Rafly, dari Ganja Sampai Asa Merajut Rindu

Rafly, seniman Aceh dan anggota DPR RI Fraksi PKS di Senayan. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Laporan Muhajir Juli

Di lantai dua yang didesain serupa balai-balai, yang disebut oleh Rafly sebagai tempat merajut rindu dan menjalin cinta, kami bertemu. Di sandaran kursi model minimalis, saya menyangga punggung yang akhir-akhir ini seringkali terasa lelah. Tak terasa, diskusi ringan yang kami awali pada pukul 10.00 WIB, baru berakhir pukul 15.00 WIB. Tentu setelah saya berkesempatan menonton sang penyanyi bersuara empuk itu, “konser”.

Setelah subuh, Selasa (18/2/2020) saya mengirim link cerpen: 1000 Tahun Keangkuhan, ke WhatsApp Rafly, anggota DPR RI, yang bermukim di Banda Aceh. Tidak lama kemudian dia membalas WA. Kami chat sebagai awalan ramah-tamah pagi. Dia mengira saya masih bermukim di Bireuen. “Nanti pada tanggal 21 Februari (sore) saya ada di Bireuen. Kita ngopi di sana.” Demikian kira-kira pesan WA yang dia kirim. Begitu tahu saya sudah lumayan lama bermukim di Banda Aceh, segera saja diajak bertemu di rumahnya.

Pertemuan kami tidak privat. Lantai II rumahnya berupa “paviliun” umum yang memiliki kamar mandi, kamar tidur, aula sekaligus petilasan yang didesain minimalis. Juga dapur lajang yang memiliki mesin kopi espresso.

Saya menyimak dengan seksama. Baru saja hendak menaruh pantat di kursi, Rafly segera menyambut tamu lainnya. Seorang lelaki lulusan luar negeri, yang setelah kembali ke Aceh membangun bisnis eksport kopi.

Lelaki penyundut kretek putih itu mengadu ke Rafly tentang kendala infrastruktur pemerintah, yang tidak dapat menjadi pendukung bisnis yang dia geluti. Salah satu perihal dia sampaikan tentang tidak layaknya gudang di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM).

“Pihak maskapai yang menjadi calon rekanan saya untuk mengirim kopi ke Taiwan, menolak gudang SIM Airport sebagai tempat penyimpanan kopi saya. Mereka mengatakan tempat itu tidak layak dan mereka tidak mau mengorbankan citra perusahaannya. Mereka takut barang yang disimpan di sana akan rusak,” ujar sang pengusaha.

Dia juga mengaku sudah menghubungi maskapai plat merah Indonesia. Tapi pesawat itu tidak memiliki fligh ke kota tujuan eksport di Taiwan.

Sang politisi mendengar dengan seksama. Pengusaha itu kembali mengadu. Tentang sistem perbankan syariah yang sedang digalakkan di Aceh, membuat urusan keuangan dengan bank di luar Aceh dan internasional menjadi ribet. Urusan bisnisnya yang membutuhkan pergerakan uang dalam jumlah besar dan cepat, menjadi terganggu.

Sepertinya konsep bank syariah belum kompatible dengan dunia usaha yang memiliki jaringan antar negara, bukan antar kecamatan di Aceh.

“Fasilitas di Aceh belum seirama dengan janji Pemerintah Aceh yang mengaku menggalakkan investasi. Kami yang di sektor ekspor impor dibuat kelimpungan. Semua masih amburadul. Akhirnya, bila tak ada solusi, semua akan kembali menempuh jalur Medan (Sumut),” keluhnya.

Seorang staf, mencatat keluhan-keluhan itu di buku catatan. Dia mendengar dengan seksama apa saja yang dibicarakan. Tentu tidak semua dicatat. Dia hanya merangkum kesimpulan-kesimpulan dari pembicaraan.

Belum selesai sang pengusaha mengadu, seorang petugas PDAM Tirta Daroy datang. Rafly mengadukan soal air baku yang mengalir ke rumahnya, kualitasnya sangat buruk. Keruh. Rupanya, bukan hanya di rumah Rafly, beberapa orang lainnya juga mengeluhkan kondisi yang sama. Bahkan ada daerah di Banda Aceh, yang air PDAM mengalir pada waktu tertentu saja. Itupun masih harus disedot dengan bantuan pompa air. Biaya dua kali lipat. Bayar tagihan air–kadang tagihan angin, juga tagihan listrik.

