Kampus dan Problematika Pendidikan

T. M. Ridha Al Auwal

Oleh T. M. Ridha Al Auwal*

Sebagai sebuah sarana pendidikan, kampus haruslah menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia. Menjadi sebuah wadah pengasah nalar. Tempat pemisah antara haq dan bathil. Serta tempat para pemikir menyalurkan ide, pikiran, dan gagasan tentang peradaban bangsa. Akan tetapi kenyataannya kini menjelma menjadi tempat berkumpulnya para apatis dan penghamba kekuasaan. Bahkan cenderung menjadi penjara bagi mereka yang berjiwa medeka.

Idealisme mulai tergadaikan. Orientasi nilai tergeser oleh nominal. Kampus konon hanya menjadi tempat pembuktian diri dan bukan lagi sebagai lahan pengabdian. Eksistensi menjadi tujuan utama tanpa lagi peduli tentang esensi. Bahkan ia semakin menjauh dari nilai memanusiakan manusia itu sendiri yang merupakan jargon utama dunia pendidikan.

Hubungan yang terbangun antarinsan akademik cenderung bersifat vertikal bukan horizontal. Hubungan antara pendidik dan peserta didik terasa seperti hubungan bos dan karyawan. Tidak sedikit kita temukan pendidik yang masih memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran ilmu yang absolut. Tidak ada ruang diskusi apalagi jika sampai dikritisi keilmuannya. Sehingga lahirlah hubungan patron-klien antara dosen dan mahasiswa atau hubungan layaknya seperti tuan dan budak.

Hubungan seperti itu sedikit banyaknya akan berpotensi membungkan pikiran kritis mahasiswa bahkan lebih jauh mampu membunuh kreativitas mahasiswa. Sejatinya passion dan kreativitas adalah keahlian yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa agar bisa bertahan di era Industry 4.0 ini. Sebut saja Google, Apple, dan perusahaan raksasa lainnya yang tidak lagi merekrut staff-nya berdasarkan IPK melainkan soft skills yang mereka miliki.

Dosen kian hari semakin disibukkan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Artinya di saat bersamaan ia harus bisa mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Terdengar sederhana tapi kenyataan di lapangan sungguhlah kompleks. Prestasi dosen diukur dari jumlah publikasi yang dihasilkan dan hibah pengabdian kepada masyarakat yang dimenangkan.

Dampaknya adalah tanpa bermaksud mengeneralisir para dosen kini berlomba-berlomba melakukan publikasi di jurnal terindex Scopus hanya demi prestise dan rating, serta getol melaksanakan pengabdian demi nominal bukan lagi karena values. Apakah penelitian atau pengabdian yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (grassroots)? Itu tidaklah penting! Karena pada akhirnya eksistensi akan mengalahkan esensi.

Waktu untuk pengajaran tergerus oleh prestise penelitian dan pengabdian. Imbasnya adalah kampus terlihat kesulitan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kampus sejatinya menjadi tempat mengasah kreativitas mahasiswa. Tempat di mana mereka belajar soft skills seperti teamwork dan leadership skills, belajar membangun networking serta belajar menjadi pribadi yang cakap, kreatif, terampil, dan mandiri. Sehingga kelak mereka akan mampu mengambil peran dalam meningkatkan kualitas peradaban bangsa melalui ide-ide serta gagasan-gagasan besarnya.

Problematika Perguruan Tinggi

Tentu tidak fair rasanya jika melihat persoalan ini hanya dari satu sisi mata uang saja. Fenomena ini tidak terlepas dari tuntutan universitas dan pemerintah yang tertuang dalam bentuk akreditasi universitas. Akreditasi kini menjadi kiblat utama setiap universitas. Ia menjadi legitimasi prestasi sebuah universitas. Seolah ia menjadi jaminan kualitas pendidikan yang kelak akan mampu memperbaiki kualitas peradaban bangsa. Sehingga semua yang dosen dan tenaga kependidikan kerjakan harus berefek kepada peningkatan akreditasi universitas. Prosesnya seperti apa tidak lagi menjadi konsen utama karena yang terpenting adalah hasil akhirnya yaitu universitas harus berakreditasi A. Akreditasi A akan menjadi modal besar bagi universitas dalam mengiklankan dirinya kepada para calon mahasiswa baru. Alhasil ini semakin menguatkan asumsi publik selama ini bahwa kampus tidak lagi menjadi tempat lahirnya narasi-narasi besar untuk pembangunan bangsa, melainkan menjelma menjadi sebuah pabrik dengan profit-oriented.

Sehingga tidaklah aneh jika kualitas pendidikan bangsa tetap saja stagnant dan terasa enggan move on meskipun universitas dengan akreditasi A telah menjamur di seluruh penjuru negeri. Oleh karena itu menarik rasanya melihat salah satu terobosan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dengan jargon Kampus Merdeka-nya. Di mana salah satu poinnya menitikberatkan pada proses re-akreditasi perguruan tinggi yang akan bersifat otomatis dan sukarela. Dengan demikian dosen tidak lagi disibukkan dengan proses adminstratif yang menyangkut dengan borang akreditasi, sehingga diharapkan akan lebih fokus dalam menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik.

Penting bagi setiap kampus untuk mengembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban bangsa. Membangun bangsa dari kampus adalah sebuah narasi yang harus diusung, didukung dan diwujudkan bersama-sama oleh seluruh insan kampus. Untuk mencapai hal tersebut, kampus haruslah terbebas dari belenggu budaya feodal. Di mana mahasiswa masih ketakutan yang berlebihan kepada dosen, dosen kepada pimpinan, dan pimpinan kepada penguasa. Kampus harus mampu mengayomi semua unsur di dalamnya. Menjadi ‘rumah’ bagi semua ‘warna’. Menjadikan perbedaan itu sebagai sumber kekuatan dalam membangun kampus dan memperbaiki wajah pendidikan. Sebagaimana motto yang selalu didengungkan yaitu Bhineka Tunggal Ika.

 
Memiliki Growth Mindset

Para insan kampus haruslah memiliki mindset yang tumbuh (growth mindset). Mindset untuk terus berbenah memperbaiki kualitas. Terbuka terhadap kritik dan masukan. Terus mengupgrade keilmuan intelektual dan emosionalnya agar mampu menjadi pribadi yang berkarakter. Meminjam istilah Steve Jobs setiap kita harus selalu ‘Stay hungry. Stay foolish’. Sehingga akan selalu ada ruang perbaikan dan tidak mudah berpuas diri.

Jika tidak, maka siap-siap untuk tergilas oleh perkembangan zaman. Ibarat besi yang hanya bisa dihancurkan oleh karatnya sendiri, maka kita pun kelak akan dihancurkan oleh mindset kita sendiri. Sebagai seorang akademisi, tentu kita tidak boleh menjadi seperti gelas yang tertutup. Karena jika dibiarkan terlalu lama, maka air yang ada di dalamnya akan keruh dan tidak lagi mampu memberikan manfaat bagi sekitar.  

Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap insan akademik untuk menjadi pribadi yang open-minded dan bermindset tumbuh. Sehingga dengan demikian narasi membangun peradaban bangsa dari kampus bukanlah sebuah angan belaka melainkan sebuah keniscayaan. InsyaAllah![]

*Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Samudra dan Mahasiswa PhD di The University of Adelaide, Australia.

KOMENTAR FACEBOOK