[Cerpen]: Inkubator

Ilustrasi @tempo

Oleh Ahmadi M isa*

Persegi kecil di sekelilingnya tertata keramik putih. Bagian dalamnya dipenuhi bunga mawar yang kian memamerkan keindahan. Rumput-rumput kecil tumbuh di celah-celah keramik yang renggang. Dua batu yang sama besar terletak di ujung utara dan selatan. Di bagian utara terukir sebuah nama yang penuh kenangan. Nama yang indah seindah hati ini ketika menyambut tangisan pertamanya di bumi. Terpaan angin petang menyentuh wajah yang sedang terpaku, seketika terbawa kenangan bersamanya dua tahun yang lalu.

Siang itu…

Syukur dan senang membaur menjadi satu, ketika darah dagingku menjelma menjadi seorang bayi yang mungil. Menatap dunia dengan mata yang masih bening. Sesekali Mengeluarkan suara tangis seolah ingin mengabarkan bahwa ia telah lahir menjadi hamba. Tangan dan kakinya yang kecil bergerak ingin menyentuh bumi.

Segera kudekatkan mulutku ke telinga yang masih suci itu. Kubacakan kalimat-kalimat suci, kulantunkan ayat-ayat Ilahi. Hingga matanya meredup, suara tangisnya mulai lemah. Sebuah isyarat bahwa bayi kecil itu harus ditolong. Sampai akhirnya ia harus merasakan hangatnya tabung yang dilengkapi matras kecil.

Selang beberapa menit kemudian, salah seorang perawat mengisyaratkan kepada keluargaku untuk meninggalkan ruangan Perinatologi, hanya aku yang tetap boleh menemaninya. Tak lama berselang, salah seorang perawat yang perawakannya tampak sebagai kepala ruangan memangggilku menghadapnya. Setelah mendata kelengkapan administrasi untuk syarat rawat inap, wanita paruh baya tersebut tersenyum dan berkata:

“Bayi bapak ini lahir sebelum waktunya. Ia lahir tiga bulan lebih cepat dari prediksi kita, kalau istilah medis disebut bayi prematur.”

Setelah diam sejenak, ia melanjutkan.

“Mohon maaf, Pak, kondisi bayi sangat lemah, prediksi dokter bayi hanya mampu bertahan empat jam dikarenakan sistem pernapasannya belum terbentuk sempurna.”

“Bapak terus berdoa dan kami akan terus berusaha semaksimal mungkin.” Perawat itu mengakhiri pembicaraan.

Mata yang tadinya kering kini terasa ada butiran dingin di setiap ujungnya. Langit terasa runtuh menimpa jiwa yang dirundung pilu. Kutatap kembali tabung yang tadi, mata bening itu belum juga terbuka. Beberapa selang sudah melilit seluruh tubuhnya. Kupalingkan wajahku ke arah pintu, tampak beberapa anggota keluarga cemas seolah tak sabar menunggu kabar dariku.

Mata yang sembab tentunya sudah mewakili perasaan dan kabar yang ingin kusampaikan. Langkahku mengarah ke kamar di lantai bawah. Wanita hebat yang telah berjuang tadi masih lemah dengan selang yang masih menancap di lengannya. Namun bibirnya masih mampu bergerak dan terus bertanya, “Mana bayiku, mana anak kita…?”

Senyuman palsu terpaksa kupancarkan, seolah ingin memberi isyarat bahwa anak kami baik-baik saja. Nalurinya lebih peka, ia tahu anak kami tidak sedang baik-baik saja. 

Waktu terus berjalan meninggalkan jejak kesedihan dan kepedihan. Terus kami jalani mengikuti irama takdir Tuhan. Satu minggu sudah ia hanya menerawang ke arah luar melalui tabung sempit itu. Kuasa Tuhan melebihi tetapan manusia yang hanya empat jam. Saban hari kami mengunjungi mutiara kecil itu. Hanya beberapa saat matanya terbuka menyambut kedatangan kami. Bibir mungilnya tersenyum lalu mengatup kembali. Ia mencoba kuat di hadapan kami, namun kembali dalam kesakitan ketika kami pergi.

Tabung itu masih menjadi dunia baginya. Mata kecilnya menatap lirih ketika satu per satu kawannya dikeluarkan dari dalam tabung pengap itu. Ia hanya mampu menggerakkan sedikit tangan seolah meminta dikeluarkan dari tempat sempit ini. Ia ingin digendong ayahnya, ia ingin dikecup ibunya seperti kawan-kawannya yang lain. Belum pernah ia rasakan semenjak lahir ke dunia.