“Aceh kaya. Banda Aceh kaya. Tapi persoalan air bersih saja tidak kunjung selesai,” kata Rafly. Ia terlihat prihatin.

Beberapa orang tertawa. Entah apa yang ditertawakan. Mungkin sedang menertawakan Aceh yang anomali. Syariat tanpa air bersih. Seperti cinta yang tak menemukan hati untuk berlabuh. Ibarat gayung yang tak bersambut.

Ganja Aceh yang Luar Biasa

Topik berpindah ke persoalan ganja. Saya menyentil sedikit tentang aksinya di DPR RI yang menyampaikan wacana legalisasi ganja untuk industri. Ide Rafly membelah publik. Ada yang sepakat. Tidak sedikit pula yang mendukung. Ide Rafly kemudian dibahas secara luas. Televisi, media online, media cetak, medsos, semua membahas itu. Juga di ruang publik seperti warung kopi. Rafly dinilai nakal. Sebagian lain menilai sang seniman sebagai politisi banyak akal. Punya segudang ide untuk memberikan orientasi baru melihat peluang ekonomi baru. Minimal orang akan kembali melihat ke Aceh. Walau di dalam proyek-proyek besar APBN tahun 2020, Aceh tidak lagi masuk dalam daftar.

“Kekuataan ganja, bisa menyaingi migas. Bila dikelola dengan baik, maka ke depan, pendapatan negara dari sektor ini akan sangat luar biasa. Serat ganja sangat bagus. Apalagi khasiatnya untuk obat-obatan. Di Aceh ganja akan tumbuh subur,” kata Rafly.

Diskusi tentang manfaat ganja tidak boleh selesai. Demikian ia menyampaikannya. Wacana ini harus terus berada di ruang dialektika ilmuan, agamawan dan publik. Karena manfaat ganja jauh lebih besar ketimbang efek nge-fly-nya.

Tentu, menjadikan ganja keluar dari stigma buruk masih butuh waktu. Semua pihak harus digandeng untuk membicarakan ini. Tidak boleh di-bypass begitu saja. Karena sistematika dunia bisnis sudah terbentuk sangat lama, jauh sebelum Indonesia ada.

“Semua stakeholder wajib diajak diskusi. Mereka harus diyakinkan bahwa kehadiran ganja di dalam komoditi legal, tidak akan merusak bisnis siapapun. Semua akan untung. Salah satu pihak paling penting yang harus diyakinkan adalah para taipan besar Indonesia. Karena jejaring bisnis dunia ada di tangan mereka. Dengan pemain besar jangan coba-coba bersaing. Tapi berteman. Menjadi mitra. Agar tidak ada yang saling menikam,” kata saya. Rafly manggut-manggut.

Kami semakin dalam berdiskusi tentang ganja dan peluang menjadi sumber ekonomi [besar] yang baru bagi Aceh. Tak terasa jarum jam terus berputar. Kami belum beranjak.

Muara Rindu Sesama Aceh

Aceh yang kaya, Aceh yang besar di masa lalu. Bahkan Aceh yang kembali dikenal dunia setelah gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, dengan banyaknya negara dan NGO yang urunan membantu rehabilitasi dan rekontruksi Aceh, ternyata belum menjadi pelecut bagi orang Aceh, termasuk elitnya, untuk meniakkan etos kerja membangun Serambi Mekkah.

Dengan dana yang sangat banyak pasca konflik, bahkan untuk urusan ketersediaan air bersih saja, Aceh belum mampu. Di semua kabupaten dan kota, termasuk Banda Aceh yang merupakan gerbang Aceh di mata dunia, ketersediaan air bersih masih menjadi problem utama. Padahal, sumber air baku melimpah di Aceh.

Menurut Rafly, elit di Aceh masih saja gemar jalan sendiri-sendiri, dengan gagasan masing-masing yang satu dengan lainnya tidak saling terintegrasi. Terpecah dalam ragam ide dan program. Di dalam politik, orang Aceh masih saja gagal menjadikan partai-partai sebagai terminal untuk berpikir bagi kemajuan Aceh. Faksional partai justru menjadikan politisi Aceh terperangkap dalam sensasi sesaat, dan melupakan kepentingan Aceh yang selalu dijanjikan di atas panggung kampanye.

