Katanya, “Kalau ada dorongan dari pemerintah, maka ada dilaksanakan simulasi. Kalau tidak ada, maka tidak dilaksanakan simulasi. Padahal tidak demikian.”

Menurut Dadek, sejatinya simulasi bencana bisa menjadi upaya mandiri yang bisa mendorong budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Misalnya di sekolah-sekolah seminggu sekali perlu diputar safety breafing. Apa yang harus dilakukan siswa bila terjadi gempa dan tsunami.

Ada tiga cara kata Dadek agar budaya siaga dapat diciptakan atau diberlakukan. Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Letjen Doni Munardo, baru-baru ini melaunching Program Katana (keluarga tangguh bencana). Program ini menegaskan sosialisasi kebencanaan di tingkat keluarga sangat penting.

Teuku Dadek menjelaskan setiap keluarga di Aceh itu seharusnya: pertama, mereka harus memiliki skenario di rumah masing-masing. Misalnya kalau terjadi gempa, siapa yang akan menjemput siapa, di mana titik lokasi berkumpul, dan lain sebagainya; lalu kedua, harus ada nilai kesiapsiagaan dalam rumah tangga. Karena Islam sendiri mengajarkan nilai-nilai kesiapsiagaan itu dalam rumah tangga. Misalnya sebelum tidur agar semua yang bersifat api dimatikan dan jendela ditutup dan lain sebagainya; ketiga mereka harus ada cadangan-cadangan makanan di rumah agar mereka bisa kuat dan memiliki kemampuan dalam menghadapi situasi darurat; keempat, diharapkan setiap keluarga memiliki tempat-tempat pengungsian dan atau evakuasi bila terjadi gempa dan tsunami.

“Faktor keluarga sangat penting. Tetapi sebagaimana kita tahu, bahwa proses simulasi masih menjadi tantangan. Lalu sekolah dan madrasah aman bencana, menjadi sangat penting. Tujuannya adalah agar sekolah dan madrasah memiliki sarana dan prasarana yang tahan terhadap gempa dan bencana lainnya,” kata Dadek.

Selain itu, sejatinya sekolah dan madrasah harus memiliki kurikulum yang mengajarkan kesiapsiagaan bencana. Juga harus memiliki manajemen penanganan bencana. Pun di setiap desa. Sebaiknya setiap daerah memiliki desa tangguh bencana. Setiap desa perlu disiapkan agar mereka memiliki tim yang melakukan sosialisasi terhadap kesiapsiagaan bencana dan kegiatan-kegiatan darurat apabila bencana terjadi. “Mereka kan memiliki Dana Desa yang bisa juga digunakan untuk kepentingan kebencanaan,” tuturnya.

Belajar dari Sejarah

Ada dua sikap sejarah yang ditunjukkan masyarakat Aceh terhadap kejadian gempa dan tsunami di masa lalu. Sisi pertama, masyarakat menyebut gempa dan tsunami yang terjadi pada masa lalu dengan istilah smong, gloro, pasie karam, air keras, Ie Beuna dan sebagainya. Karena rentang kejadiannya antara ratusan tahun atau 100 tahun sekali, menyebabkan masyarakat lupa. Termasuk pada peristiwa 26 Desember 2004, banyak masyarakat yang tidak mengerti, bahwa setelah gempa menimbulkan apa yang disebut tsunami atau “ie beuna”. Tetapi ada juga masyarakat yang berhasil mensosialisasikan kesiapsiagan ini. Contohnya, masyarakat Aceh di Pulau Simeulue.
Masyarakat Simeulue pada tahun 1907 mengalami tsunami yang dipicu gempa sebelumnya. Usai bencana itu, masyarakat Simeulue termasuk budayawan dan seniman di dalamnya, mengambil suatu sikap: kejadian 1907 itu harus diwariskan. Mereka mewariskannya melalui nyanyian pengantar tidur (lullaby) saat menidurkan anak dan melalui nandong, yang disebut dengan budaya smong. Dalam syair-syairnya itu disebutkan bahwa kalau tsunami itu air mandimu, jika terjadi gempa mengevakuasi diri ke bukit, karena gempa akan berpotensi mendatangkan gelombang besar (smong). Pada tahun 2004 masyarakat Pulau Simeulue berhasil menunjukkan upaya mitigasi tersebut, dan mereka tidak ada yang meninggal karena tsunami, tetapi karena reruntuhan bangunan akibat gempa.

