Elit Aceh & Politik Saling Jijik

Ekonom Aceh Rustam Efendi. [Ist]

Oleh Rustam Effendi

TERKADANG, yang menghadang keberhasilan proses pembangunan sebuah daerah itu bukanlah hanya terkait dengan keterbatasan anggaran. Banyak daerah yang anggarannya terbatas tapi bisa membangun daerahnya secara mengesankan. Lihat saja, tidak banyak daerah di tanah air ini dikucuri anggaran yang melimpah semisal dana otonomi khusus yang diterima Aceh.

Meski terbilang banyak jumlah anggaran pembangunan yang dikelola saban tahun oleh Aceh, masih banyak isu krusial yang belum mampu dituntaskan. Lapangan kerja yang tersedia masih minim. Akibatnya, jumlah penduduk yang menganggur dan hidup di bawah garis kemiskinan masih juga dominan. Mengapa ini terjadi?

Satu sisi yang sangat penting, walau sifatnya (mungkin) non teknis, ialah tidak sinerjik dan kurang harmonisnya hubungan sesama elit. Seringkali terjadi tarik-menarik antar sesamanya. Entah disengaja atau tidak. Atau mungkin, sedang berpura-pura, sesama elit senang atau suka “dawa-dawa”, dan jarang rukun.

Terkesan, para elit enggan menciptakan hubungan yang sinerjik, apalagi harmonis. Amat mudah merasa jijik antar sesamanya. Padahal, sinerjitas itu kekuatan dan punya daya dorong yang kuat dalam proses kita membangun daerah.

Lihat misalnya, bupati jijik pada wakil bupati. Wakil bupatinya jijik pada bupati. Wakil bupati jijik pada sekda. Sekdanya jijik pula pada kadis-kadisnya. Kadis pun jijik juga pada kabid-kabidnya. Begitu seterusnya, jijik-jijik itu terimbas hingga pada level paling bawah, yaitu gampong. Keusyik merasa jijik juga pada kadusnya.

Sejauh yang saya amati, inilah kekurangan utama kita. Sangat sulit membangun sinerjitas. Lebih senang membuat suasana menjadi kurang harmonis.

Mengapa bisa begitu?

Salah satunya, para elit zaman “now” lebih suka berkomunikasi lewat surat. Mereka kurang suka bertatap muka, tak mau bicara dari hati ke hati. Mestinya, tiap ada masalah mereka bisa duduk bersama sambil sarapan pagi, atau ngopi, diselingi roti selai samahani, atau mie caluk pidie, atau Kuah beulangong ditambah ayam tangkap Lem Bakri.

Dulu, seingat saya. Sekitar awal Tahun 1980-an hingga 1990-an, para elit kita senang berkumpul atau bertatap muka. Setiap ada masalah daerah selalu dibicarakan dengan saling bertemu muka satu sama lain. Baik di pendopo, meuligoe, balee, atau di warung kopi. Lewat cara ini, semua persoalan dapat dibahas dan dicarikan jalan keluarnya. Jarang sekali mereka berbalas pantun lewat surat-menyurat. Malu sekali rasanya mereka jika masyarakat sampai tahu soal “tetek-bengek”, apalagi hanya terkait dokumen anggaran yang sesungguhnya itu memang punya rakyat, bukan semata milik para pejabat.

Pada masa-masa itu jarang kita dengar soal jijik menjijik sesama elit. Masing-masing punya kharisma dan wibawa. Mereka saling menghargai satu sama lain.

Nah, ketika sekarang muncul saling jijik menjijikkan, apalagi sampai berbalas pantun lewat surat menyurat, kita pun bingung dan seakan merasa seperti putus urat. Lebih kacau lagi, ada pula perasaan jijik itu ditunjukkan dengan saling tinju-meninju satu sama lain. Persis sudah seperti arena laga saja.

Sebaiknya, marilah kita hemat tenaga. Tak perlu buang enerji dengan menghabiskan enzim hanya demi jijik-menjijikkan satu sama lain. Membangun itu butuh kekuatan, dan itu hanya didapat lewat sinerjitas.

Jagalah kelebihan energi yang ada. Tak perlu membuangnya dengan sia-sia. Tak perlu banyak meneken surat, apalagi mesti membuangnya dengan meninju orang lain. Jika pun mau, tinju saja pohon pisang yang ada di belakang rumah.

Kuala Lumpur, 20 Februari 2020.

Penulis adalah ekonom Aceh, juga akademisi Univeraitas Syiah Kuala.

KOMENTAR FACEBOOK