“Kita belum menemukan muara rindu. Kita belum mau menautkan cinta di dalam kasih sayang Aceh. Kita terpisah oleh politik. Terpisah oleh asal muasal kabupaten. Kita sangat primordial dalam bersikap,” kata Rafly.

Kenduri Kebangsaan yang digagas Forbes Aceh di DPR RI dan akan digelar di sekolah Sukma Bangsa, Bireuen, Sabtu (22/2/2020), merupakan salah satu upaya untuk menautkan rindu keacehan. Mengikatkan cinta yang telah lama diabaikan. Mengekalkan kasih sayang yang telah ribuan purnama tidak dipedulikan.

“Oleh sebab itu, kami mengajak Pak Surya Paloh untuk menyatukan kegiatan di Sukma Bangsa, ke dalam sebuah silaturahmi Aceh yang kami sepakati dengan nama Kenduri Kebangsaan. Pak Surya Paloh sepakat. Bireuen akan menjadi saksi atas hajatan cinta dan rindu tersebut,” ujar Rafly.

Pertemuan kami, berakhir pukul 15.00 WIB. Tentu sebelumnya Rafly sempat menggelar “konser eklusif” untuk kami yang ada di sana. Sekitar enam lagu sempat ia dendangkan. Tentu lagu-lagunya yang hits dan dua lagu musisi Indonesia lainnya.

Suara Rafly ketika sedang bernyanyi, sempat melemparkan saya ke masa lalu. Saya seakan-akan tersihir untuk kembali ke masa di mana Aceh sedang dihumbalang konflik bersenjata antara GAM dan RI, yang telah meniadakan kemanusiaan. Perang yang telah melahirkan kebidaban-kebiadaban yang dilakukan oleh pelaku perang.

Nyaris saja saya menangis ketika Rafly mendengarkan lagu Aneuk Yatim. Saya yang duduk bersila di lantai, terpaksa menunduk. Sekuat mungkin menahan agar air mata tidak tumpah di sana. Saya berhasil menipu otak agar tak terpengaruh.

Tapi, lagu itu kembali mengorek luka lama.Tentang seorang kenalan yang tak temukan tidak lagi bernyawa di sebuah tempat di Bireuen, setelah dilaporkan hilang di pengungsian. Lelaki itu seusia saya. Atau setidaknya lebih muda dua atau tiga tahun. Dia tipikal anak Aceh secara umum. Pendukung GAM fanatik. Jenazahnya ditemukan dengan perut terburai. Saya masih ingat ibunya tiada kuasa membendung tangis, ketika melihat sang buah hati bersimbah darah. Lelaki muda malang, yang hanya dukungannya untuk perjuangan GAM, dieksekusi di lapangan, tanpa pernah dihadapkan ke pengadilan.

Lagu itu juga memaksa saya mengingat kembali tentang kisah dua anak yatim, yang harus melihat jenazah ayahnya tanpa kepala. Bocah yang belum genap 10 tahun kala itu, memandang dengan mata tak berkedip, ketika orang kampung menggotong tubuh sang kepala keluarga, masuk ke dalam rumah untuk terakhir kalinya.

“Mak, pakon Ayah, Mak?” tanya sang anak polos. Hati saya semakin hancur, karena saat ini, anak tertua dari kombatan tersebut, hidup dalam kesusahan, tidak sekolah tinggi dan bekerja serabutan. Dia orang kampung saya. Satu lorong dengan rumah tempat saya dilahirkan, di Teupin Mane, Juli, Bireuen.

Akh, saya benar-benar tidak bisa menikmati lagu itu. Karena tiap liriknya memaksa saya harus menderita. Mengenang hal-hal pahit yang seharusnya sudah saya lupakan.

***

Rafly masih saja seperti dulu. Masih mencintai Aceh dengan jiwanya. Setidaknya lirik-lirik lagunya menunjukkan itu. Akankah kehadirannya di Senayan akan membawa warna baru? Akankah ia akan bekerja keras menautkan kerinduan kepada yang lain? Semoga saja ia tetap seperti apa yang ia sampaikan kepada saya. []

KOMENTAR FACEBOOK