Kondisinya belum stabil. Kadangkala degup jantungnya kuat, kadangkala lemah. Terkadang ia mampu menggapai dinding kaca di sampingnya, terkadang pula ia hanya mampu menatap lewat lobang-lobang kecil di sisinya. Perjuangannya membuat kami bertambah yakin bahwa suatu saat ia akan keluar dari dunianya ini. Kami akan merangkulnya, kami akan memperkenalkannya ke dunia sesungguhnya, kami bersama-sama merawat dan menjaganya seperti orang tua lainnya. Ia akan mendapat kasih sayang sempurna dari kami orang tuanya.

Malam itu…

Tepat malam ke-25 ia bergelut di dunianya. Seperti biasa, aku menjenguknya dan menyapanya hingga ia membuka mata. Di balik matanya yang masih bersinar tampak ingin mengabarkan sesuatu yang akan ia hadapi beberapa saat nanti. Tiba-tiba monitor yang berada di dekatnya berbunyi tidak seperti biasa. Kedua matanya mulai meredup, bibirnya masih terlihat tersenyum, namun lama kelamaan hilang terganti dengan raut wajah kesakitan. Beberapa perawat bergegas masuk ruangan dan mengambil tindakan darurat. Untuk mempermudah mereka bertindak, saya diharuskan keluar dari ruangan.

Selang lima belas menit kemudian, salah seorang perawat menemui saya dan memberitahukan bahwa keadaannya mulai normal kembali. Namun, mereka tidak menjamin keadaannya tetap stabil untuk beberapa jam ke depan.

“Bapak terus berdoa memohon yang terbaik, kami di sini akan tetap berusaha.”

“Waktu berkunjung sudah habis, Bapak boleh pulang dan tolong handphone Bapak untuk selalu aktif apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kami bisa mudah menghubungi Bapak.”   

Mata ini tak mau terpejam, sesekali kuraih handphone yang tergeletak di sampingku. Seakan tahu bahwa malam ini atau mungkin sebentar lagi sebuah nomor masuk dan mengabarkan sesuatu yang buruk. Firasat itu selalu membayangi hingga mata ini mulai meredup ke alam tidur. Namun, tiba-tiba handphone di samping bergetar, firasat itu semakin dekat, terdengar suara di balik sana.

“Bapak, bisa tolong ke sini sebentar?”

Beberapa perawat telah mengelilingi tabung kecil itu dan sibuk dengan tindakannya masing-masing. Tampak di antara mereka dua orang lelaki paruh baya dengan stelan jas putih. Aku yakin itu adalah dokter yang ikut menangani bayi kecilku. Aku diperkenankan melihat wajahnya yang sedang berjuang menahan kesakitan. Seluruh tubuhnya sudah membiru, matanya sempat berkedip beberapa kali seakan mengetahui ada aku di dekatnya.

Tiit… tiit…

Tiba-tiba garis di monitor berubah pola menjadi lurus. Detak jantungnya berhenti, badannya kaku, dan matanya tidak berkedip lagi. Semua selang yang melilit di tubuhnya satu per satu ditanggalkan.

Rasa sakitmu sudah hilang, Sayang. Duniamu juga akan berubah, Sayang. Engkau akan dikeluarkan dari dunia pengapmu dulu. Engkau akan dibebaskan dari tabung hangat yang orang menyebutnya incubator. Kini, Abi dan Ummi sudah bisa memeluk dan mengecupmu. Tapi, hanya sebentar engkau bersama kami, selanjutnya engkau akan bersenang-senang dengan kawan-kawan kecilmu di taman surga. Tunggu dan halaulah kami kelak bersamamu, ketika kami akan menyusulmu.

Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut membuyarkan lamunanku. Jemarinya menyeka pipiku yang basah dengan air mata.

Aneuk kita sudah bahagia dengan dunia barunya di sana. Insyaallah tidak lama lagi kita akan menyambut titipan yang lain sebagai penyambung amanah Ilahi. Insyaallah jalan yang mempertemukan kita dengan kakaknya di surga.”[]    

Penulis adalah seorang tenaga pengajar dan penggiat sastra. Berdomisili di Pidie Jaya.

Editor : Ihan Nurdin