Kini Aceh sudah berada di tahun ke-15 pasca bencana 2004. Pertanyaan paling besar, sejauh mana kesiapan masyarakat menghadapi gempa dan tsunami di masa yang akan datang? Bukti-bukti alam menunjukkan gempa dan tsunami di Aceh bukan hanya terjadi sekali, tetapi sudah pernah terjadi paling tidak 14 kali. Bahkan di abad ke-14, peristiwa ini terjadi dalam interval hanya 50 tahun.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan, tsunami Aceh terjadi berulang-ulang kali. Beberapa catatan juga mengungkapkan, kata-kata smong di Pulau Simeulue, gloro di Singkil, kemudian pasie karam di Aceh Barat, menunjukkan daerah tersebut pernah mengalami gempa dan tsunami. Karena itu kejadian tahun 2004 bukanlah yang terakhir, kalau menurut catatan sejarah.

Keberadaan hutan mangrove yang lestari di tepi pantai, merupakan salah satu “benteng” yang akan mengurangi kekuatan gelombang tsunami yang menerjang daratan. Saat ini keberadaan hutan mangrove di tepi pantai Aceh, masih belum menggembirakan. Bahkan seringkali ditebang untuk kebutuhan memperluas tambak. [Hendra Syahputra/aceHTrend]

“Karena masyarakat Aceh tinggal di pertemuan dua lempeng yang berpotensi terjadinya tsunami di masa yang akan datang, jadi masyarakat harus disiapkan agar siaga bencana. Banyak masyarakat yang sangat teringat dengan kejadian gempa dan tsunami tahun 2004, tapi banyak juga yang melupakan kejadian ini, termasuk lupa terhadap upaya-upaya mitigasi menghadapi masa yang akan datang,” ucap Teuku Dadek.

Meningkatkan Literasi Kebencanaan

Dia mengatakan masyarakat Aceh harus sungguh-sungguh memahami literasi kebencanaan. Ia mencontohkan bagaimana kesungguhan masyarakat Jepang. Selain itu, perhatian media juga perlu semakin kuat. Di Jepang, media menyebarkan (diseminasi) peringatan dini bencana, seperti topan yang terjadi di sana dalam bentuk cerita yang mudah dipahami masyarakat.

Beberapa pengalaman bisa dicontoh, terutama bagaimana kesederhanaan informasi bisa membuat masyarakat meningkat kesadarannya. Media misalnya tidak hanya memberikan catatan jumlah curah hujan atau kecepatan angin, tetapi juga memberikan angka skematis kerusakan yang dimaksudkan, sehingga di level rumah tangga bisa belajar kesiapsiagaan seperti ini.

Badan Meteorologi Jepang (JMA), menyampaikan topan melanda Jepang tahun 2019 Badan menjadi salah satu yang terkuat setelah topan Kanogawa tahun 1958 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang. Pada topan itu, semenanjung Izu menerima hujan 750 mm, pusat Kota Tokyo mendapat hujan 390 mm dalam 24 jam. Tahun 2019 topan hampir 600 km, sangat besar dan kuat.

Dari kejadian ini, terlihat peran media dalam memberitakan bencana di dunia terus berkembang dan semakin penting. Sejatinya media mampu menjangkau komunitas masyarakat dengan cara yang berbeda. Tidak hanya memberikan informasi, namun juga melibatkan mereka, belajar dari bencana masa lalu.

“Meskipun bencana pernah mengubah hidup kita dan memulainya dati titik nol kembali, tetapi kita perlu mengambil pelajaran positif ke depan. Dokumentasi dan analisis yang tepat harus dibagi kepada masyarakat,” ujar Dadek.

Gerakan “Aceh melawan lupa membangun siaga” tentu tidak hanya didengungkan pada saat peringatan gempa dan tsunami 2004 saja. Bukan hanya untuk seremoni kepada masyarakat, tetapi peringatan untuk seluruh bangsa Indonesia karena negara ini berada pada posisi ring of fire (cincin api) yang memiliki 500 gunung api dan lebih dari 295 patahan pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik, yang tentunya setiap saat bisa menimbulkan gempa.

Kisah dari penyintas gempa dan tsunami 2004 menunjukkan di Aceh masih ada trauma dan luka yang belum sembuh. Namun di sisi lain, masyarakat yang belum pernah terdampak bencana, seakan-akan tidak perlu menyiapkan diri menghadapi bencana alam. Ini sebuah alarm yang tidak boleh dibiarkan terus menyala.[]