Menuju IAIN Meulaboh Sebagai Gerbang Moderasi keislaman di Barsela

Muhajir Al-Fairusy, akademisi STAIN Meulaboh. [Ist]

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Kota Meulaboh sebagai ibukota Aceh Barat menjadi lokus strategis sebagai jalur lintasan kawasan Barat-Selatan Aceh. Saban hari, lalu-lalang disertai dengung mesin kendaraan yang melintasi kota bersejarah ini tak pernah berhenti keriuhannya. Penanda Meulaboh memang strategis sebagai lintasan utama kawasan Barat-Selatan Aceh. Sebuah Mesjid Agung dengan ciri warna gelap kemerahan berdiri kokoh sebagai penegas jati diri keyakinan masyarakat Johan Pahlawan. Meulaboh dan Aceh Barat ikut mewarnai narasi sejarah panjang perjalanan Aceh, mulai dari Kerajaan Aceh Darussalam, peperangan era kolonial Belanda hingga pasca-kemerdekaan. Berkat orang-orang dari Peureumbue lah, kemudian sebagian masyarakat Nias beragama Islam di era Kerajaan Aceh Darussalam.

Tak hanya itu, beberapa tokoh penting Aceh lahir dari sini, sebut saja Teuku Umar yang kerap disandingkan dengan kisah Arupalaka, karena strategi perang yang dimainkannya sempat bersekutu dengan Belanda, namun kemudian memanfaatkan taktik tersebut sebagai modal menyerang kembali kekuatan kolonial. Kini, Teuku Umar menjadi ikon tersendiri dalam setiap baris cerita sejarah keacehan, keberaniannya hingga kopiahnya yang dikenal dengan istilah kupiah meukeutop karena memiliki ciri tersendiri, bertransformasi menjadi simbol identitas primer bagi Aceh.

Tidak hanya kisah Teuku Umar dan cerita heroik secangkir kopi yang selanjutnya dikenang sebagai ngopi paling bersejarah melawan kolonial, Meulaboh sebagai titik pertemuan ragam etnis juga menyimpan cerita budaya yang menyebar di setiap pemukiman penduduknya. Sebut saja kisah Dalupa yang baru-baru ini kembali ditulis dan dipopulerkan oleh antrhopolog sekaligus pegiat budaya Riau Marhalim Zaini, sebagai bentuk kesenian lokal yang mengisahkan awal perkembangan Islam di kawasan Barat Aceh.

Sebagai salah satu kabupaten yang kental dengan tradisi adat istiadat, Meulaboh juga dikenal dengan kentalnya peringatan tradisi ritual lingkaran kehidupan, mulai dari lahir hingga kematian. Bahkan, di sini, kenduri empat puluh hari kematian pun tetap diperingati lazimnya ritual puncak lainnya. Kondisi ini menunjukkan betapa masyarakat Aceh Barat memiliki keterlekatan dengan tradisi budaya lokal yang amat pekat, pada saat yang bersamaan di beberapa tempat lain di Aceh ritual perayaan hari tertentu mulai kabur, justru di sini tetap mengental.

Laju zaman dan perubahan sosial telah mendorong Meulaboh terus menyesuaikan diri agar tak tertinggal dari gerbong lokomotif global. Meulaboh bukan lagi sebatas kota transit, di sini telah berdiri tiga kampus negeri. Dua di bawah payung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan satu di bawah payung Kementerian Agama yang berada dalam satu Komplek Pelajar dan Mahasiswa di Alue Peunyareng namun sering diucap dengan kata “Alpen.” Jika dahulu pilihan masyarakat Barat-Selatan melanjutkan perkuliahan berlebel negeri hanya ke Banda Aceh, kini Kota Meulaboh menjadi salah satu alternatif dalam rangka menempel gelar sarjana bagi para scholar. Tentunya, gelombang mahasiswa yang datang ke Meulaboh secara tidak langsung ikut mendongkrak aktivitas ekonomi setempat.

Tak hanya institusi pendidikan tinggi, beberapa industri pabrik dan perusahaan besar ikut mengepakkan sayapnya sebagai sinyal kota ini sedang tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih riuh dan padat dengan aktivitas. Tak pelak, jika kemudian gelombang umat manusia dari berbagai latar berduyun-duyun memasuki gerbang Kota Meulaboh untuk menjadi bagian dari transformasi yang sedang berjalan.

Cita-Cita Pendidikan Tinggi Islam Negeri di Kota Meulaboh

Sebagai lumbung dan pusat sejarah peradaban Islam di Nusantara, Aceh memang dikenal memiliki semangat menggebu-gebu membangun identitas keislamannya. Kondisi ini dibuktikan dengan menjamurnya institusi pendidikan yang berafiliasi pada Islam terutama dayah, sejak dahulu. Selain dayah, Perguruan Tinggi Islam di bawah payung PTKI baik negeri dan swasta juga terus bermunculan di negeri paling barat Sumatera ini. Setidaknya, kini Aceh punya lima kampus PTKIN dan 35 (tiga puluh lima) kampus PTKIS di bawah Kopertais V. Artinya, jumlah Perguruan Tinggi Islam di Aceh mengalahkan jumlah kabupaten/kota secara kuantitas di Aceh. Dalam konteks industri, kondisi ini wajar jika dilihat dari paradigma pasar, bahwa pendidikan merupakan salah satu bagian dari “industri” yang bermartabat.

Salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri ada di Kota Meulaboh yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh yang disingkat dengan STAIN TDM. Sejak dilahirkan oleh para penggerak pendidikan setempat tahun 1984, Perguruan Tinggi Islam ini terus berbenah dan sah menjadi Perguruan Tinggi Islam Negeri pada tahun 2014. Maka, jadilah STAIN TDM sebagai satu-satunya kampus PTKIN di daerah delapan kabupaten-kota kawasan Barat Selatan Aceh. Pengadaan Sumber Daya Manusia melalui seleksi jalur CPNS dan Non-PNS dari latar disiplin pendidikan beragam menjadi prioritas, guna menjadi amunisi yang dapat menggerakaan kampus ke arah bermartabat secara akademik.

Tentunya, tak berhenti pada pemenuhan SDM Dosen, STAIN TDM kini terus merintis jalan diplomasi, termasuk kerja mengubah bentuk lembaga menjadi IAIN Meulaboh.

Bagaimanapun, keberadaan nama IAIN menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi civitas akademika di bawah PTKIN, selain upaya mendongkrak animo masyarakat untuk melanjutkan kuliah disertai pengayaan program studi yang melahirkan ragam pilihan bagi peminatnya. Apalagi jika berubah menjadi UIN, maka kesempatan membuka jurusan studi-studi strategis kian terbuka lebar. Namun, arah menuju UIN tentu harus mengikut penguatan kapasitas dan pendisiplinan diri yang ketat pada akademik di internal kampus. Satu hal yang harus dipahami, keberadaan PTKIN di Barat Selatan tentu akan menjadi corong produksi keilmuwan yang dapat membongkar dan menambah khazanah studi keislaman dan kearifan lokal setempat. Bagaimanapun, upaya perubahan bentuk dari STAIN menuju IAIN Meulaboh tentu harus direspon dan didorong bersama oleh segenap perangkat elit di kawasan Barat-Selatan Aceh. Tentunya, IAIN Meulaboh akan menjadi ikon bagi kebangkitan dunia pendidikan keislaman di kawasan ini.

Memahami Makna IAIN Meulaboh

Mungkin, pengucapan IAIN Teungku Dirundeng Meulaboh terlalu Panjang, maka saya singkat menjadi IAIN Meulaboh. Pun, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh yang kerap disingkat dalam pengucapan dengan “STAIN Meulaboh” oleh masyarakat merupakan satu-satunya kampus PTKIN berstatus negeri di kawasan Barat-Selatan Aceh. Secara geopolitik Aceh kawasan ini disingkat dengan istilah Barsela, kawasan yang mencakup delapan kabupaten/kota di Aceh di bagian Barat dan Selatan. Secara topografis, kawasan Barsela diapit oleh bentangan pantai yang indah hingga ke Kepulauan Banyak Aceh Singkel.
Jika ditarik secara geografis, pendistribusian PTKIN di Aceh, maka lintas Utara-Timur Aceh telah memiliki dua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang kini berbentuk IAIN, dan satu di wilayah tengah yang sedang menunggu SK dalam bentuk IAIN dari Kemenpan dan Kemenag tahun 2020 ini. Adapun di Banda Aceh sebagai pusat lokomotif Provinsi Aceh, IAIN telah lama menjadi UIN, yang kini kian diakui eksistensinya oleh masyarakat Aceh sebagai bagian upaya pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia ke arah yang lebih baik.

Adapun di Barat Selatan Aceh, PTKIN masih berstatus STAIN yang diapit oleh dua Perguruan Tinggi Negeri di bawah Kemendikbud yaitu UTU dan AKN dalam area komplek yang sama, seumpama Kopelma Darussalam yang menghimpun tiga kampus juga. Karena itu, upaya perubahan bentuk STAIN-IAIN menjadi keniscayaan jika dilihat dari letak dan fungsi ke depan. Artinya, IAIN dalam pandangan masyarakat Aceh yang kerap mengklasifikasi sesuatu dengan simbol kelas, dipandang sebagai institusi yang lebih baik selangkah secara hirarki sosial dibanding masih berstatus STAIN. Meskipun, pada dasarnya kultur institusi mungkin masih tetap sama, namun terjadi penambahan jumlah disiplin studi sosial dan keislaman jika berubah bentuk menjadi IAIN dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat dan civitas akademikanya.

Pun demikian, alasan paling mendasar bukan sekedar pada perubahan dan pemaknaan simbol yang lebih baik seiring perubahan bentuk STAIN-IAIN, melainkan bagian dari upaya peningkatan animo masyarakat memilih perguruan tinggi dengan identitas keislaman yang kerap diidentikkan dengan lebel nilai dan moral, pun seiring bertambahnya bidang studi yang dapat dipilih oleh para calon mahasiswa. Tak hanya itu, kerja-kerja akademisi pun akan terus dapat diperlebar, terutama dalam rangka membongkar dan mengkaji ragam peristiwa sosial dan kearifan lokal masyarakat khususnya di kawasan Barat-Selatan sebagai upaya pengayaan khazanah pengetahuan studi keislaman ke depan. Apalagi, sesuai motto Kementerian Agama, bahwa moderasi berbasis kearifan lokal harus terus ditingkatkan dalam rangka menjaga integrasi kebangsaan. IAIN Meulaboh tentu akan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa ke depan, terutama perannya menjaga eksistensi bangsa ini di bawah payung penyebaran nilai moderasi keislaman.

Mahasiswa doktoral UGM & dosen Antrhopologi STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

KOMENTAR FACEBOOK